CCTV Kasus TNI vs CCTV Kasus Polisi

Oknum TNI tidak kalah bengisnya dengan oknum polisi. Kok bisa-bisanya merancang pembunuhan berencana terhadap istri sendiri. 

Tega menyewa orang untuk nembak istrinya tepat di depan mata anaknya sendiri, sambil memantau hasil penembakan dari dalam rumah. 

Kok iso yo, tegel yo !!!

Bengisnya lagi, ketika melihat dan mengetahui tembakan pertama gagal mengenai kepala istrinya, suami secapatnya memerintahkan eksekutor via HP untuk kembali menembak istrinya tepat di kepala. 

Nasib baik, dorongan rasa kasian eksekutor karena kenal deket dengan korban, dia sengaja dua kali menggagalkan menembak kepala korban, dan menembak pada bagian perut. 

Semua rangkaian kejadian, mulai dari kronologi, modus operandi dan pelaku bisa cepat terbongkar, berkat jasa CCTV yang terpasang dengan baik di rumah dinas oknum TNI pangkat Kopda. Sangat presisi, terukur dan akurat. 

Resolusi CCTV-nya sangat jernih. Tampilan gambarnya sangat baik, tidak goyang, tidak blur bahkan tidak ada drama decoder hilang. Maka dalam jangka waktu singkat, kejadian bisa dibongkar dengan sempurna. Dalang dan otak penembakan terungkap. Akhirnya bunuh diri.

Tidak seperti kasus polisi tembak polisi. Dari mulai keterangan awal bahwa CCTV kesambar petir, decoder dicopot, kemudian katanya CCTV ditemukan kembali tapi khusus CCTV didalam rumah (di lokasi TKP) mati, hingga penyidik belum berhasil menetapkan satupun tersangka. 

Dramanya kepanjangan dan berbelit-belit. 

(Faisal Lohy)