Kesimpulannya: SALAH URUS!

SALAH URUS!

Oleh: Azwar Siregar

Saya bukan Pakar Bisnis. Tetapi saya menggeluti Dunia Bisnis. Jadi sedikit-banyak, bisa pahamlah, kenapa Garuda Indonesia selalu merugi.

Mari kita lupakan dulu istilah-istilah asing yang seringkali digunakan para Profesional. Sebagai alasan. Atau Pembenaran. Atas kegagalan mereka mengelola Maskapai Plat Merah ini.

Garuda, atau Bisnis manapun, bisa rugi karena PENGELUARAN lebih besar dari PEMASUKAN!

Ayo, para Pejabat Negara dan Pejabat Pemerintah, tolong catat hal sederhana ini.

Pertamina rugi karena PENGELUARAN lebih besar dari PEMASUKAN!

PLN rugi karena PENGELUARAN lebih besar dari PEMASUKAN!

Semua Unit BUMN merugi karena PENGELUARAN lebih besar dari PEMASUKAN!

Keuangan Negara rugi karena PENGELUARAN lebih besar dari PEMASUKAN!

Apakah Pak Presiden, Menteri, Anggota Dewan, Para Komut dan Dirut BUMN sudah paham bahasa yang sangat sederhana ini?

Nah kalau sampai PENGELUARAN jauh lebih besar dari PEMASUKAN, berarti SALAH KELOLA atau SALAH URUS!

Misal, katanya Garuda Merugi terus karena Biaya Sewa Pesawat (Pengeluaran) yang kemahalan, sedangkan tingkat okupansi setiap penerbangannya (Pemasukan) sangat rendah.

Ya, sudah. Ini namanya salah urus!

Kalau PENGELUARAN terlalu besar ya kurangi... (pemikiran sederhana gini, kenapa ngga bisa dilakukan ya?).

Pertama jangan menyewa terlalu mahal. Bentuk team independent atau sekalian libatkan KPK agar tidak ada permainan curang di Perjanjian Sewa ini.

Kedua, kurangi gaji dan fasilitas buat para Petinggi, Komut, Dirut, Pilot, Pramugari dan semua Karyawan Garuda. 

Baru fokus ke PEMASUKAN.

Setahu saya sampai sekarang, masyarakat pastinya lebih senang dan bangga menggunakan Maskapai Nasionalnya sendiri. Masalahnya, kenapa Tiket Garuda jauh lebih mahal dari tiket Maskapai Swasta?

Wajarlah kalau Okupansi setiap Penerbangannya rendah!

Tapi ini juga wajar dipertanyakan. 

Gini-gini dalam kurun waktu empat tahun ini, hampir setiap bulan saya melakukan Perjalan Udara. Saya lihat Penerbangan Garuda selalu penuh. 

Saya pribadi lebih senang naik Garuda. Cuma karena kemampuan ekonomi yang masih pas-pasan, cuma sanggup beli tiket ekonomi. Dan saya kurang nyaman dengan protokoler ala Garuda yang "terlalu kelihatan" sangat mengistimewakan Kelas Bisnis dari Kelas Ekonomi di Penerbangannya.

Masuk akal juga sih. Namanya kelas Bisnis bayar lebih mahal. Tetapi namanya bisnis, seharusnya semua kelas dibuat Istimewa. Dan mungkin di Maskapai yang lain juga sama. Tetapi tidak pakai "ter". Makanya saya lebih memilih naik Citylink (anak Garuda jugakan?) yang semua Kursinya kelas Ekonomi. 

Saran saya, coba harga tiket-nya Garuda dipermurah. Pelayanannya dibuat mengikuti perkembangan jaman. Jangan terlalu feodal-feodal gitu. Udah ngga jaman.

Terakhur, sebagai satu-satunya Maskapai Plat Merah, kasus kerugian Garuda adalah gambaran Pengelolaan Negara ini juga. Negara terlalu banyak Pengeluaran sementara Pemasukan kurang.

Negara terlalu besar membayar gaji dan fasilitas para Pejabat Negara dan Pejabat Pemerintah. Padahal yang menjabat kemampuannya dibawah rata-rata. Ya termasuk Presiden Jokowi!

Kemampuan masih standard walikota kok dikarbit jadi Kepala Negara!

SALAH URUS!

(*)