Ibrah Kisah Nabi Adam: Pintu Penyesatan Adalah Meremehkan SYARIAT dan Mengagungkan HAKIKAT

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Allah mengizinkan Adam dan Hawa bersenang-senang di surga sesuka mereka.  Allah hanya melarang untuk mendekati sebuah pohon, apalagi memakan buahnya. Allah berfirman, 

﴿وَقُلْنَا يَاآدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا ‌حَيْثُ ‌شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ﴾ [البقرة: 35] 

Artinya,

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!”

Ketika Allah melarang makan buah itu, Allah TIDAK MENJELASKAN ALASANNYA, apa hikmahnya dan apa rahasianya dan seterusnya. Adam hanya diminta satu: Taat.

Tanpa bertanya.

Tanpa mencari tahu dasar rasionalisasinya. 

Tanpa melacak hubungannya dengan kemuliaan Adam, atau dengan nikmat tinggal di surga, atau dengan kehidupan malaikat di langit atau hubungan-hubungan lainnya.

Allah hanya minta Adam taat.

Sehingga Allah tahu apakah Adam benar-benar mencari rida Allah dan sanggup mengutamakan rida Allah daripada kepentingan dirinya.

Begitulah esensi din itu.

Esensi din adalah ketaatan.

Taat tanpa bertanya kenapa.

Seperti taatnya malaikat saat diperintah bersujud kepada Adam tanpa bertanya kenapa.

Seperti taatnya nabi Ibrahim saat diperintahkan menyembelih putranya, tanpa bertanya kenapa.

Seperti taatnya Hajar saat dibawa nabi Ibrahim ke padang tandus bersama Ismail yang masih bayi juga tanpa bertanya kenapa.

Seperti taanya kita saat salat lima waktu tanpa bertanya kenapa, tanpa  mencari tahu mengapa rakaatnya beda-beda, tanpa  menggugat  mengapa salatnya di jam-jam tersebut  dan seterusnya 

Seperti taatnya kita saat disuruh wudu tanpa bertanya mengapa yang dibasuh muka, tangan,  kaki bukan anggota tubuh yang lain. 

Seperti taatnya kita saat mencium Hajar aswad, padahal ia cuma batu. Tanpa bertanya sebab atau hikmahnya.

Selama bisa dipastikan itu perintah Allah, atau minimal diduga kuat merupakan perintah Allah berdasarkan ijtihad sahih, maka hanya ada satu kata: Taat.

Itulah esensi din sejati.

Krn din  memang bermakna ketaatan.

Nah, begitu nabi Adam mau diberi ide Iblis untuk membahas HAKIKAT syariat Allah,  membahas apa rahasia dibalik larangan Allah saat melarang buah larangan, maka dari situ Iblis justru punya pintu untuk menyesatkan nabi Adam.

Dia sampaikan dengan penuh kebohongan bahwa sebab larangan Allah memakan buah pohon tersebut  adl untuk menguji Adam apakah sanggup menemukan rahasia terbesar dibaliknya. Karena,  kata Iblis, rahasia larangan tersebut  sebenarnya begini,

“Kamu Adam, jika makan buah itu, maka kamu akan kekal di surga seperti malaikat! Tidak jadi diturunkan dibumi yang penuh kesengsaraan”

Adam yang punya syahwat jadi galau.

Bimbang antara menaati perintah Allah dan berpegang teguh dengan syariatNya ataukah mempercayai Iblis yang sepertinya argumentasinya juga lumayan logis.
 
“Bukankah Allah sudah mengajarinya berbagai nama? Bukankah Adam menjadi makhluk yang paling berilmu di langit? Bukankah semua malaikat pengetahuannya berada di bawah Adam? Tapi mengapa pengetahuan tentang satu pohon itu tidak diberikan Allah? mengapa Allah hanya melarang tapi tidak menjelaskan alasan larangan itu? Jangan-jangan Iblis memang benar. Allah melarangku hanya untuk mengujiku apakah aku sanggup menemukan rahasia besar pohon itu. Jika benar ini hanya ujian, maka alangkah bodoh dan rugi diriku yang tak sanggup menangkap pesan rahasia dari Rabbku.”

Begitu kira-kira mungkin kecamuk dalam pikiran Adam. 

Begitu Iblis bersumpah atas nama Allah, maka lenyaplah semua kegalauan Adam dan akhirnya memutuskan untuk makan buah tersebut. Karena Adam HUSNUZAN bahwa tidak mungkin makhluk di langit berani bersumpah atas nama Allah untuk kedustaan!

Akhirnya syariat dilanggar karena mengikuti ide bahwa syariat itu punya hakikat yang tersembunyi!

Ini jadi pelajaran penting bagi kita.

Pembahasan hakikat apapun, entah dinamakan hakikat dalam istilah tasawuf, atau dinamakan maqashid syariah, atau istilah apapun, jika sampai melanggar syariat Allah, maka itu adalah kesesatan seperti yang diajarkan Iblis kepada Adam agar melanggar larangan Allah.

Jadi mulai hari ini hati-hatilah dengan tasawuf yang ujung-ujungnya mengajarkan salat tidak wajib, puasa Ramadan tidak wajib, boleh berzina atau semisalnya yang intinya melanggar syariat, dengan alasan apapun!

(*)