SAHABAT BRUTAL

SAHABAT BRUTAL

Oleh: Ustadz Rendy Saputra (Public Relation Ummat)

Saya bersyukur Allah karuniakan pengendalian diri. Ditengah kebutuhan pribadi dan dakwah yang sangat tinggi, alhamdulillah saya gak pernah mau norak jika bergaul dengan seseorang yang mungkin uangnya lebih banyak, atau banyak banget. Gak pernah mau modus minta-minta.

Alhamdulillah juga, pernah hidup di dunia konsultan konselor, dimana posisi kami dituntut objektif. Objektif dalam memberi saran, objektif dalam berpendapat, tanpa membawa kepentingan apa-apa. Jadi juga menghindari ngasih saran yang nguntungin diri sendiri, atau lembaga sendiri. Ndak gitu saya.

Printscreen percakapan ini (lihat gbr atas -red) adalah percakapan dengan sahabat gendeng, tukang bisnis cetak profit, tapi disaat yang sama, juga senang ngabisin duitnya di jalan sedekah. Walau saya bangun Masjid BerkahBOX, aktif di entitas sosial BerkahBOX, tapi nahan diri untuk gak ngomong ke dia,

"Udah uang sedekah mu semua nya kesiniin ke aku, untuk BerkahBOX aja."

Nggak, saya gak senorak itu, Alhamdulillah Allah kasih pengendalian diri.

***

Sahabat Saya ini ngumpulin duit untuk Ramadhan, dan bakalan dihabisin di Ramadhan. Bahkan di bulan sebelumnya sudah ber M ber M juga dihabisin.

Akhirnya semua dana sedekahnya di pool ke satu rekening. Dan Ramadhan ini mau dihabiskan. Mau disalurkan ke entitas dakwah sosial terpilih.

Segini banyak yang mau dihabisin, alhamdulillah saya salah seorang yang diajak ngobrol. Jadi dengan fair saya sampaikan bebera rekomendasi entitas dakwah sosial banyak penggerak di negeri ini, yang aktivitasnya bagus, dampaknya serius terasa, dihandle dengan baik. Saya cuma ngasih saran.

Saya juga ngasih saran agar dibangun saja Yayasan untuk kelola dana bantuannya dengan rapi. Toh beliau pajaknya rapi, bukan money laundry, bukan flexing gak puguh, bener-bener dari usaha dagang satu demi satu item, lalu dihimpun, disalurkan lagi ke ummat.

Kalo Saya jadi Presiden RI, orang begini saya kasih insentif pengurangan pajak, karena toh uang pribadinya masuk ke gerakan pemerataan. Hehehehe... kalo itu juga. Jadi. Hahaha.

***

Apa alasan saya nulis begini? Sebenernya bukan mau mamerin dia, tapi inilah insight yang saya dapat di Ramadhan ini.

Jika saya secara pribadi bisa membangun komunikasi dengan seribu orang seperti dia, tak perlu lah saya yang kaya, tak perlu juga saya bangun bisnis agar bisa sedekah triliunan, biarlah saya jadi Public Relation nya ummat saja. PR nya ummat. Menggerakkan triliunan yang ada di kantong-kantong pengusaha muslim. Cukup.

"Bantu yang ini bro..."

"Pondok yang ini bagus, tekun kiyainya, santrinya bagus-bagus, amanah."

"Gerakan sosial ini bagus bro, banyak bantu orang sakit keluar dari rumah sakit, transfer aja.."

"Masjid yang ini keren bro, gak cuma kajian, sosialnya juga jalan, bantu bro.."

Bahkan sampai..

"Ustadz yang ini ikhlash bro, dakwah gak narif, bahkan loyal keliling ke sma-sma, kampus-kampus, gak dibayar, bantu support bro.."

Saya visinya itu, punya teman seribu begini, berarti bisa gerakkan satu Triliun. Biarlah uangnya cuma geser ke entitas lain. Yang penting banyak orang terbantu.

Pada akhirnya sudah seusia segini, gak ada impian lain kecuali hanya ngarep Allah tolong semua lini di kehidupan saya. 

Mati tanpa bawa zalim sama orang, mati tanpa bawa kewajiban janji apa-apa sama orang, bisa hidup tegak, sujud, rukuk, menafkahi keluarga pada batas wajarnya. Sudah.

