Tere Liye: China Pinter Ngakali

Pinter Ngakali

Kita asumsikan penumpang per hari adalah 30.000 orang. Maka setahun ada 10.950.000 penumpang. Kita asumsikan harga tiket Rp 150.000, maka setahun, pendapatannya adalah 30.000 x 365 x Rp 150.000 = 1,6 trilyun.

Berapa biaya membangun kereta cepat Bandung-Jakarta? 114 trilyun

Maka, berapa lama butuh balik modal dengan hanya dari tiket penumpang? 

Asumsi tidak ada biaya maintenance, tidak ada biaya karyawan, listrik, dll, 114 trilyun dibagi 1,6 trilyun, artinya 71 tahun.

Nah, rumus sederhana ini bahkan belum memasukkan, berapa bunga yg harus dibayar proyek ini ke China? Bisa 1 trilyun sendiri setahun. Mau rugi kek, mau untung kek, bunga pinjaman harus bayar. Maka itu pendapatan tiket, bahkan ngos-ngos-an buat nutup bayar bunga doang.

Berapa sih penumpang Argo Parahyangan tahun 2019 (sebelum pandemi), saat puncak2nya, ketika 38 kereta bolak balik Jakarta-Bandung? Hanya 18.000 penumpang per hari. 

Wow banget deh, bahkan kamu masukin asumsi penumpang Kereta Cepat 30.000 saja itu sudah amazing 'mark up'-nya. 

Ingat loh, Argo Parahyangan tiba di tengah kota keretanya (Gambir, dan Kebon Kawung). 

Kereta Cepat? Satu di Halim, satu lagi di Padalarang (Kabupaten Bandung Barat) atau Tegalluar (Kabupaten Bandung). Juauuh dari mana-mana. Siapa yg mau naik?

Seriusan deh, Kawan, dari hitung2an, susah masuk akalnya ini proyek. 

Bahkan dari angka2 asumsi yg sudah dinaikin setinggi mungkin saja susah. 

Masukan asumsi 60.000 penumpang per hari, tiket 1 juta, tetap susah, saat kamu masukkan bunga pinjaman, biaya operasional, dll.

Tapi kok China tetap maksa bangun? Memangnya mereka tidak tahu soal hitung2an ini? Simpel. China dapat keuntungan dari 2 hal: (1) Bunga pinjaman, (2) Biaya konstruksi.

Bagi China, mau hancur lebur ini proyek, mau rugi total, mau penumpangnya 1, dia tetap dapat pembayaran bunga pinjaman, dan dia juga dapat duit dari biaya konstruksi, material, tenaga kerja, dll. Dia sudah untung duluan.

Dan China genius. Dia tahu watak elit negara berkembang. Elit negara-negara ini kalau sudah terdesak, daripada malu, pasti dia talangin semua. Ngomong awalnya B to B (swasta), tapi pada akhirnya tetap negara yg menanggung biaya (APBN), subsidi dll. Elit-elit negara berkembang itu gayanya selangit, butuh nggak butuh, tetap bangun! Kerja, kerja, kerja.

Well, 3-4 tahun dari sekarang, kalian akan menyaksikan nasib kereta cepat ini. Apakah dia akan banyak penumpangnya, sukses, atau sebaliknya, sepi, dan pemerintah terus terpaksa mensubsidi biaya operasinya setiap bulan.

Ingat baik-baik, sebelum pandemi, saat penerbangan Jakarta (halim)-Bandung ada, tiket hanya 300.000-an. Kurang dari 30 menit, sampai deh. Naik pesawat sambil lihat pemandangan keren. 

Yakin, jika penumpang kembali normal, penerbangan ini akan kembali ada. 

Maka pesaing kereta cepat ini buanyak, mulai dari travel, mobil pribadi, kereta Argo Parahyangan, dan pesawat. 

Jadi kamu mau pasang tiket berapa biar menang? Stasiun cuma di Padalarang (Kabupaten Bandung Barat) atau Tegalluar (Kabupaten Bandung) kok gaya. 

Naik pesawat, tiba di tengah kota Bandung, loh.

Jangan anggap sepele soal ini kawan, 114 Trilyun duitnya! 

Dan itu belum menghitung pembengkakan berikutnya. 

Nanti kuaget deh tiba2 naik lagi.

(By Tere Liye)

*fb 16/7/2022