Surat Terbuka Kepada Anies Baswedan

Oleh: Smith Alhadar 
Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDe) 

Mas Anies yang baik, 

Semoga mas Anies sehat, sejahtera, dan bahagia. Maaf, saya memanggil dengan nama kecil mas Anies karena “Anies” telah menjadi simbol kehangatan dalam hubungan antar manusia. Dan, saya tahu, mas Anies memandang semua orang sederajat. Orang juga bilang mas Anies tak menyukai sekat-sekat dalam pergaulan sosial berdasarkan agama, suku, ras, dan antar golongan. Menakjubkan! Bukankah itu juga yang dikhotbahkan para tokoh besar umat manusia dari Khonghucu hingga Nabi Muhammad Saw? Dalam surat ini, saya ingin bicara tentang harapan banyak orang pada mas Anies untuk Indonesia yang lebih baik ke depan. Tapi saya bingung harus dimulai dari mana karena terlalu banyak yang ingin saya ungkapkan, sementara tak banyak kemampuan yang saya miliki. Apakah mas Anies sedang baik-baik saja? 

Mas Anies yang baik, 

Dalam gelisah saya menulis surat ini saat banyak orang sedang terlelap dalam bekap mimpi yang merisaukan. Belum juga dikumandangkan adzan, ajakan berserah diri pada Tuhan, sebelum memulai kehidupan yang rumit. Seringkali berat. Tadi, saat saya membuka layar HP, berita pertama yang saya temukan adalah deklarasi “Anies for President” di sebuah daerah yang jauh. Berita sejenis telah menjadi rutin belakangan ini: setiap hari ada saja sekumpulan orang dengan wajah masygul penuh harap menginginkan mas Anies memimpin negara ini pada 2024. Saya terharu, tapi takut harapan mereka tak terpenuhi. Wajah mereka mirip orang-orang Madinah yang gelisah menunggu hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah dalam film “The Messenger”. Bahkan, banyak yang berlomba naik pohon kurma untuk menjadi orang pertama yang melihat kedatangan tokoh besar yang, di kemudian hari, menjadi pengubah dunia terbesar sepanjang sejarah. 

Mas Anies yang baik, 

Tentu mas Anies bukan Nabi. Tetapi sejarah dunia menunjukkan ikhtiar seorang presiden yang cerdas, ikhlas, dan visioner, bisa menjadi awal bagi lahirnya persatuan, kemakmuran, keadilan sosial, dan lompatan besar sebuah bangsa. Presiden AS yang pertama, George Washington, adalah salah satu contohnya. Ah, saya tak usah mengatakan ini, toh mas Anies juga sudah lebih dari tahu. 

Yang ingin saya katakan, orang-orang yang mendeklarasikan “Anies for President” yakin mas Anies bisa menjadi salah satu presiden negarawan yang dapat mengurai berbagai masalah dan tantangan bangsa hari ini. Kasihan, kita sudah merdeka 77 tahun, tapi kesejahteraan dan keadilan masih jauh dari mereka. Mereka masih sama seperti rakyat Mesir yang membangun piramida atau rakyat Cina yang membangun Tembok Raksasa hanya untuk mengejar ambisi pribadi penguasa yang ingin terlihat perkasa tanpa peduli pada kesengsaraan rakyat. Menyedihkan bukan? 

Tapi bukan hanya itu! Bangsa ini sedang menghadapi banyak masalah, yang sepertinya tak mampu diatasi rezim sekarang karena telah terjerat oligarki yang punya kepentingan berbeda dengan kepentingan negara dan rakyat. Orang-orang dari tempat-tempat jauh pun sudah mendengar bagaimana mas Anies melawan para oligarki di Jakarta. Mereka faham mas Anies tidak melarang orang untuk menjadi kaya, tapi keadilan sosial harus ditegakkan lebih dahulu. Biarkan kekayaan didapat dari kerja keras, kejujuran, dan sesuai aturan main. Itu yang mas Anies inginkan bukan? 

