Orang Yang Telah Selesai dengan Dirinya

Telah Selesai dengan Dirinya?

Oleh: Kurniawan

Ungkapan judul diatas sering mengemuka ketika ada faktor kejut dalam perpolitikan Nasional. Misal, tokoh politik atau Kepala Daerah terjerat OTT korupsi dan sejenisnya.

Begitu pula peristiwa teranyar, lembaga Filantropi ACT menuai sorotan. Ungkapan agar hendaknya yang memimpin lembaga itu "orang yang telah selesai dengan hidupnya" -biar tidak terjadi penyelewengan-, kembali mencuat.

"Orang yang telah selesai dengan hidupnya". Digambarkan sebagai orang yang sudah mapan hidupnya, sudah kaya raya dan cerdas pula. Sehingga diprediksi ketika ia memimpin lembaga Politik, Birokrasi, Filantropi dan sebagainya, ia tidak akan berlaku korup.

Saya menggugat definisi ini dengan data nyata, bahwa jika ini definisinya, jauh panggang dari api dalam aplikasinya. Realita bicara lain. Belum hilang dari ingatan kolektif kita sebagai bangsa, seorang senator ber-aset 30M terjerat OTT justru karena pikatan uang 100 juta rupiah.

Seorang istri Walikota beraset puluhan Milyar, tersandung korupsi anggaran rumah dinas seratusan juta. Apakah para konglomerat hitam yang sekarang bertebaran di Singapura, dan luar negeri lainnya dengan membawa lari asetnya adalah orang yang belum selesai dengan hidupnya atau belum kaya?

Apakah para koruptor yang kini tengah mendekam di seluruh penjara di Republik ini, adalah bukan "orang yang telah selesai dengan hidupnya"? Jika memang seperti itu definisinya yang benar.

Saya tawarkan definisi lain yang lebih sesuai antara idealita dengan aplikasinya, realita. Bahwa "orang yang telah selesai dengan hidupnya" adalah bisa siapa saja, baik orang kaya maupun tidak. Yang punya prinsip: dunia, tidak lagi menjadi tujuan dirinya

Kita urut contohnya, mulai dari yang paling suci dan mulia, Nabi Muhammad SAW yang hari itu terlihat gelisah dan masygul. Ketika ditanya Ibunda Hafsyah RA, ada apa Ya Rosulullah? Jawabnya: uang kita yang tujuh Dinar, sudah tujuh hari berlalu belum sempat juga kita infakkan.

Para Khulafur Rasyidin, seperti juga Rosul junjungan mereka, bahkan ketika mereka meninggal dalam kondisi berhutang, di tengah kemakmuran rakyatnya. 

Makin kesini, Umar bin Abdul Aziz. Bangsawan dinasti Umayyah, di hari ia diangkat menjadi Khalifah ia segera menjadi "orang yang telah selesai dengan hidupnya". Ia campakkan semua fasilitas negara. Seluruh kekayaan diinfakkan ke negara. Ia hidup papa di tengah kemakmuran rakyatnya.

Ah, iyalah... itukan masa Nabi, sahabat, tabiin dan tabiiut taabiin. Kuda masih gigit besi. Sekarang kuda sudah gigit roti Bung! Baik, mari kita lanjutkan urutannya.

Haji Agus Salim, diplomat ulung, diakui Soekarno sebagai Grand Old man, diamini dunia. Sampai akhir hayatnya tak punya rumah pribadi, selalu mengontrak.

Bung Hatta, ketika menjadi Wakil Presiden, satu dari Dwi Tunggal. Suatu hari tertarik dengan iklan sepatu pada sebuah majalah, halaman iklan beliau robek dan ditempel di dinding ruang kerja, sebagai motivasi untuk menabung agar bisa membeli sepatu idaman. Sampai beliau mengundurkan diri, sepatu tak kunjung terbeli, ketika berpuluh tahun kemudian beliau wafat, lembaran iklan itu masih tersimpan di tumpukan kertas meja kerjanya.

Di masa Presiden Soeharto, Hoegeng. Jenderal Polisi bersepeda itu diturunkan mendadak dari jabatan tertinggi Kapolri dalam usia muda. Sepensiunnya, menghidupi diri dengan menyanyi dan melukis.

Orang seperti mereka sebenarnya ada pada setiap masa, baik dari kalangan kaya maupun tidak.

Hanya saja kita sebagai bangsa belum diberi Rezki oleh Allah SWT, Rezki dipimpin oleh orang seperti mereka. 

Tapi karena kita fokus pada definisi pertama maka kita abai memperhatikan potensi mereka. Mari kita tinggalkan definisi pertama itu, sebab pengalaman sudah menunjukkan bukti sekaya apapun ia, selama mindsetnya masih ke "dunia", ia tak akan pernah menjadi "orang yang telah selesai dengan hidupnya".

Tandanya memang ia orang bermasalah, dimanapun ia berada selalu bikin masalah dan tidak pernah menjadi "orang yang telah selesai dengan hidupnya". Di penjara, ia keluyuran juga (tertangkap kamera berulang kali), di penjara bukannya merenung menikmati hukuman dengan menghayati kehidupan serba terbatas, mencoba hidup papa. Eh malah menyogok sipir dan Kalapas, sel penjara disulapnya seolah kamar hotel bintang "enam". Kamar sel ber-AC, berpustaka, ber-alat gimnastic, hotel bintang lima saja tidak ada kamarnya yang seperti itu. Pokoknya dimana saja ia ditempatkan, bikin masalah.

Mari bro, sist, mumpung Belanda masih jauh. Picingkan mata, kasat dan bathin, cari calon pemimpin yang memenuhi kriteria definisi kedua. Insyaallah kita akan menemukan Indonesia yang berubah, bercita rasa tinggi, memuaskan hati nurani kita semuanya.

Masih ada waktu untuk merenung dan mengkajinya, cari alternatif sebanyaknya. Masak mau 290 juta orang calonnya cuma dua? Itupun kembali dari golongan cebong dan kampret? Timor Leste saja yang cuma 27 juta orang calon presidennya 16 orang. Ah, itukan negara kecil. Dari bagian kita, belum semakmur kita. Lah itu Perancis, jauh kuat dan kaya dari kita, 70 juta cuma penduduknya. Capresnya 12 orang. Banyak alternatif, banyak pilihan, semoga terpilih yang terbaik ..."orang yang telah selesai dengan hidupnya". Semoga.(*)