Menilik Kerja Sama Rusia dan Israel

Menilik Kerja Sama Rusia dan Israel

Oleh: Pizaro Gozali (Peneliti Center for Islam and Global Studies)

Serangan Rusia terhadap Ukraina sejak 24 Februari lalu terus menyita perhatian publik. Banyak orang kemudian terjebak dalam salah satu dukungan terhadap kedua pihak. Salah satu pihak mendukung Ukraina dan NATO. Pihak lainnya mendukung Rusia. Salah satu alasan yang diberikan untuk mendukung Putin beralasan Rusia adalah sebuah kekuatan entitas yang melawan dominasi barat dan zionis Israel saat ini. Pertanyaannya adalah: betulkah?

Hubungan Sejarah Uni Soviet dan Israel

Jika kita mempelajari hubungan internasional, maka kita perlu memahami legasi sejarah dan interaksi geopolitik antara Uni Soviet, yang kemudian menjadi Rusia, dengan Israel.

Hubungan Uni Soviet dan zionis Israel telah berlangsung sangat lama. Megan Bailey dalam A Strategic Alliance: An Exploration of Israeli-Russian Relations (2014) menyebut legasi relasi resmi Soviet dengan Israel terjadi saat Soviet menerima rencana PBB untuk membagi Mandat Inggris atas Palestina menjadi dua negara yakni Yahudi dan Muslim pada 1947.

Saat itu, Uni Soviet menjadi menjadi salah satu negara pertama yang mengakui penjajah Israel usai membentuk negara palsu di atas penjajahan terhadap bangsa Palestina pada Mei 1948.

Tiga hari setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaan palsunya atau 17 Mei 1948, Soviet secara resmi mengakui Israel.

Selanjutnya, politisi Zionis Golda Meir, yang kelak menjadi perdana menteri pada 1969-1974, diangkat sebagai duta besar Israel untuk Uni Soviet, dengan masa jabatan dimulai pada 2 September 1948.

Dukungan kelompok Yahudi Soviet terlihat saat Meir menjabat. Saat menghadiri kebaktian Rosh Hashanah dan Yom Kippur di Sinagog, Meir dikelilingi oleh 50.000 orang Yahudi.

Namun tidak selamanya hubungan Soviet dan Israel tanpa dinamika. Hubungan kedua entitas itu kompleks dan beragam, termasuk dukungan diplomatik, militer, kerja sama teknologi, dan energi.

Pada Juni 1967, Uni Soviet memutuskan hubungan dengan Israel setelah Perang Enam Hari di mana Israel merebut wilayah dari Yordania dan sekutu Soviet Mesir dan Suriah. Moskow merespons untuk mempersenjatai dan mendanai negara-negara Arab selama beberapa dekade.

Hampir 20 tahun kemudian, ketegangan Rusia dan Israel akhirnya secara bertahap mulai pulih. Pemulihan hubungan antara Soviet dan Israel terjadi pada Agustus 1986. Kontak resmi pertama terjadi di Helsinki antara delegasi konsuler Israel dan Soviet. Pada Oktober 1991, Mikhail Gorbachev membangun kembali hubungan diplomatik dengan Israel, tepat dua bulan sebelum runtuhnya Uni Soviet.

Gorbachev saat itu mengizinkan warga Yahudi untuk beremigrasi dengan bebas dan lebih dari satu juta orang pindah ke Israel selama satudekade.

Setelah itu, hubungan kedua pihak terus berkembang dari waktu ke waktu. Pada April 1994, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin melakukan kunjungan resmi ke Moskow. Kunjungan ini adalah yang pertama dilakukan perdana menteri Israel sekaligus menandai normalisasi penuh hubungan bilateral kedua pihak.

Selanjutnya pada September 2001, perdana menteri Israel saat itu Ariel Sharon dan Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu di Moskow. Keduanya bersama-sama mengutuk terorisme di mana Putin dan Sharon sama-sama mengatakan mereka adalah korban.

