MS. MARVEL DAN CITRA AMERIKA TENTANG MUSLIM

MS. MARVEL DAN CITRA AMERIKA TENTANG MUSLIM

Oleh: Ismail Al-'Alam

Seperti Anda, saya pun mengenal tokoh-tokoh adiwira Marvel sejak kecil lewat mainan, komik, dan video gim. Tapi, mungkin tidak seperti Anda, saya baru menonton Marvel Cinematic Universe (selanjutnya ditulis MCU) setelah menikah dengan seorang penyuka film --termasuk film-film Eropa yang membutuhkan "kecerdasan semiotis" untuk bisa memahaminya.

Kami menonton The Avengers: Infinity War di bioskop sepulang bekerja. Tanpa tahu sama sekali rangkaian cerita MCU sebelumnya, apalagi konflik, konteks, dan rincian kecilnya, saya menyaksikan Hulk dan Iron Man bertarung dengan tokoh-tokoh yang tak saya kenali namanya, membuka film di tahun 2018 itu.

Mereka memang hadir untuk kita, orang-orang dengan kenangan masa kecil bersama adiwira Marvel dalam pelbagai rupa, yang kini mendewasa sehingga mampu pergi ke bioskop dengan uang sendiri dan tanpa larangan siapapun. Kecanggihan teknologi grafis yang semakin memanjakan mata begitu selaras dengan kisah imajinatif dalam MCU. Kalau dibuat beberapa dasawarsa lalu, hasilnya mungkin hanya tontonan dengan keterbatasan teknologi yang memprihatinkan dan mutu grafis yang menggelikan.

Kenangan kita itu menjadi sumber pundi-pundi yang begitu penting bagi Marvel.

Di tahun ini, sebagian dari kita tengah bersiap menyambut serial Ms. Marvel di Disney+. Ia mungkin tak hadir dalam komik atau video gim masa kecil kita, tetapi identitas keislamannya tentu begitu melekat dengan identitas kita. Bersama dengan karakter perempuan lain di MCU, Ms. Marvel bukan hanya mendobrak persepsi bahwa adiwira harus seorang lelaki: ia berjalan sendiri untuk menunjukkan bahwa seorang muslim juga bisa menyelamatkan manusia, termasuk Amerika.

Si Kulit Warna yang Berbahaya

Kesadaran tentang hak asasi manusia yang semakin hari semakin membaik mengantarkan para sarjana ilmu sosial-humaniora, di Eropa dan Amerika, untuk menaruh perhatian pada isu rasisme. Beberapa kampus di sana bahkan membuka jurusan "Racial/Black Studies" untuk mempelajari kezaliman apa yang telah kaum berkulit putih lakukan terhadap liyan (yakni, kaum kulit berwarna), tetapi juga mendaftar dan menghormati apa yang telah diberikan liyan pada mereka.

Pada kasus umat Islam, masalahnya lebih rumit lagi. Meski sebagian masyarakatnya kini sekular, Barat menurut Montgomery Watt masih menyimpan citra Islam yang tertanam sejak Perang Salib, bahwa Islam adalah Anti-Kristus. Citra tersebut dapat berubah bentuk dan ekspresinya hari ini, seiring dengan sekularisasi masyarakat itu, misalnya bahwa Islam adalah anti-rasionalitas atau anti-humanisme. Dinamika politik internasional yang mempertemukan negara-negara Barat dan Timur Tengah sepanjang abad 20 dan dasawarsa awal abad 21 semakin memperkaya, kalau bukan memperparah, citra tersebut.

Layar lebar tak lepas dari citra yang bias itu. Di tahun 1984, Jack Shaheen menerbitkan bukunya yang karikaturial, Reel Bad Arabs: How Hollywood Vilifies A People, kajian induktif dan kritis terhadap film-film Hollywood yang menampilkan sosok orang Arab atau adegan di negeri Arab. Ia sampai pada kesimpulan bahwa Arab-Islam adalah 3B: The Bomber (Tukang Ngebom), Billionaire (Miliarder), dan The Belly Dancer (Penari Perut).