Saya sudah kena talent mapping, memang gak ada hasrat mau berlimpah ini itu. Jalan-jalan ke Turki ngeliat barang branded mati rasa, mungkin karena gak ada duitnya juga. Hahahahah..

Fokus hidup saya fungsi aja. Antara ngelihat sepatu branded sama pesawat jet, saya lebih butuh pesawat jet, karena dakwah sudah lompat-lompat antar pulau, mempet waktu, airline penerbangan publik nampak udah gak kompatible sama jadwal dakwah. Jadi fokus fungsi aja.

Kembali ke insight.

Itulah insight Ramadhan yang Saya dapat. Jadi PR nya ummat, PR nya dhuafa, PR nya orang lemah. Biar saya yang komunikasi, biar saya yang dibilang minta-minta, toh gak ke saya juga uangnya. Biarlah saya yang muka tembok, komunikasikan kesulitan saudara-saudara di tempat lain.

Segmen pengusaha ini memang unik, Alhamdulillah saya memang dari dunia konselor, jadi ngerti adabnya.

Pernah saya ajarin seseorang zakat maal, ternyata sudah sejak awal di salah hitung zakat. Inventory gak dimasukin harta kena zakat, akhirnya hutang zakatnya miliaran.

Hebatnya beliau mau bayar semuanya, teman saya yang lain langsung nafsu minta saya bikin lembaga zakat, lalu urus miliaran dananya, saya malah bilang:

"Biarlah dia pilih lembaga zakat yang dia percaya, atau silakan saja kalo dia mau salurkan ke asnaf zakat yang dia pilih sendiri, yang penting uangnya sampai ke ummat, gak perlu lewat saya."

Saya malah dibilang "bodoh", gak berstrategi lah, gak peka lah. Ya sudah. Gak papa. Tugas saya sampai di edukasi, beliau sang pengusaha mau tunaikan zakatnya, bagi saya tugas saya beres. Silakan tunaikan sendiri.

***

Di Ramadhan ini, semoga kita dapat petunjuk, jalan hidup seperti apa yang harus kita pilih, yang menjadi pilihan jalan ke Surga yang kita pilih.

Sahabat saya ini pilih jalan ke surgaNya dengan pintu sedekah. Bisnis yang agresif, akuisisi sana sini, cetak profit, lalu disedekahkan ke ummat.

Sementara saya milih nemanin anak-anak muda yang lemah, ngisi majelis yang bayarin tiket pesawat saya aja jelas gak mampu, mau nopang kebutuhan hidup saya aja jelas gak mampu. Itu yang saya pilih. Ngasuh orang lemah, nyemangatin orang lemah.

Disaat yang sama, jika Allah arahkan saya untuk jadi toa ummat ke saudara muslim Aghniya, maka saya akan serius komunikasikan kesulitan ummat. Alhamdulillah saya sudah banyak jalan, banyak bergaul dengan para penggerak sosial yang bener. InsyaAllah tinggal diarahkan saja, harus transfer ke mana. Beres.

Tulisan ini juga saya tujukan bagi saudaraku yang sangat ringan belanja ratusan juta, miliaran rupiah, memang itu halal sih, hak saudara juga mau beli baeang puluhan juta.

Saya cuma sampaikan, bahwa ada seseorang yang kaya nya mungkin sama dengan Anda. Bisnis nya juga sebesar bahkan lebih besar dengan Anda, tapi setengah hasil bisnisnya untuk sedekah, sepertiganya untuk investasi lagi, dan hidup hanya sepuluhan persen, dari hasil bisnisnya.

Makan seporsi itu sebenenya kalo masak sendiri sepuluh ribuan udah enak, kalo seratus juta, bisa ngasih makan sepuluh ribu orang. Sedihnya kadang seratus juta cuma jadi tas, sekian puluh kali dipakai, udah masuk rak. Sedih.

Ya ini masalah komunikasi, masalah edukasi, mungkin karena gak ada yang bisa ngobrol sama segmen ini. Kalo memang Ramadhan ini tugas dari Allah harus ngobrol sama segmen ini, insyaAllah saya kerjain serius.

Minta doa, minta ridho, saya tulis agar jelas, kenapa saya fokusnya di entitas dakwah sosial aja, gak ikut-ikutan bangun bisnis. Bagi-bagi tugas.

*fb penulis (3/4/2022)