Caplok Twitter, Elon Musk Ingin Kebebasan Berbicara dan Kubur Akun Bot

[PORTAL-ISLAM.ID]  Elon Musk resmi membeli platform media sosial Twitter pada Senin (25/4).

Sebelumnya Twitter tampak akan menolak tawaran US$44 miliar yang diberikan Musk untuk perusahaan tersebut. Namun, setelah mulai bernegosiasi pada Minggu (24/4), kedua belah pihak akhirnya menemui kesepakatan.

Kehadiran Musk sebagai orang nomor satu Twitter disebut banyak pihak akan membuat perubahan pada platform berlogo burung biru tersebut.
Salah satu dugaan yang cukup kuat adalah Musk akan mengembalikan kebebasan berbicara di Twitter.

Hal ini merujuk pada awal perjalanan Musk membeli Twitter, ketika ia mengkritik Twitter soal prinsip-prinsip kebebasan berbicara yang tidak diterapkan di platform tersebut.

Meski demikian belum diketahui langkah apa yang akan dilakukan Musk untuk mengembalikan kebebasan berbicara di Twitter.

Selain itu, Musk. juga akan akan menghilangkan bot spam Twitter. Ini ia utarakan sebelum penawarannya setujui pihak twitter.

Kemudian Musk juga kemungkinan menghilangkan iklan pada platform tersebut. Padahal iklan adalah sumber pemasukan terbesar Twitter pada Q4 2021.

Dengan hilangnya pendapatan dari iklan, Musk tampaknya akan mencari sumber pendapatan lain, salah satunya mengenakan biaya untuk pengguna Twitter Blue, langganan pengguna premium Twitter.

Selain langkah-langkah tersebut, Musk juga diduga akan menggunakan algoritma terbuka pada Twitter. Hal ini memungkinkan pengguna untuk mengerti bahkan mengontrol bagaimana sistem di Twitter bekerja.

Dilansir dari Social Media Today, Twitter sudah mencoba hal tersebut melalui inisiatif 'bluesky'. Konsep ini membuat pengguna biasa dapat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang sistem semacam itu.

Lebih lanjut, seorang profesor dari Universitas Southern California Karen North menyebut Musk tidak akan melakukan terlalu banyak perubahan di Twitter, melainkan dia hanya menginginkan data pengguna di perusahaan tersebut.

"Saya pikir itulah yang ingin dia manfaatkan. Musk lebih tertarik pada data daripada tweeting momen demi momen," kata North, seperti dikutip USA Today.

"Jika kita masuk ke bisnis, apa yang Anda lebih suka miliki, data atau platform perpesanan? Tentu saja data," imbuhnya.[cnn]