Dengan kata lain, pelbagai skenario dan sudut pandang film-film Hollywood hanya memahami wajah Arab-Islam dalam konstruksi para Orientalis, bahwa umat Islam itu berpolitik dengan cara teror bahkan revolusioner a la Khomeini sehingga tak sesuai dengan demokrasi, tetapi punya banyak uang dan minyak bumi sehingga bisa menjadi mitra bisnis yang strategis bagi Eropa dan Amerika. Di sudut-sudut kota Arab, jika para kulit putih itu jeli, kepuasan syahwat juga bisa diraih lewat cara yang sangat purba, meski jalan-jalan kota utama dipenuhi perempuan berjilbab --yang bagi mereka adalah bentuk penindasan.

Berselang beberapa masa, citra tersebut belum betul-betul pudar. Serangan teroris 9/11 malah memicu pencitraan tentang Islam yang lebih ugal-ugalan di dalam produk-produk budaya Amerika. Aktor Sudan, Waleed Elgadi, menjelaskan respons spontan dunia perfilman AS kala itu adalah dengan menggunakan aktor Arab untuk memerankan tokoh yang mendukung citra buruk itu. Ia sendiri, dalam pengakuannya di BBC, sudah pernah memainkan peran "...semua jenis teroris yang bisa Anda bayangkan" dan "...sosok mistikus Arab yang memandang gurun." Sosok protagonis muslim memang mulai muncul sesekali di Hollywood, tetapi perannya dalam film selalu tidak signifikan dan, ini yang konyol, pemerannya justru adalah aktor-aktor Barat!

Batas Humanisme dan Good Muslim

Meski muak dengan itu semua, kita akan keliru kalau mengira islamofobia dan perlakuan rasis terhadap Arab/Islam adalah sesuatu yang dimiliki Barat secara esensial. Ada dua hal yang menjadi argumen untuk itu.

Pertama, xenofobia (penyakit mental berupa ketakutan terhadap orang asing, di mana Islamofobia termasuk di dalamnya) dan rasisme adalah gejala yang bisa dimiliki para katak dalam tempurung, yakni orang-orang picik yang hanya hidup dengan kelompok dan kerumunannya sambil menyimpan prasangka buruk terhadap liyan, tanpa mau belajar secara terbuka dari mereka. Jika menghadapi islamofobia dengan ekspresi atau cara lain yang menunjukkan ciri xenofobia terhadap Barat, kita akan menjadi sama piciknya dengan mereka.

Kedua, dan ini yang penting untuk disoroti secara luas, kaum humanis di Barat sendiri telah banyak melakukan kritik-diri baik secara akademis seperti saya sebutkan di atas, maupun secara gerakan kesenian. Film-film indie telah banyak dibuat untuk menandingi citra sesat Hollywood atas Islam. 

Ms. Marvel pun hadir dengan semangat serupa, setidaknya semenjak edisi komiknya terbit di tahun 2013 --yang ketika itu segera saya dan seorang dosen, Ihsan Ali Fauzi, diskusikan dengan asyik bersama buku Jack Shaheen di suatu sore di kantin Universitas Paramadina. Beberapa riset menunjukkan langkah-langkah humanis itu berdampak cukup besar bagi upaya menghadang islamofobia di Barat.

Tapi, satu persoalan tersisa di sini. Humanisme mereka yang sekular tetap tak menoleransi keyakinan dan tindakan seorang muslim jika hal tersebut mencederai nilai-nilai humanisme itu sendiri.

Analis politik senior Brennan Center for Justice, Faiza Patel, dengan jeli melihat persoalan tersebut bahkan pada sosok Ms. Marvel. Dalam versi komiknya, Ms. Marvel adalah perempuan muslimah cerdas di tengah keluarga yang masih memegang nilai-nilai "Timur": ayah dan ibu protektif yang menginginkan putrinya itu menjauhi pergaulan bebas dan berfokus pada kuliahnya, serta sosok kakak yang 'konservatif.' Dalam pikiran AS, baik kaum Konservatif (maksudnya, umat Protestan taat pemilih Partai Republik) maupun Liberal (umat Protestan liberal, sekularis, dan ateis yang pemilih Partai Demokrat), seorang muslim tidak bisa menjadi konservatif dan toleran atau modern di waktu yang bersamaan.