Posisi Kremlin dan Israel semakin dekat sejak serangan Rusia di republik Chechnya, di mana Moskow mengklaim sedang memerangi terorisme. Dan Israel mengklaim mendapatkan serangan dari pejuang Palestina. Meski pada kenyataannya, apa yang dilakukan faksi perlawanan Palestina hanyalah respons atas penjajahan, kekerasan, pembunuhan, penggusuran yang dilakukan negara Zionis itu.

Selain itu, Israel menjadi destinasi nomor satu bagi orang Yahudi pasca-Uni Soviet migrasi, sehingga diaspora Rusia-Yahudi yang besar ada di Israel.

Larissa Remennick dalam Transnational community in the making: Russian Jewish immigrants of the 1990s in Israel (2002) menyampaikan Israel menyerap lebih satu juta orang Yahudi Rusia, yang meningkatkan populasi Israel sekitar delapan belas persen. Komunitas diaspora telah mempertahankan jaringannya di Rusia, sehingga meningkatkan hubungan antara kedua negara.

Kerja Sama Pertahanan Rusia-Israel

Salah satu sektor terbesar kerja sama antara Rusia dan Israel adalah bidang pertahanan. Keduanya selama ini telah terlibat upaya untuk meningkatkan kapasitas militernya masing-masing.

Pada 2010, Rusia dan Israel resmi menandatangani perjanjian kerja sama militer. Menteri Pertahanan Rusia Anatoly Serdyukov mengatakan Moskow mempelajari dengan serius praktik militer Israel saat memodernisasi tentaranya.

Sementara itu, Menhan Israel Ehud Barak mengatakan Israel siap pengalaman dengan militer Rusia dalam memerangi “terorisme” dan memastikan keamanan, termasuk dengan menggunakan pesawat tak berawak (Al-Arabiya, Associated Press, 2010).

Saat itu, Putin mengatakan telah membeli beberapa kendaraan udara tak berawak di Israel. Rusia juga telah meluncurkan beberapa satelit untuk kepentingan Israel. “Kami sedang memeriksa kemungkinan untuk melengkapi pesawat Israel dengan instrumen dan peralatan laser kami," ucap Putin.

Rusia telah berusaha untuk membangun armada pesawat mata-mata buatan Israel sejak Georgia menggunakan pesawat Israel semacam itu untuk melawan Rusia dalam perang tahun 2008.

Saat itu, pejabat Rusia mengatakan Israel telah menjual 12 pesawat tanpa pilot ke Moskow dan akan memasok 36 lagi, senilai sekitar USD100 juta.

Pada April 2014, Israel mengambil sikap netral terhadap aneksasi illegal Rusia atas Krimea, yang merupakan rumah bagi 12 persen etnis Muslim Tatar, di PBB. Kondisi ini membuat marah pejabat Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih (Hareetz, 2014).

Sebaliknya, selama Operasi Protective Edge pada tahun 2014 untuk menghentikan perlawanan Hamas, Moskow memberikan dukungan bagi Israel. Dalam perang Gaza itu, total 1.880 orang tewas, termasuk 1.500 warga sipil berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza. Dan Putin menyatakan bahwa "Saya mendukung pertempuran Israel yang dimaksudkan untuk melindungi warganya". (Federation of the Jewish Communities of The CIS, 2014).

Joshua Krasna dalam Moscow on The Mediteranian: Russia and Israel’s Relationship (2018) mencatat hubungan Israel dan Moskow meningkat tiga kali lipat sejak Putin naik ke kekuasaan pada 2000.

“Kemajuan stabil yang telah dibuat sejak pemulihan hubungan diplomatik pada tahun 1991—dan khususnya sejak Vladimir Putin menjabat pada tahun 2000—mewakili peningkatan yang signifikan dalam keamanan nasional Israel dan dan keuntungan penting bagi kebijakan global dan regional Rusia. Hubungan bilateral terbaik yang mereka miliki sejak 1991,” tulis Krasna.

