(MENYESAL) MENJADI ORANG INDONESIA.... ENAKNYA WARGA ARAB

(MENYESAL) MENJADI ORANG INDONESIA....

Oleh: Azwar Siregar

Adik sepupu saya. Seorang Pelaut. Kapal mereka sering dikontrak oleh Aramco. Perusahaan Minyak asal Saudi.

Tadi malam kami mengobrol banyak. Saya penasaran dengan isu perlakuan istimewa oleh Negara-negara Arab kepada Warga Negara mereka sendiri.

Ternyata benar. Adik sepupu saya bercerita. Ada beberapa kali Warga Asli Arab Saudi yang ikut bekerja di Kapal. Belum tahu apa-apa dan memang tidak tahu apa-apa, tapi digaji 16 ribu Dolar perbulan.

Berarti sekitar 228 juta lebih perbulan. 

Dilain pihak, dengan jabatan atau posisi yang sama, dan sudah pasti harus benar-benar ahli dan terlatih, warga Non Arab, hanya digaji 8 ribu dolar!

Tapi ya tetap saja lumanyun, eh...lumayan. 114 jutaan perbulan. Itu penghasilan kelas CEO. Hanya bisa dikalahkan oleh para Sultan-Sultan yang ternyata Penipu Judi Online berkedok Trading Binary Option.

Murah...eh Najis Banget!

Belum lagi lemahnya mental si Warga Asli Arab. Kata Adik Sepupu saya, Laut baru Bergelombang dikit, dia sudah pucat. Meminta dipanggilkan Helikopter Penyelamat.

Tapi ya itu. Seperti kata Adik Sepupu saya, warga Arabnya saja mau bekerja, sudah menjadi berkah dan kebanggaan bagi Negaranya. Ketimbang warga Negaranya ngga mau kerja, tetap akan digaji oleh Negara.

Jadi yang mau saya lihat adalah sisi Positifnya. Bagaimana Negara Arab menjadikan Kekayaan Alamnya menjadi berkah buat Warga Negara mereka.

Kerja dibayar mahal. Ngga kerja juga tetap mendapatkan bagi hasil dari kekayaan Negara mereka lewat berbagai tunjangan.

Coba bandingkan dengan Negara kita. Indonesia tercinta. Tambang Nikel kita di Morowali misalnya. Perusahaan China yang menambang. Kekayaan Alam kita tersebut justru malah menjadi berkah buat Rakyat China. Bukan buat Rakyat Indonesia.

Masalah Penggajian juga kabarnya sangat timpang. Pekerja bangsa kita digaji selevel UMR. Sedangkan Pekerja dari China digaji bisa 3 atau malah sampai 5 kali lipat.

Apa ngga sialan itu?

Belum lagi perlakuan yang TERBALIK. Di Saudi atau di Dubai. Warga Pribumi sangat dihormati dan dimanjakan. Pekerja Asing wajib menghormati Pekerja setempat. Kalau anda bermasalah dengan mereka, siap-siap dideportasi.

Bandingkan dengan kondisi Bangsa kita. Justru Pekerja Asing yang dimanjakan. Datang bak raja. Lagi Lockdown saja mereka bisa berdatangan. Sedangkan rakyat sendiri keluar rumah mencari nafkah malah dipersulit.

Belum lagi kondisi di Perusahaan yang dikelola asing tersebut. Anak bangsa kita diperlakukan seperti KULI. Karena mereka yang menggaji. Sementara Buruh dari China diperlakukan seperti RAJA. Makanya mereka bergaya seperti Raja!

Padahal yang sedang dikelola adalah Kekayaan Alam Bangsa kita. Yang seharusnya membuat rakyat kita sejahtera!

Apa kamu ngga "ngenes" jadi Orang Indonesia?

Si Adik Sepupu juga bercerita. Konon jaman pembukaan Aramco. Didatangkan para tenaga Ahli dari Amerika. 