Itu sebabnya, banyak orang memanggil-manggil namamu dengan suara parau untuk menyelamatkan bahtera Indonesia yang sedang oleng. Bukan orang memberi tahu, tapi mereka sendiri melihat dengan mata kepala bagaimana mas Anies mengurai benang kusut Jakarta menjadi kota layak huni. Bahkan, kota cerdas, segar, dan boleh dibanggakan bangsa. Terpapar keindahan di mana-mana yang dapat dinikmati semua orang. 

Tadinya mereka tak percaya kebobrokan klasik Jakarta bisa diubah menjadi kota yang nyaman. Apalagi ada yang bilang mas Anies tak melakukan apa-apa, merusak harmoni warga berbeda agama karena mengusung politik identitas, dan pembohong. Maafkan mereka yang terlambat memahami mas Anies. Orang-orang culas pada awalnya cukup berhasil menghancurkan pribadi agung sebelum kinerja dan moral mas Anies mengoreksi semua itu. 

Bukan main kagetnya mereka ketika tahu mas Anies membangun Jakarta International Stadium dan sirkuit balap mobil listrik Formula-E. Amboi, bukankah itu mimpi orang Eropa? Tapi mata mereka tak dapat berdusta. Baru sekarang mereka tahu bahwa ternyata orang Indonesia pun bisa bermimpi dan mewujudkan mimpinya itu. Mereka berterima kasih padamu meskipun mas Anies tak membutuhkannya. Ajaib, mas Anies bilang itu hasil kolaborasi banyak pihak untuk membagi pujian publik pada banyak orang. Padahal, sudah menjadi tradisi pemimpin di negeri ini untuk memonopoli pujian bagi diri sendiri meski pada kenyataannya dia tak melakukan apa-apa.

Mas Anies yang baik, 

Mereka yang ingin mas Anies menjadi presiden adalah ekspresi kagum padamu. Betapa tidak, ketika tiba di ibu kota, mereka tak lagi menemukan bus-bus bobrok, metro mini ugal-ugalan, dan angkot yang ngetem di sembarang tempat. Padahal, baru kemarin aib itu menjadi etalase ibu kota. 

Huuusss…semuanya telah lenyap ke dalam sejarah usang Jakarta. Kendaraan umum berganti rupa dengan fasilitas yang aduhai. Sistem transportasi terpadu yang mengintegrasikan semua moda transportasi darat telah memudahkan mobilisasi warga dengan biaya murah. Kok bisa? Kenyataannya memang begitu. Yang suka jalan kaki difasilitasi dengan trotoar. Silakan bersepeda bagi yang hobi karena tersedia jalur yang aman. Pemberhentian bus jadi tontonan yang mengasyikan karena menghadirkan kemoderenan yang dulu hanya terlihat di film-film Hollywood. Kalau para gubernur sebelumnya iri hati pada mas Anies, itu lantaran mereka baru tahu bahwa kota bisa disulap dengan ide-ide kreatif. Lebih daripada itu, mas Anies membawa pemahaman baru tentang kota; bahwa kota adalah hunian yang memadukan kebutuhan fisik dan jiwa manusia untuk mendapatkan kenyaman hidup maksimal yang, pada gilirannya, membuat manusia dari semua bakat dapat mengaktualisasi diri dan berinovasi untuk kebaikan bagi semua. 

Tapi itu baru infrastruktur. Belum lagi pelayanan sosial yang mengagetkan sekaligus mengharukan mereka. Kaum disabilitas, guru, siswa, fakir miskin, mereka yang tergusur, dan orang-orang yang berjasa bagi Jakarta dan negeri dipenuhi hak-hak mereka. Serentak mereka terkejut karena mas Anies bilang ini hak mereka dan merupakan janji kemerdekaan yang harus dipenuhi pemimpin. “Hak? Kami punya hak?” Mereka bertanya sambil berlinang air mata. 