Krasna mengatakan untuk memahami kepentingan Rusia terhadap Israel, pertama-tama kita harus memahami Moskow secara lebih luas dalam hal tujuan kebijakan, baik regional maupun global. Menurut pakar Rusia Dmitri Trenin, tujuan utama kebijakan luar negeri Moskow dalam beberapa tahun terakhir adalah mengembalikan Rusia ke “tingkat teratas politik global.”

Kontak Putin dan Bennett

Kini rezim zionis Israel telah berganti. Naftali Bennett naik ke puncak kekuasaan Israel sebagai perdana menteri Israel pada 2021 menggantikan Benyamin Netanyahu. Meski wajah penguasa Israel berganti, hubungan Rusia dan Israel tidak lantas berubah.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett telah melakukan kontak untuk mendukung negaranya masing-masing. Kedekatan keduanya mendorong Putin meminta Bennett agar melobi AS meringankan beberapa sanksinya terhadap rezim Bashar al-Assad.

Lobi ini dilakukan Moskow kepada Tel Aviv agar perusahaan-perusahaan Rusia dapat mengambil bagian dalam rekonstruksi di Suriah.

Moskow ingin mendapatkan sebagian besar proyek rekonstruksi skala besar di Suriah dalam upaya meningkatkan pendapatan sambil meningkatkan pengaruhnya terhadap ekonomi Suriah.

Menurut Rusia, sanksi AS membuka jalan bagi perusahaan Iran untuk mendapatkan proyek-proyek rekonstruksi besar demi meningkatkan pengaruh Iran di Suriah.

Saat perang Rusia-Ukraina meletus, Bennett muncul sebagai pemimpin Israel yang berusaha menengahi konflik. Batu Coskun (2022), pakar kajian Israel dan Teluk, mengatakan motif ini dilakukan karena Bennett haus akan pengakuan publik internasional pasca Netanyahu lengser.

Nama Bennett masih asing dalam pergaulan internasional. Abraham Accord, keputusan Washington untuk memindahkan kedutaan Amerika ke Yerusalem dan keputusan Trump untuk menarik diri dari perjanjian nuklir Iran adalah kemenangan bagi Netanyahu yang pada gilirannya ditransformasikan menjadi propaganda elektoral.

Bennett tidak menikmati prestise internasional yang sama seperti Netanyahu. Dia masih belum dikenal oleh sebagian besar pemimpin global dan memiliki sedikit pengalaman di forum multilateral.

Selain itu, kata Coskun, adalah faktor keamanan kawasan. Israel dapat beroperasi di Suriah lewat restu Rusia, yang menjalankan kontrol hampir total atas wilayah udara rezim Assad. Dengan demikian, Israel memandang insentif yang besar dalam mempertahankan hubungannya dengan Moskow.

Bennett akhirnya bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama tiga jam di Kremlin pada 5 Maret lalu. Bennett juga telah berbicara dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky beberapa kali melalui telepon dalam beberapa hari terakhir dan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Foreign Policy (2022) mencatat diplomasi yang dilakukan Bennett juga dimaksudkan untuk melestarikan kepentingan strategis Israel di Timur Tengah ketika konflik Ukraina meningkat serta memastikan keamanan komunitas besar Yahudi di Ukraina.

Seorang pejabat di kantor Bennett mengatakan pembicaraan itu dilakukan "dalam koordinasi dan dengan restu" Washington dan dapat berfungsi sebagai saluran utama bagi Barat dalam meredakan konflik dan solusi tetap bisa dilakukan di atas meja.

Israel memilih bersama Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya di Majelis Umum PBB mengutuk invasi Rusia. Tetapi Tel Aviv juga menolak permintaan Ukraina untuk mengirim perlengkapan militer, termasuk perlengkapan pertahanan.

Keengganan Israel untuk masuk melawan Rusia berasal dari serangkaian perhitungan yang dianggap penting oleh Israel dalam melestarikan arsitektur keamanan zionis di Timur Tengah, khususnya Baitul Maqdis.(*)