Ya namanya orang Amerika. Pernah pagi-pagi sepasang suami-istri lari pagi. Pakai pakaian olah raga yang kekurangan bahan. Lewat daerah Pelabuhan yang sepi. Si Suami dipukuli dan si istri dilecehkan secara seksual. 

Jelas-jelas yang salah adalah para Perusuh. Tetapi kemudian yang dideportasi adalah pasangan suami istri. Karena mereka dianggap lalai dan tidak menghormati budaya setempat.

Bayangkan warganya jelas-jelas sudah salah. Yang jadi korban Warga Amerika lagi. Para Ahli lagi. Tapi Negara mereka "tetap berpihak" kepada rakyatnya!

Akibatnya bangsa lain yang datang ke Saudi juga mau tidak mau harus bersikap hormat kepada warga setempat. Warga Asli adalah Tuan di tanah mereka. Para Pendatang sehebat apapun adalah warga kelas dua. Ngga mau bersikap hormat ya jangan datang ke Tanah Arab!

Contoh lain kata Adik Sepupu saya, di kawasan Pelabuhan ada Pengumuman dilarang Memancing. Karena Adik saya melihat ada beberapa pancing tanpa pemilik, dia mencoba memancing juga. Datang Petugas Keamanan. Dari Logatnya sepertinya berasal dari India. Dia langsung dimarah. Tidak diperbolehkan memancing.

Beberapa menit kemudian, pemilik pancing yang dibiarkan datang. Warga Asli Arab. Si Petugas Keamanan bukannya marah. Malah membungkuk hormat sambil menyapa "Selamat sore Tuan".

Nah lo. Sikap Pemerintahlah yang menjadikan rakyatnya sebagai Tuan atau budak di negara mereka sendiri. Pemerintah Arab jelas menjadikan rakyatnya sebagai Tuan di Tanah mereka sendiri. Sedangkan Pemerintah kita menjadikan rakyat seperti budak di Bumi Pertiwinya sendiri!

Hal yang sama juga membuat Kapten Kapal mereka. Warga Negara kita juga, asal Tana Toraja, kata Adik Sepupu berkali-kali seperti menjilat kepada ABK asal Arab. Asal mereka pulang, si Kapten akan meminta dibuatkan semacam surat yang menyatakan si ABK senang dengan kepemimpinannya.

"Kapten terbaik yang pernah saya temukan" kurang lebih kata ucapan dalam bentuk tulisan dari si ABK asal Arab yang dipamerkan si Kapten.

"Ya jelas lah Bang. Si Arabnya juga baru sekali ini kerja. Sudah pastilah kenalnya cuma si kapten..." kata Adik saya sambil tertawa terbahak-bahak.

Sekali lagi, saya bukan mau memuji atau sebaliknya mau merendahkan orang Arab. Tapi saya sangat salut dengan Pemuliaan Negara mereka terhadap rakyatnya. 

Saya sangat hormat dengan Negara Arab yang menjadikan Rakyatnya sebagai tuan di tanah mereka. 

Sangat iri dengan Rakyat Arab yang bisa menikmati kekayaan alam negara mereka. 

Pernahkah anda berpikir, andai kekayaan negeri ini juga dimanfaatkan untuk mensejahterakan rakyat kita? Kita pastinya 10 kali lebih kaya dan lebih sejatera dari Rakyat di Saudi atau di Uni Emirat Arab. 

Ngga usah jauh-jauh. Lihat saja keberkahan yang dirasakan rakyat Brunai Darussalam. Negera kecil di ujung Pulau Kalimantan yang kekayaannya tidak ada apa-apanya dibandingkan Kalimantan Timur!

Sayangnya gonta-ganti Rezim, tapi kekayaan bangsa kita cuma dinikmati segelintir orang saja.

Jangankan berharap sejahtera, rakyat kita malah dianggap lebih rendah dari Tenaga Kerja Asing yang datang ke Negara kita. 

Tanya saja si Oppung Badjingan itu!!!

(fb)