Narasi Kebencian Zastrouw Ngaji di Torotor

KRITIK ZASTROUW

Oleh: Radhar Tribaskoro

Al Zastrouw ini dulu pernah dianggap asistennya Gus Dur. Jadi ia orang NU, pengetahuan agamanya pasti lebih hebat dari saya. 

Namun postingan dia (screenshot di atas) bikin saya bingung. Postingan semacam ini meluas dimana-mana. Narasinya menghina atau mengejek cara beragama orang. Menuduh bahwa cara beragama seperti itu merampas hak orang atas trotoar. Dengan gaya retoris ia menginsinuasi bahwa tindakan itu bermotif kesombongan atau riya’. Dengan cara yang sama ia meragukan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk syiar, itu adalah kegiatan unjuk kekuatan.

Al Zastrouw tidak merasa perlu menanya apa motif dan tujuan mengaji di trotoar itu. Ia langsung menghakimi. Nada narasi Al Zastrouw adalah penolakan. Ia sampaikan hal itu dengan lugas, tidak ada upaya berempati.

Kalau memperhatikan konteks politik di belakang status Zastrouw, saya tidak ragu menyatakan bahwa nada narasi Zastrouw adalah kebencian dan permusuhan. 

Narasi semacam itu sama sekali tidak mencerminkan prinsip jalan tengah atau moderat yang diagung-agungkan NU. Cara berpikir Zastrouw bukan mencari solusi atas perbedaan yang mengemuka. Cara berpikirnya mirip politikus: membedakan mana kawan mana lawan. Bila ketemu lawan ia tidak merasa perlu memahaminya, melainkan langsung disikat.

Persoalan pertama yang ingin saya sampaikan di sini adalah apakah Zastrouw berhak mengadili cara beragama orang lain? Kalau ia merasa berhak, tentu orang lain juga berhak mengadili cara beragama dirinya (NU). Apa Zastrouw berpikir bawa cara beragama dirinya (NU) adalah yang terbaik di hadapan Allah SWT? Kalau Zastrouw menganggap dirinya paling benar, maka itulah yang disebut absolutisme. Artinya, cuma Zastrouw atau NU yang benar, yang lain salah.

Dengan cara berpikir seperti itu mengklaim dirinya moderat adalah salah kaprah habis-habisan.

Persoalan kedua adalah apakah Zastrouw masih mengerti artinya syiar? Apa syiar itu mesti di masjid? Beberapa kali orang tak dikenal mengetuk rumah saya. Ia membacakan satu-dua ayat dari Al Kitab. Itu adalah sebentuk syiar dari agama Kristen yang mewajibkan umatnya membacakan satu-dua ayat kepada siapa saja. Sekalipun jauh dari gerejanya.

Sementara itu, trotoar adalah ruang publik. Kadang dipake orang menari-nari, dipake panggung musik, tempat berjualan UMKM, dsb. Apakah Zastrouw pernah protes soal itu? Kenapa kalau sekarang setengah trotoar dipake mengaji, Al Zastrouw sewot? Lalu merendah-rendahkan dan mengejek mereka yang mengaji agama, padahal itu adalah agamanya sendiri.

Ketiga, mungkin saya punya ekspektasi terlalu tinggi kepada sosok seperti Al Zastrouw yang saya tahu dulu dekat dengan Gus Dur. Hal yang sama juga terhadap NU, tempat saya belajar Islam pertama kali. Sulit rasanya menemukan dukungan penuh atas demokrasi di sana. Era Gus Dur sudah lewat. Gus Dur ternyata cuma jadi batu loncatan karir bagi orang-orang di sekitarnya.

Saya juga tidak menemukan komitmen kepada pemimpin bermoral pada pemimpin-pemimpin NU sekarang. Pemimpin bermoral adalah kunci kemajuan suatu bangsa, kata almarhum Kiai tempat saya ngangsu elmu dulu. Seperti apa pemimpin bermoral itu? Beliau memberi saya hadiah sebuah buku riwayat hidup Ali bin Abi Thalib. Beliau seakan berpesan agar saya meneladani keberanian Ali radhiyallahu anhu, pengorbanannya, kezuhudan atau ketidakpeduliannya kepada kehidupan duniawi, ketakwaan dan kedermawanannya. 

Saya harus mengakui ekspektasi saya terlalu tinggi. Pernyataan Muhaimin Iskandar, Ketum PKB, mendukung perpanjangan masa jabatan presiden, menjelaskan semua itu. Ia jelas tidak punya komitmen kepada demokrasi karena rela merusak konstitusi demi kepentingan pribadi Jokowi dan Ma’ruf Amin. Ia jelas bukan pemimpin bermoral karena untuk mendukung pernyataannya itu ia telah berbohong dan merekayasa dukungan rakyat.

Tetapi saya percaya, suatu ketika “sing becik ketitik, sing olo ketoro”. Namun saya tidak tahu, ketika saat itu tiba apakah Indonesia masih ada.

*fb penulis (23/4/2022)