Selama ini mereka tahu rakyat hanya punya kewajiban, bukan hak. Kewajiban mengabdi pada penguasa sejak zaman yang tak dapat diingat lagi. Bahkan, mereka mengira menggusur rakyat miskin di bantaran Sungai Ciliwung tanpa kompensasi sudah merupakan takdir dari langit. Tiba-tiba saja mas Anies bilang itu tidak benar. Terkejutlah mereka bukan kepalang. Belum lagi habis mereka bertanya apakah mereka tidak sedang bermimpi, mas Anies telah menyodorkan kepada mereka hunian baru yang lebih manusiawi. Mulai hari itu beban hidup mereka terasa lebih ringan di bawah langit biru yang membentang sampai jauh. Syukuran pun mereka gelar sebagai terima kasih kepada Tuhan Maha Pemurah melalui perantaraanmu. 

Mas Anies yang baik, 

Sebelum mendeklarasikan “Anies for President”, telah lebih dahulu mereka bergegas menemui para rohaniawan yang sedang berdoa bagi panjang umurmu. Mereka ingin mendapat konfirmasi apakah benar mas Anies melayani keperluan rumah ibadah semua agama. Para pemuka tiap agama itu lalu naik ke mimbar dengan emosi yang membuncah. Dengan suara serak sambil terisak, mereka berkata, “Sebenarnya kami malu untul menyampaikannya. Tapi kebenaran tak bisa disembunyikan, seperti matahari di siang bolong. Memang benar Anies telah membantu kami secara adil. Lihat, indahnya rumah ibadah kita hari ini berkat bantuan beliau.” Mereka mengaku merasa bersalah karena dalam pilgub dulu tak menyoblos mas Anies. 

Tapi mas Anies tak kecewa. Para penuka agama itu merasa terhina karena hati dan pikiran tak mampu menuntun mereka pada pilihan yang benar. Ketika itu benak mereka telah terkontaminasi propaganda orang-orang jahat. Sekarang mereka bilang, alangkah mulianya mas Anies yang telah juga meningkatkan kerukunan antarumat beragama. Mereka mengaku telah menggunakan kaca pembesar untuk mencari politik identitas pada dirimu, tapi tak ditemukan. Jakarta di bawah kepemimpinan mas Anies ternyata jauh berbeda dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya. Tak heran, orang menduga kuat para rohaniwan itu juga ingin mas Anies memimpin Indonesia.

Mas Anies yang baik, 

Mereka yang berusaha agar mas Anies menjadi presiden tak meminta apa-apa padamu kecuali Indonesia yang lebih baik. Mereka ingin agar negara ini bersinar, gagah, kuat, makmur, adil, dan beradab. Sebelumnya mereka telah memutuskan untuk tak ikut menyoblos dalam pilpres mendatang. Mereka frustrasi dan tak percaya lagi pada rayuan gombal para capres. Berulang kali mereka ditipu tanpa rasa bersalah sang penipu. 

Mestinya mas Anies juga tahu dari dulu capres terpilih selalu mengkhianati apa-apa yang dijanjikan dalam kampanye. Begitu terpilih, mereka bertransformasi menjadi raja-raja zalim zaman purbakala. Janji tinggal janji. Pemimpin bangsa tak harus jujur, apalagi jadi pelayan rakyat. No Way. 

Sejak kapan pemimpin Indonesia terbebani utang pada rakyat? Presiden Indonesia adalah penguasa maksum (tak akan pernah berbuat kesalahan). Kalau pun ada yang tak beres pada presiden, harus ada orang lain yang dikambinghitamkan. Sementara organ-organ rezim dan buzzer mengorkestrasi kemaksuman presiden. Betapa durjananya semua itu! Para penjilat presiden bersembunyi di balik jubah nasionalisme picik dan korup: “Presiden yang humble, tawadhu, rendah hati, accountable, adalah presiden yang lahir dari budaya asing,” kata mereka. Rakyat diminta tak mengikuti budaya itu. Menyedihkan bukan? Mereka yang ingin mas Anies jadi presiden sudah menyadari tipu muslihat ini guna menjaga legitimasi presiden. 

