MEMBELA PESANTREN

MEMBELA PESANTREN

Oleh: Tsabit Abi Fadhil

Dampak buruk kasus-kasus pengcangbulan di Pesantren adalah menurunnya kepercayaan masyarakat ke institusi Pesantren.

Miris memang, ketika ada nila setitik yang pada akhirnya merusak susu sebelanga. Padahal sebenarnya kalau diprosentase Oknum pengcangbulan pesantren itu hanya 1%, bahkan mungkin 0,001%, diantara ribuan ponpes yang ada, ada berapa sih yang terlibat kasus pengcangbulan? Dan pesantren yang model gimana sih yang terlibat kasus itu? Dan tentu hal ini tidak bisa dipakai untuk alasan semua pesantren itu bermasalah kan..?

Jujurly, kasus di pesantren semacam itu, itu tidak ada apa-apanya dibanding kasus-kasus di luar Pesantren yang masyaAllah, freesieks, open BO, hongmo, penglecehan dan hal-hal buruk lainnya itu bukan lagi sebuah tabu diluaran pesantren, bahkan lebih parah lagi itu menjadi budaya yang dianggap biasa saja..

Betul, pesantren bukanlah institusi suci yang bisa 100% memproduksi manusia-manusia suci, akan tetapi kalau mau objektif peran pesantren dalam memproduksi manusia-manusia baik itu besar sekali. 

Ya, ibarat dalam satu tarangan sarang ayam tidak semua telur itu menetas dengan baik, satu dua telur tentu ada yang kuwuk, busuk.

Dan yang berkali-kali saya tekankan di banyak tempat dan waktu, kita harus selektif dalam memilih intitusi pendidikan untuk anak-anak kita, baik di pesantren maupun non pesantren.

Kalau di non pesantren saya kira peran besar yang perlu diterapkan adalah peran pendidikan dan kontrol dari orang tua, karena pada dasarnya non pesantren khususnya sekolah umum itu ya umum, bebas, dan kembali ke pribadi masing-masing, yang tentu pergaulan dan lingkungan sangat mempengaruhi.

Sedangkan di pesantren, yang perlu diterapkan adalah scaning penelusuran lebih dalam sebelum memasukannya ke pesantren itu, setidaknya:

(1) Selektif mencari pesantren setidaknya 1 tahun

(2) Sering-sering bertanya tentang kredibelitas pesantren-pesantren yang dituju, tinjauan utama yaitu dari sisi sanad, kealiman kiai, keamanan yang ketat, kurikulum yang  bagus, trackrecord pesantren, model pesantren, output alumni, dan kemasyhuran pesantren.

(3) Hindari pesantren-pesantren kecil yang tidak jelas, apalagi hanya kos-kosan bermodalkan plang papan nama pesantren yang ujung-ujungnya disuruh keliling kotak nginfaq dan jualan kalender. Pesantren kecil seperti ini potensi melakukan penyelewengan cukup tinggi,

Meski tidak semua pesantren yang jual kalender itu tidak baik ya..

(4) Kalau terpaksa ingin memasukan anaknya ke pesantren kecil, harus benar-benar scaning kiainya siapa, pendidikannya dimana, dan kredibilitas alim sholihnya bagaimana. 

(5) Jika memang kesulitan untuk melakukan scaning di atas lebih baik masukan putra putri kita ke pesantren-pesantren besar seperti Lirboyo, Sidogiri, Sarang, Dalwa, Temboro, Tremas, Tegalrejo dll yang sudah terbukti kredibelitasnya. InsyaAllah tingkat keamanannya dan keberhasilannya dalam memproduksi manusia-manusia baik itu cukup tinggi, bahkan sangat tinggi..

Saya tidak hendak mengkerdilkan pesantren-pesantren kecil yang sedang tumbuh berkembang ya, tapi saya hanya memberi gambaran agar wali-wali calon santri lebih berhati-hati saja karena pada faktanya kejadian-kejadian yang mencoreng nama besar pesantren itu dilakukan oleh oknum-oknum ponpes kecil.

Quote terakhir, memang betul Pesantren itu bukanlah lembaga yang bisa menjamin menjadikan manusia itu menjadi baik, akan tetapi Pesantren adalah salah satu lembaga terbaik dari yang baik baik.

Yuk Share sebanyak banyaknya..

Semoga bermanfaat.

(fb penulis)

Baca juga :