Masalahnya Bukan Face Recognition Salah Identifikasi 2 Orang Kasus Ade Armando, Tapi Kenapa Hasil Face Recognition Milik Polisi Disebar Oleh Akun-akun Buzzer?

[PORTAL-ISLAM.ID]  Polisi menggunakan teknologi face recognition atau pengenalan wajah untuk mencari para terduga pengeroyok dosen UI Ade Armando pad Aksi 11 April di depan gedung DPR RI (11/4/2022).

Satu jam setelah kejadian, foto-foto orang yang diduga pelaku pengeroyokan Ade Armando beredar di media sosial, terutama twitter.

Foto-foto diduga pelaku pengeroyokan Ade Armando tersebut lengkap bersama nama dan alamat mereka.

Foto dalam video rekaman kejadian disandingkan dengan foto asli mereka (foto KTP).

Anehnya, foto-foto ini disebar bukan oleh akun institusi resmi polisi, tapi malah disebar oleh para buzzer.

Dua Orang Salah Identifikasi

Foto-foto beserta nama dan alamat yang disebut pelaku pengeroyokan Ade Armando ini, ternyata ada dua data nama yang ternyata salah. Karena dua orang ini memang ternyata tidak ikut Aksi 11 April.

(1) Pertama adalah Try Setia Budi Purwanto, warga Kabuaten Way Kanan, Lampung yang disebut sebagai pelaku pengeroyokan Ade Armando.

Usut punya usut, Try bukan pelaku.

Tri kaget melihat foto serta alamat lengkap tempat tinggalnya tersebar di medsos. Ia pun bingung identitasnya bisa viral di media sosial dan disebut sebagai pelaku pemukulan Ade.

Try menyatakan, saat kejadian Ade Armando, dirinya sedang bertugas menjaga sound system dalam acara istri Bupati Way Kanan Raden Adipati Surya.

Pernyataan Try disampaikan melalui video dan diunggah di media sosial sebagai bantahan.

(2) Yang kedua adalah Abdul Manaf. Data Abdul Manaf pun sudah tersebar. Tapi belakangan kemudian polisi menyatakan Abdul Manaf bukan pelaku pengeroyokan Ade Armando.

Abdul Manaf ditemukan keberadaannya oleh polisi di kediamannya di daerah Karawang.

Usai ditemukan, polisi pun langsung melakukan pemeriksaan terhadap Abdul Manaf. Hasilnya, ia ternyata tak terlibat dalam peristiwa pemukulan terhadap Ade.

"Dan sudah kita lakukan pemeriksaan terhadap alibi Abdul Manaf dan orang di sekitarnya pada tanggal tersebut tanggal dan jam terjadinya pemukulan di depan DPR MPR RI itu Abdul Manaf berada di Karawang jadi dia tidak melakukan kegiatan itu," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan saat dihubungi, Rabu (13/4/2022), seperti dilansir CNNIndonesia.

Zulpan menjelaskan bahwa hasil face recognition tingkat akurasinya tidak mencapai 100 persen sesuai dengan Abdul Manaf.

"Karena orang yang kita duga pelaku itu menggunakan topi sehingga begitu topinya dibuka tingkat akurasinya tidak 100 persen. Jadi Abdul Manaf bisa dikatakan bukan sebagai pelaku," ujarnya.

Bukan Soal Hasil face recognition Salah

Sampai saat ini diketahui bahwa 2 orang telah menjadi korban kesalahan face recognition milik polisi. Mereka yang tak bersalah namun identitasnya sudah disebarkan oleh akun-akun buzzer.

Persoalannya adalah bukan soal hasil face recognition salah. Tapi kenapa foto-foto hasil face recognition sudah menyebar ke medsos (disebar oleh buzzer) padahal belum dipastikan benar tidaknya.

"Masalahnya bukan di face recognition salah, wajar banget itu salah. Masalahnya adalah sebelum polisi umumkan tersangka, udah ada aja akun BuzzeRp yang menyebarkan foto, nama dan alamat terduga pelaku. Yang punya face recognition kan polisi. Kok bisa sih?" ujar akun @niwseir.
Baca juga :