Mas Anies yang baik, 

Mereka yang mendukungmu tak lagi tertarik pada narasi buzzer. Hanya membuang energi untuk pikiran picik dan khianat itu. Mereka kini bangkit bersemangat mengikuti pemilu karena mas Anies ada di ujung terowongan gelap. Mereka percaya hanya mas Anies yang bisa menyehatkan kembali negara yang sedang sakit ini. Tak ada lagi keakraban di antara warga bangsa karena sejak awal rezim menerapkan policy of divide. Pengangguran dan kemiskinan meluas. Utang luar negeri menumpuk, sementara rezim berjudi dengan dengan membangun ibu kota baru yang banyak menyerap APBN, duit rakyat yang mestinya dibelanjakan untuk kepentingan ekonomi rakyat yang sedang dihantam pandemi covid-19. Proyek IKN berpotensi mangkrak dan membuka jalan bagi terjadinya KKN. Korupsi makin menggila. Penegakan hukum bermasalah. Demokrasi merosot. Sungguh, orang-orang yang menyemangati mas Anies untuk jadi presiden tertekan oleh situasi dan kondisi bangsa hari ini. Tapi masih ada kesempatan untuk membalikkan keadaan ini. Itulah yang mereka bayangkan. Ya, mereka berharap presiden terpilih pada 2024 menjadi turning point untuk memulihkan luka-luka bangsa. 

Mas Anies yang baik, 

Mereka hanya percaya padamu. Hanya di tangan mas Anies mereka yakin Indonesia akan selamat dari tantangan zaman yang penuh onak. Memang ada aspiran capres lain, tapi tak nampak mereka punya gagasan besar bagi Indonesia masa depan yang jaya. Malah, selain mas Anies, para aspiran capres itu membawa spirit rezim saat ini, rezim yang telah terbukti gagal menyejahterakan rakyat, hanya mengutamakan kepentingan oligarki, memberlakukan KKN, nafsu besar berkuasa, dan tak tahu malu. 

Ampun, mereka tak mau rezim pengganti rezim Jokowi hanya berupa anggur lama dalam botol baru. Maka mereka yang menyadari penyakit Indonesia hari ini dan rakyat ingin perubahan pada nasib malang mereka berbondong-bondong keluar dari lorong-lorong sempit untuk menyatakan dukungan padamu. Apakah mas Anies tak jatuh hati pada mereka? 

Mas Anies, jangan kecewakan mereka. Kalau nanti ada parpol atau gabungan parpol meminta mas Anies untuk diusung jadi capres, mereka berharap mas Anies tidak menolak. Siapa tahu mas Anies menang, dan lalu menghadirkan kemakmuran, keadilan sosial, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut menciptakan perdamaian dunia sebagaimana amanat konstitusi yang selama ini mas Anies bela mati-matian. 

Mereka percaya mas Anies bisa. Toh, keberhasilan mas Anies membangun Jakarta telah juga diapresiasi instansi dan lembaga dalam dan luar negeri. Saya doakan mas Anies sehat selalu, tetap fokus pada tugas-tugasmu sekarang, dan bersiap untuk bertarung pada pilpres mendatang yang sangat kompetitif. Maaf, kalau ada yang khilaf dari isi surat ini. Salam. Tangsel 27 Maret 2022

Anda Ingin Menampilkan Isi Web ini di situs Anda? Jika Ya, jangan diubah diisinya dan cantumkan Link Hidup Sumber Artikel ini. https://suaranasional.com/2022/03/27/surat-terbuka-kepada-anies-baswedan/ .