Membaca Bangunan Koalisi 2024

Membaca Bangunan Koalisi 2024

Oleh: Erizal

Masih akan ada peristiwa-peristiwa urgen dan krusial menjelang pemilu atau pencapresan tahun 2024. Peristiwa-peristiwa itu bisa jadi akan mengubah peta dan situasi, sebelumnya.

Alhamdulillah, sidang tahunan MPR tanggal 16 Agustus lalu berlalu tanpa interupsi. Berarti, satu momen untuk mengusulkan perubahan UUD juga berlalu. Ide presiden 3 periode pupus.

Tapi, penundaan Pemilu atau perpanjangan masa jabatan, termasuk Presiden Jokowi maju sebagai cawapres, masih mengintai. Apa-apa yang dirasa tak masuk akal, bisa jadi masuk.

Peta dan situasi saat ini memang tak sepenuhnya bisa terlepas. Selalu ada "benang biru" terhubung dan bisa diceritakan. Seperti sebuah bangunan, pondasinya mulai terlihat.

Harus diakui, rencana koalisi Gerindra-PKB lebih maju dibanding rencana koalisi PPP, PAN, dan Golkar. Rencana koalisi PPP-PAN-Golkar, lebih maju dibanding NasDem-PKS-Demokrat.

Sejauh ini, PDIP belum memperlihatkan arah ke mana akan berlabuh. Kendati bisa mengusung sendiri tanpa berkoalisi, PDIP agaknya juga tak mau sendiri. Tapi, siapa tahu? Di pilkada, mau.

Dari tiga poros rencana koalisi di atas, agaknya PDIP lebih mungkin bergabung dengan koalisi Gerindra-PKB dan PPP-PAN-GOLKAR, daripada poros rencana koalisi NasDem-PKS-Demokrat.

Tapi, mengatakan bakal ada empat atau tiga pasang capres-capresan memang terlalu pagi. Bahkan, dua atau calon tunggal pun masih mungkin. Kendati, poros koalisinya bisa empat.

Sebab, baru Prabowo yang hampir dipastikan bakal maju. Siapa pasangannya, masih misteri. Cak Imin masih mungkin. Sama-sama mungkin dengan Jokowi. Yang lain belum terlihat, meski disebut lembaga survei. Yang tak disebut bisa masuk seperti dulu Kiai Ma'ruf dan Bang Sandi.

18/08/2022

(*)