Keluarga Ganjar Pranowo, Dari Keluarga Kyai Membangun Harmoni


[PORTAL-ISLAM.ID]  Gubernur Jawa Tengah dan tokoh masyarakat Ganjar Pranowo menikah dengan Siti Atikoh Supriyanti, cucu Kyai Hisyam. Dengan demikian, Ganjar mendapatkan status sebagai cucu menantu Kyai Hisyam, ulama kondang yang sangat disegani dan dihormati.
 
Kyai Hisyam memiliki nama kecil Muhammad Qosim. Setelah 15 tahun mengembara untuk belajar mengaji ke sejumlah ulama, sang kyai lantas mendirikan Pondok Pesantren Roudlotus Sholihin di Pedukuhan Sokawera, Desa Kalijaran, Karanganyar, Purbalingga.
 
Kiai Hisyam juga aktif di NU. Ia tercatat pernah menjabat Rais Syuriah PCNU Purbalingga selama tiga periode, sejak 1973 hingga 1983. Kyai Hisyam wafat pada Kamis Kliwon, 4 Jumadil Akhir 1410 H atau bertepatan dengan 12 Januari 1989. Pesantren Kalijaran saat ini dikelola secara gotong royong oleh keturunannya. Satu di antaranya adalah cucunya, yakni: Siti Atikoh, istri Ganjar Pranowo.
 
Ganjar memang tak pernah bertemu Kyai Hisyam. Namun cerita tentang karisma simbah mertuanya itu sering ia dapat. Saat mengunjungi rumah warga yang mendapat bantuan RTLH di Banjarnegara, misalnya, Ganjar kaget melihat ada foto Kyai Hisyam di rumah itu.

Ketika tahu Ganjar adalah menantu Kyai Hisyam, orang itu langsung memeluk dan menciumi dirinya. ”Ternyata dulu beliau santrinya Kyai Hisyam. Lha, saya kok langsung dirangkul terus diambungi, Gus,” cerita Ganjar kepada Kyai Ahmad Bahaudin Narslaim, atau yang dikenal dengan sebutan Gus Baha. (Lihat: 
https://www.jpnn.com/news/ini-sosok-kiai-hisyam-si-mbah-mertua-ga njar-pranowo)
 
Gus Baha yang mendengar cerita itu dari Ganjar, terbahak. Menurutnya, itu hal biasa di kalangan santri. Istilahnya ngalap berkah sang kyai. ”Mesthi langsung dicucup mbun-bunane (pasti langsung dicium ubun-ubunnya),” ujar Gus Baha, melanjutkan tawa.
 
Peran Besar Istri 

Di balik kesuksesan suami, selalu ada istri hebat di belakangnya. Rasanya, tidak ada yang menepis kebenaran pepatah klasik itu. Tidak terkecuali Ganjar, yang meyakini ada peran besar sang istri, Siti Atikoh – juga anak semata wayangnya: Muhammad Zinedine Alam Ganjar – berada di balik karier cemerlangnya sebagai politisi, pejabat publik, dan pemimpin rakyat.
 
Peran besar (terutama) dari sang istri, sudah pasti tidak sekadar ditunjukkan saat tampil mendampingi dirinya dalam forum-forum resmi. Bukan pula terekam lewat aktivitasnya selaku istri kepala daerah, yang memang memiliki jabatan fungsional. Mulai dari Ketua Tim Penggerak PKK, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), hingga menjadi Bunda PAUD Provinsi Jawa Tengah.
 
Buat Ganjar, peran Atik – sapaan karib sang istri – jauh lebih besar dari sekadar istri pejabat. Atik, boleh dibilang, adalah ”paket lengkap” sebagai pendamping hidup. Bertemu pertama kali saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Temanggung, sebagai sesama mahasiswa UGM pada 1994, Atik ia nikahi pada 25 September 1999.
 
Sebelum menikah, lima tahun mereka menjalani hubungan jarak jauh. Long distance relationship, yang sungguh tidak mudah. Ganjar merintis karier sebagai karyawan bagian HRD di sebuah perusahaan di Jakarta. Sedangkan Atik, antara lain menjadi wartawan Solopos di Surakarta.
 
Kesetiaan dan ketulusan hati Atik sudah terlihat sejak mereka masih pacaran. Keseriusan Ganjar untuk menikahi perempuan kelahiran Purbalingga, 25 November 1971, itu muncul saat dirinya melihat sang kekasih terus mendampinginya merawat Mbak Ika, kakak ipar yang mengidap kanker. Mbak Ika punya jasa besar, lantaran dialah yang membiayai sekolah Ganjar semasa SMA.

”Selama saya merawat kakak di rumah sakit, Atik nemenin terus. Baju kakak dicuciin di kosnya, lalu dibawain makan. Saat itu, dalam hati saya bilang, 'Pasti, ini yang akan jadi istri saya kelak,” ungkap Ganjar. Mbak Ika akhirnya meninggal setelah sekian lama dirawat. Ganjar yakin memilih Atik sebagai istri, lantaran menurutnya perempuan yang kemudian menjadi PNS di Pemprov DKI Jakarta itu tetap setia dan mengerti keadaannya saat itu, yang notabene berasal dari keluarga kurang mampu. ”Kalau cari orang seneng kan gampang. Cuma, saat itu semua teman saya tahu, Ganjar ini miskin. Dan, dia ngerti,” terangnya.

