Pak Jokowi, Berhentilah Membodohi Rakyatnya Sendiri

Bisakah kita berhenti -maaf- membodohi warga sendiri dengan membandingkan harga BBM luar negeri dengan dalam negeri dalam USD kemudian dirupiahkan terus dibilang BBM kita murah?

Kenapa?

1. Itu hanya mengkonfirmasi nilai tukar rupiah kita dengan negara-negara tsb anjlok.

2. Harga BBM sana segitu dibanding pendapatan rata-rata sana berapa perbandingannya? itu baru fair, meski sebetulnya pasti banyak faktor lain yang harus diperhitungkan.

Contoh:
Singapura, pendapatan perkapita pertahun 70.000 USD = Rp 980 juta/12 bulan = Rp 80 juta sebulan (kurleb), dengan harga BBM seliter Rp 32.000, jadi pendapatan rata-rata sebulan di sana sebulan bisa buat beli BBM maksimal kurleb 2.500 liter.

Jerman, pendapatan perkapita setahun 50.000 USD, bensin seliter 34 ribu, jadi pendapatan rata-rata sebulan di sana sebulan bisa buat beli BBM kurleb 2.000 liter.

Sementara Indonesia pendapatan perkapita 4.391 USD setahun, dengan harga BBM seliter Rp 7.650, artinya pendapatan rata-rata sebulan penduduk Indonesia hanya bisa beli BBM 700 liter.

Jelas kan, mana yang jauh lebih bagus rasio pendapatan dengan harga BBM?

"Ah analisa lo dangkal cuma ambil pendapatan perkapita langsung dibandingin dg harga bensin seliter, ga bisa gitu lah."

Ya memang ini masih analisa gw belum komprehensif, iyes gw akuin. Pastilah. Tapi ini gw liat dari sudut pandang orang yang beli dengan uang yang dimiliki meski dipukul rata.

Lah itu opini Presiden yang dikutip media, kurang dangkal apalagi? Semudah itu liat harga BBM di luar negeri, dirupiahkan, terus beri kesimpulan harga BBM kita lebih "murah" dan terus kita harus bersyukur-syukur gitu?

Mana yang lebih dangkal?

(By Rudyno)