PUTIN & MOMENTUM HIJRAH

PUTIN & MOMENTUM HIJRAH

Oleh: Ustadz Rendy Saputra

Bukan cuma Jerman, hari ini satu Eropa terancam kedinginan.

Akar masalahnya pada perang Rusia dan Ukraina, yang sebenarnya adalah tantangan Rusia pada Blok Barat.

Supply gas utama itu dari Rusia, gak mau beli gas ke Rusia, atau Rusia yang ngambek gak mau kirim gas, akan mengganggu negara yang bergantung supply gas pada Rusia.

Gas itu bukan sekedar gas, susah orang tropis faham pentingnya gas.

Di bagian belahan bumi yang jauh dari Khatulistiwa, dingin itu membunuh. Air harus hangat, ruangan harus hangat, yang menghangatkan itu gas. Dahulu kayu bakar perapian.

Sebagian Eropa mulai terancam gelap. Kota Hanover sudah mulai memberlakukan mati listrik bergiliran. Negeri maju Eropa jadi mirip negara berkembang yang listriknya mati gantian. Mengerikan. Bukan cuma gelap, tapi ancaman mati kedinginan.

***

Akar semua ini sebenarnya ada di sikap Blok Barat sendiri. Menurut saya.

Studi Geo Politik mandiri yang saya lakukan, menunjukkan Putin ingin bergabung sama NATO di tahun 2000, masa jabatan Presiden Clinton. Clinton normatif membuka diri, tetapi Senat (Parlemen) dan lobi-lobi AS gak terima Putin join NATO. Tepatnya gak percaya sama Rusia.

Tahun 2000 Rusia babak belur paska pecah besar. Awalnya soviet, runtuh jadi negara miskin. Maka Rusia pengen kayak China yang merapat ke AS, dan maju. Tapi Rusia gak dikasih tempat.

Putin bukannya dirangkul, malah dipukul. Sejak itulah Putin akhirnya memilih sadar, kalo suatu hari dia harus berhadapan dengan front Barat.

Rusia tidak diperhitungkan, kekuatan ekonominya hanya sebesar negara bagian Texas. Maka gak ada seram-seramnya.

Namun front Barat lupa, kisah Daud dan Jalut. Bahwa baju besi dan basan besar, akan kalah dengan ketapel. Rusia berhasil memperkaya nuklir, dan hulu ledaknya siap diarahkan ke negara mana pun antar benua.

Perang kapal induk jadi tidak relevan. Banyak-banyakan tentara jadi tidak relevan. Mengapa Ukraina seakan perang sendirian, karena NATO pun punya perhitungan, gak akan siap jika Rusia tekan tombol nuklirnya.

Seseorang yang baik-baik mau gabung, malah dipukul dan disudutkan. Itulah Putin hari ini.

Satu Eropa terancam gelap dan dingin menusuk, karena sikap blok Barat sendiri.

Satu Muharam Momen Hijrah

Banyak saudara kita yang ingin hijrah, kembali ke Islam, kembali ke dakwah.

Saya ada santri yang keluar dari penjara, ya ahlan saja. Masa lalu ya masa lalu. Jangan sampai dipukul, nanti malah gelap dunia kita.

Saya ada santri yang dimusuhin satu circle. Gak punya teman dekat. Dianggap bermasalah. Daripada memvonis salahnya, lebih baik menyelami masalahnya, bantu selesaikan, bantu solusikan. Bukan malah dipukul, disudutkan.

Saya menemukan banyak saudara kita yang mau baik-baik bersahabat, mau baik-baik penuh adab gabung dakwah, tapi gak dikasih tempat, kesalahannya di amplifikasi, diputer puter narasi menyudutkan. Akhirnya jadi Putin, ngerepotin kita semua.

Momen hijrah ini harusnya kita belajar dari gelapnya Eropa, rangkul lah saudara kita yang mau join, sekelam apapun, sendablek apapun, se berulang ulangnya kesalahannya. Bukankah Allah saja mengampuni kesalahan HambaNya yang kembali, mengapa kita sebagai Da'i lebih merasa berhak kasih neraka ke saudara sendiri?

Momen hijrah, momen maknawiyah, jangan sampai cuma kasih sayang di lisan dan permukaan, tapi kita jahat sama orang, akhirnya kita hanya ciptakan Putin Putin yang baru.

Eropa menyesal hari ini, NATO menyesal hari ini.

Sikap NATO yang pasang taring di Ukraina untuk memprovokasi Putin dibalas dengan serangan deklarasi perang. TIDAK PERNAH DIPERHITUNGKAN EROPA, Rusia bakal begini.

Saudara kita yang mau hijrah, mau baik, jangan disudutkan terus, dipojokkan terus, rangkul saja. Agar kita semua gak repot di kemudian hari. Agar kita gak menyesal di kemudian hari. Kita gak pernah ngerti siapa yang lagi kita pukul....

(fb)