Di sinilah batasan humanisme dalam menoleransi keislaman seseorang harus dicermati dengan tegas. Dengan hanya mengenal dua kategori bagi sikap agamawan terhadap modernitas, yakni atau konservatif atau liberal, Barat masih gagal memahami sikap tegas Islam terhadap hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai sekular mereka. Dengan ataupun tanpa berjumpa dengan Barat dan modernitasnya, Islam sudah menentang pemahaman keagamaan yang kaku, picik, bahkan destruktif, sebagaimana terdapat dalam pengalaman Islam itu sendiri. Tetapi, kesiapan dan kesediaan Islam untuk terlibat dan memberi sumbangan bagi kehidupan modern, plural, dan global bukan berarti hanya menyisakan pilihan menjadi liberal.

Dalam kasus Ms. Marvel, menyisihkan sosok-sosok 'konservatif' adalah langkah awal untuk mencapai langkah akhir, yakni menampilkan sosok Ms. Marvel itu sendiri. Dalam kehidupan nyata, Ms. Marvel setara dengan generasi ketiga imigran muslim di AS dan Eropa yang telah mengasimilasikan diri dengan nilai dan gaya hidup Barat, berbeda dari kakek-nenek mereka yang masih memegang ajaran Islam sebaik-baiknya. Ia adalah sosok "good muslim" yang diperhadapkan dengan "bad muslim" dalam kategori George W. Bush dan para pengikutnya, atau sosok "American/European Islam" dalam konstruksi para Orientalis. "Bad muslim" atau "American/European Islam" adalah seseorang dengan identitas keislaman, termasuk sejak dari nama diri mereka, tetapi berpikir dan bertindak sama belaka dengan rekan-rekan Barat mereka.

Di tingkat akademis, mereka adalah kalangan liberalis muslim yang menerima premis-premis Orientalisme atau pendekatan Religious Studies yang sekular ketika mengkaji Islam. Di tingkat masyarakat umum, mereka adalah yang menerima norma-norma Barat, alih-alih syari'at dan akhlak Islam, dalam kehidupan sehari-hari. Kedua kelompok ini berbagi peran dalam menjaga tatanan demokrasi liberal dan ekonomi neoliberal, dan akan diperhadapkan dengan kelompok Islam 'konservatif' atau 'radikal'; label yang digunakan Barat untuk mengelompokkan siapa saja yang mengancam segala cita-cita mereka, bahkan jika ia adalah seorang muslim yang wasati dan berakhlak mulia sekalipun.

Dengan daya kritis seperti itulah, menurut saya, Ms. Marvel sebaiknya disambut oleh masyarakat muslim. Karena tak berkepentingan menjadikan analisis ini ideologis apalagi konspiratif, saya tak mempermasalahkan bahkan justru menganjurkan kaum muslim penyuka Marvel untuk tetap menontonnya dengan penilaian masing-masing. Lebih bagus lagi jika Anda berkenan menceritakannya ke saya yang tidak, atau setidaknya belum, tertarik untuk menonton.

Satu hal yang pasti: jika ingin mencari sosok muslim Barat ideal hari ini, temukanlah hal tersebut pada Hamza Yusuf, Timothy Winter, Inggrid Mattson, dan para juru bicara Islam lain di sana, bukan pada sosok yang bingung dengan identitasnya sendiri sambil inferior meniru nilai-nilai Barat. Jangankan di AS dan Eropa, sosok seperti itu sudah bisa kita temui bahkan di Ciputat, Depok, atau Sleman, dan sampai sejauh ini tak pernah sungguh-sungguh duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan Barat yang mereka kagumi.

Wallahu a'lam.

Salatiga, dini hari, 20 Maret 2022

*Ismail Al-'Alam belajar filsafat, Religious Studies, Cultural Studies, and Peace Studies di Jakarta dan Yogyakarta; saat ini menjadi Manajer Program Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara.