Masih banyak yang percaya takhayul kalau Putin gak pro Zionis🥱🥱


How Russia saved Israel from a Palestinian state based on the '48 borders

Bagaimana Rusia Menyelamatkan Israel dari Terbentuknya Negara Palestina Berdasarkan Perbatasan '48 

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menceritakan kisah drama besar yang terjadi di balik layar di Dewan Keamanan PBB sesaat sebelum mantan Presiden AS Barack Obama lengser dari jabatannya.

Rincian baru tentang beberapa drama yang melibatkan Israel, Rusia, dan AS yang terjadi di balik layar di Dewan Keamanan PBB sekitar empat tahun lalu mulai terungkap.

Tampaknya Rusia menunjukkan kesediaan yang jarang untuk menggunakan hak veto DK PBB atas nama Israel untuk memblokir resolusi yang dipimpin oleh Presiden AS Barack Obama, yang akan memaksa Israel untuk mendirikan negara Palestina berdasarkan perbatasan tahun 1948.

Kira-kira enam bulan yang lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan pada rapat umum pemilihan di Maaleh Adumim bahwa dia telah meminta seorang "teman," yang dia sebut sebagai "pemimpin salah satu negara adidaya yang memegang hak veto di Dewan Keamanan PBB," untuk memberikan suara menentang resolusi tersebut. Netanyahu memuji pemimpin itu, yang tidak dia sebutkan namanya, dengan menghentikan resolusi tersebut.

Dalam pertemuan tertutup baru-baru ini, Netanyahu mengungkapkan rincian lebih lanjut tentang peristiwa yang tidak biasa itu.

Menjelang akhir masa jabatan kedua Obama, AS mempelopori Resolusi DK PBB 2334, yang menyatakan bahwa Israel melanggar hukum internasional dengan kehadirannya di wilayah yang direbut dalam Perang Enam Hari 1967. Israel menyadari pada saat itu bahwa pemerintah AS sedang mengoordinasikan resolusi tersebut dengan Palestina dan Eropa, tetapi tidak memiliki cara untuk memblokirnya tanpa dukungan dari AS.

Pada 24 November 2016, Netanyahu menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin dan menjelaskan bahwa resolusi yang sedang dikerjakan Obama akan mengganggu stabilitas regional dan merugikan Israel. Netanyahu meminta Putin untuk menyatakan bahwa dia bermaksud menggunakan hak veto DK PBB untuk menggagalkan resolusi tersebut. Tapi Putin menolak. Pada 23 Desember 2016, DK PBB mengeluarkan Resolusi 2334, meskipun Duta Besar AS saat itu untuk PBB Samantha Power akhirnya abstain.

Namun, Obama punya rencana tambahan, meski ia hanya punya waktu kurang dari sebulan di Gedung Putih (sebelum lengser). Dia dan stafnya mulai mengerjakan resolusi DK PBB lainnya, yang akan memaksa Israel untuk menyetujui negara Palestina berdasarkan perbatasan tahun 1948. Duta Besar Israel untuk PBB saat itu, Danny Danon, membunyikan alarm (waspada bahaya).

Pada saat itu, pemerintah AS membantah klaim Israel bahwa resolusi lain, selain UNSCR 2334, akan dibawa ke hadapan Dewan Keamanan PBB.

Namun demikian, Netanyahu kembali meminta bantuan dari Putin untuk mencegah resolusi lain itu. Dalam percakapan telepon, dia menjelaskan kepada Putin bahwa resolusi baru Obama akan merugikan Israel dan dapat mengacaukan kawasan.

Putin berhasil diyakinkan dan memberi tahu Netanyahu bahwa jika resolusi itu diambil melalui pemungutan suara, Rusia akan memvetonya.

Menurut apa yang dikatakan Netanyahu dalam pertemuan tertutup itu, Obama diberitahu tentang niat Rusia untuk memveto langkah Amerika. Obama menyadari bahwa jika Rusia memveto resolusi AS untuk melindungi Israel, itu akan menjadi pukulan fatal bagi citra AS sebagai sekutu Israel dan posisinya di komunitas Yahudi. Oleh karena itu, Obama memutuskan untuk mengesampingkan resolusi tersebut, kata Netanyahu.