Mewakafkan Suami

Paket lengkap Atik sebagai istri juga terlihat dari bagaimana ia bersikap dan bertindak selaku istri gubernur. Dalam sebuah wawancara, Atik mengatakan, ketika dulu sang suami terpilih sebagai gubernur, ia menyadari konsekuensinya: Ganjar akan tidak mempunyai banyak waktu di rumah, karena kesibukan menjalankan tugas.

”Ketika suami dilantik menjadi pejabat publik, saat itu juga, maaf, kita sudah mewakafkan suami untuk masyarakat. Jadi, tidak ada lagi romantisme di situ,” tuturnya. (Lihat juga: 
https://wolipop.detik.com/entertainment-news/d-5554949/curhat-istri -cantik-ganjar-pranowo-saya-mewakafkan-suami-untuk-masyarakat) 
Atik mengungkapkan, waktu untuk kebersamaan dengan Ganjar terhitung sangat sedikit. Dan, biasanya hanya ada di pagi hari. ”Kalau ada waktu, me time sama suami, ya paling olahraga pagi. Kita sama-sama hobi sepedaan. Berolahraga sambil melihat warga, dan jam 7-8 pagi sudah masuk kantor,” ucapnya. Saking sibuknya sang suami menjalani tugas sebagai gubernur, lanjut Atik, mereka juga nyaris tak pernah punya waktu untuk liburan. Kalaupun diagendakan untuk liburan, rasanya tetap sangat sulit. “Karena Mas Ganjar adalah pemimpin rakyat dan jam kerjanya 24 jam dalam tujuh hari. Tidak ada waktu libur dan hari libur,” imbuhnya.
 
Atik mengaku bersyukur, selama menjalani pernikahan dirinya tak pernah direpotkan dengan urusan makan sang suami. Selain karena Ganjar jarang makan di rumah, lantaran lebih banyak beraktivitas di berbagai daerah di Jateng, untuk urusan makan Ganjar pun tak mau repot. ”Dia makannya gampang, yang penting ada sayur dan kerupuk,” cetus Atik, sambil tertawa.

Atik tak menepis fakta, cintanya kepada Ganjar, begitu juga cinta Ganjar kepada dirinya, terjadi pada pandangan pertama di lokasi KKN. ”Pertama kali saya jatuh cinta, yakni ketika melihat Mas Ganjar sedang bersosialisasi dengan masyarakat saat KKN,” kata Atik.

Kalau Ganjar tidak pernah merepotkan dirinya, begitupun sebaliknya. Atik, dan juga Alam, tak pernah mencampuri atau merepoti suami dan bapaknya selaku gubernur.

”Kalau urusan pekerjaan, saya tidak ikut campur. Tapi kadang kami berdiskusi. Saya memberikan kritik sebagai masyarakat, tidak cuma mendukung. Namun, terkait pekerjaan tertentu, saya menghargai
(Ganjar) sebagai hak prerogatif, dan tidak menanyakan lebih jauh,” ungkapnya.

Anak Berpretasi 

Keengganan merecoki suami juga ditunjukkan Atik terkait dengan penampilan. Ia tak memasang call tinggi untuk keperluan dandan. Atik misalnya, tidak memiliki koleksi tas branded, bahkan tidak tahu merek-merek itu. Berbeda halnya dengan produk lokal, ia dan Ganjar sudah seperti manekin berjalan.
 
“Itu bagian dari promosi produk warga karena Ganjar adalah pemimpin rakyat, saya cukup percaya diri dengan apa yang saya kenakan. Saya percaya orang melihat saya dari bagaimana saya bersikap, menghargai orang lain, dan apa yang ada di kepala kita (pemikiran),” ucap Atik, dalam sebuah talkshow. (Lihat: https://jatengprov.go.id/publik/jadi-istri-gubernur-atikoh-tak-segan-pa kai-produk-lokal/) 
Sikap sederhana seperti itu, diakui Atik, sudah tertanam sejak awal pernikahannya dengan Ganjar. Ia mengaku memulai pernikahan dengan tidak bermewah-mewah. Bahkan bisa dibilang merangkak dari bawah.

Ketika Ganjar dinobatkan sebagai orang nomor satu dan pemimpin rakyat di Jawa Tengah, kesederhanaan itu tetap dipertahankan. Dengan cara itu, Atik percaya, akan menghindarkan keluarganya dari sikap hedonis.
”Nah, meski sudah mewakafkan suami untuk masyarakat, kami tetap menjaga keromantisan hubungan dengan berupaya meluangkan waktu untuk makan malam bersama. Di situlah kami ngobrol dengan mematikan handphone,” papar Atik. 

Bicara tentang Zinedine Alam, Ganjar dan Atik mengaku bangga banget. Tidak cuma ganteng, kelahiran 14 Desember 2001 itu juga dikenal sebagai siswa berprestasi. Ia pernah menjuarai kompetisi sains di Korea Selatan pada 2015. Kini, Alam kuliah di Teknik Industri UGM Yogyakarta.