Rasulullah menyampaikan bahwa senyuman adalah sedekah. Kita barangkali mengira ini jenis sedekah yang remeh, ini pengalaman ketika ke Singapura...

Senyuman

Oleh: Fitriyan Zamzami

Imam Bukhari meriwayatkan, sekali waktu ada sahabat mendatangi Rasulullah dan menanyakan soal amalan paling baik dalam Islam. Rasulullah menjawab, "Memberi makan (orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali." Dalam riwayat lainnya, Rasulullah menyampaikan bahwa senyuman adalah sedekah. Kita orang barangkali mengira ini jenis sedekah yang remeh. Ijinkan saya cerita sedikit.

Saya ingat pertama kali menginjakkan kaki di luar negeri pada awal 2000-an. Kala itu saya sama adik perempuan berdua saja menyeberang ke Singapura dari Batam. Kita orang dengar-dengar barang elektronik di toko sebelah itu murah-murah, jadi apa salahnya lihat-lihat?

Kami berangkat ke negeri orang itu dengan bersemangat. Tapi keluar dari pintu kedatangan pelabuhan sebelah, wallahi saya merasakan sejenis ketakutan yang belum pernah saya rasakan. Ia semacam ketakutan yang muncul saat terperangkap di ruang sempit, menyesakkan dari segala sisi. 

Mulanya saya tak paham dari mana kepanikan itu datang. Sekian waktu baru saya sadari, tak ada satupun manusia yang tersenyum di negara kecil itu. Tak ada yang menyapa, atau bahkan sekadar menengok. Supir bus dan taksinya lempeng-lempeng saja, pedagang juga melayani seurusannya saja. Bukan artinya mereka bukan orang baik, saya ingat seorang perempuan baik hati yang menolong kami membayar bus dengan recehan punya dia pun tak sekalipun tersenyum.

Seumur hidup saya, dimanapun tinggal, tak pernah mengalami demikian. Di Papua, engkau akan selalu disapa warga tempatan terlebih dulu. Dengan atau tanpa tersenyum, mereka duluan yang akan bilang "Selamat Pagi, Siang, Sore, Malam". Di Yogyakarta, adalah semacam wajib engkau menyapa dengan mengangguk atau membungkuk sedikit pada warga setempat, yang hampir selalu dibalas senyuman. Di Batam, keras-keras begitu juga orang-orang masih tertawa. Di Jakarta belakangan, saya juga bertemu banyak sekali orang-orang yang sukar hidupnya tetapi masih manis sekali senyumannya. Ada satu anak kecil yang saya temui di Padang sehari setelah gempa besar, masih tersenyum menanyakan kabar saya meski rumahnya roboh kemarin harinya. 

Penelitian dari Gallup pada 2018 menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling murah senyum di dunia. Survei-survei serupa dari berbagai lembaga sigi juga selaku menempatkan Indonesia di puncak. Ini hal barangkali kita terima tanpa pamrih, tapi ternyata sangat unik. Ia membuat seantero arkipelago jadi seperti rumah sendiri. Saya belum pernah merasa terasing dimanapun di Indonesia, bagaimanapun suram kondisinya. 

Kembali ke Singapura, dengan ketakutan yang ndak jelas itu, saya akhirnya mau buru-buru pulang saja. Tak sampai dua jam kami di sana. Belakangan, kabarnya pemerintah setempat menyadari kondisi itu dan mulai menerapkan kebijakan-kebijakan yang mengesankan keramahan beberapa waktu belakangan. Saat saya kembali pada 2017 lalu, memang sudah sedikit lain kondisinya. 

Intinya, memberikan salam sapaan dan melayangkan senyuman yang tulus memang sedianya tak pernah sedekah yang sepele. Sebaliknya, ia kepunyaan kita yang berharga betul… dan tak seperti kepunyaan-kepunyaan lainnya, ia sama sekali tak berkurang saat dibagi. Dan bagilah, karena bisa jadi dengan laku sederhana itu, engkau sedang menghilangkan gundah di hati manusia. Seperti yang dibilang Rasulullah, ia adalah amal yang besar sekali…

(fb)