Keturunan Oligarki

Oligarchi Heredity (Keturunan Oligarki)

Oleh Dairy Sudarman

Menyemai betapa tumbuh suburnya oligarki korporasi, media tanamnya adalah rezim penguasa kekuasaan Jokowi. Saking suburnya, tunasnya merembet sampai ke ruang sidang lembaga parlemen dan hukum. DPR, MPR, Makhamah Konstitusi dan Makhamah Agung, ikut-ikutan menjelma menjadi oligarki politik dan hukum yang awalnya terbentuk dari oligarki partai-partai politik. Tuak tunas si oligarki ini juga “bak api disiram bensin”, nyaris menyambar semua lembaga-lembaga tinggi negara lainnya. Salah satu cabang yang paling rimbun sarang induknya, ada di kabinet. Boleh jadi, induknya sendiri ada di Istana, maka pantaslah kalau rezim penguasa ini disebut “Istana Rezim Oligarki”.

Dan apa makanannya para oligarki ini? Selalu dengan hidangan istimewa yang dinamakan: korupsi. Selayaknyalah sudah lumrah, korupsi ini tumbuh sangat subur pula di segala sendi perikehidupan seluruh pelosok negeri. Maka, “Istana Rezim Oligarki” itu, membalut negeri dengan segala dosa haram dan keharam-haraman, dosanya para elit yang menitis ke rakyatnya yang awalnya terbodohi dan atau dibodohi?

Jika sudah begini, dalam sistem nilai yang memaknai segala hal kemuliaan, oligarki yang merusak itu sudah jelas semakin kontras teridentifikasi sebagai pengusaha, penguasa dan pengusaha-penguasa.

Saling kombinasinya beranak-pinak sebagai hereditas yang diturunkan dan menurunkan. Turunan itu akan sangat parah dan berbahaya manakala dalam sejarah kekuasaan menjadi turun-temurun. Bayangkan! Makanan mereka itu korupsi, menghabisi APBN dan PDB dan segala sumber daya alam serta bumi di sepanjang rezim yang acap kali dipilih yang tak bisa pula dihindari karena demi demokrasi.

Demokrasi itu, saat lima tahun sekali, perhelatan demokrasi dengan pemilu 2024 akan dilaksanakan, memilih penguasa baru. Tetapi, masih ada yang tersisa buat pendulum agar mereka sang “oligarchi heredity” berkuasa kembali, President Threshold 20%. 

Terdengar kabar, oligarki partai itu mulai pecah dikarenakan dorongan kekuasaan keserakahan dan kerakusan juga, namun sebaiknya jangan cepat disyukuri. Namanya politik yang substansinya, adalah permainan, bisa berubah setiap saat bak kadal bunglon. 

Sebab, PT 20% kartu “truf” permainan itu sendiri, hitam-putihnya jadi hormon, sperma dan janin baru munculnya turunan oligarki baru yang akan mudah terduplikasi atau terkoloni.

Makanya, pesta demokrasi di Pemilu dan Pilpres 2024, harus dijadikan pesta kekuatan kedaulatan rakyat, Vox Populi Vox Dei. Kekuatan rakyat dengan suara harapan dan doanya meminta kepada pemegang maha kedaulatan tertinggi, Tuhan Yang Maha Esa, untuk mengubah dan mewujudkan Indonesia yang lebih baik, dengan dimulai mendapatkan pilihan nakhoda kepemimpinannya yang kredibel, kapabel, bertanggung jawab dan amanah kepada rakyatnya.

Pilihannya, sudah teridentifikasi jangan pengusaha, penguasa dan pengusaha-penguasa lama. Juga dari anggota partai oligarki. Buatlah pembauran dari segala hal yang baru. Prioritaskan  pilihan calon dari oposisi dan atau calon yang memang sudah digadang-gadang oleh banyak partisipasi publik karena potensi dan kapabilitasnya, serta pasti dijamin akan tahan godaan minyak harum  wangi dan sogokan gepokan dan karungan, atau malah tak kasat mata berupa rekening digital yang menggiurkan dari racun oligarki itu.

Tidak kalah penting, harus ada benteng yang kokoh dari serangan dan gangguan masih tingginya disparitas rakyat dalam hal masih rendahnya kesadaran dan pengetahuan politik. Itu melanda banyak di lingkaran “floating mass” rakyat. Yang selama ini oligarki itu meracuninya dengan penyakit endemik “kelumraham” money politic ecek-ecek atau recehan. Padahal, itu sangat menyakitkan karena itu sungguh menjatuhkan harga diri kedaulatan rakyat itu sendiri.

Tetapi, semoga saja adanya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi berupa banyak aplikasi media sosial mampu memberikan ekspresi dan impresi keburukan-keburukan oligarki itu sampai ke mereka baik yang di pedesaan maupun di daerah marginal pinggiran-pinggiran kota, faktualnya betapa sulit dan mahalnya minyak goreng serta kebutuhan-kebutuhan mendasar lainnya. Masalah yang kelihatan sederhana ini namun substantif bagi banyak kalangan rakyat kecil, sesungguhnya bisa menjatuhkan mereka!

Dan turunannya, sudahlah berhenti sampai di sini, berganti dengan persemaian betapa suburnya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat kelak. Semoga..

Wallahu’alam Bishawab

*) Dairy Sudarman, pemerhati politik dan Kebangsaan.