Ibu-ibu semprot Megawati: Membacot saja ndak cukup membantu, Bu...

Bu Mega tidak tau, saya pagi ini menggoreng sisa kerupuk bakso buatan bapaknya asisten Lina. Botol minyaknya sampai saya tungging hingga tetes terakhir selesai seolah saya ini pelit banget, trus saya jadi sedih sendiri bayangin penjual bakso kayak bapaknya Lina itu mesti jauh lebih kalut mikirin minyak buat produksi baksonya. 

Saya rencananya mau buru-buru pesan lagi supaya bisa sedikit membantu produksi baksonya tetap berputar. Konon di kampung yang jualan bakso sudah cukup banyak. Saingan banyak, bahan produksi mahal, daya beli masyarakat kegencet sama harga-harga yang naik. Sedap betul tantangannya.

Sehari beliau butuh 3 liter minyak goreng. Tampak kecil saja omsetnya tapi beliau ini bangun tiap hari bersemangat mengerjakan pekerjaannya tanpa jemu. Kemarin-kemarin masih ketolong harga subsidi. Konon nyari minyak curah pun stoknya terbatas karena konsumsi rumah tangga pada pindah milih minyak curah yang harganya lebih bersahabat. 

Harga kerupuk baksonya masih 500 rupiah per biji. Tiap hari beliau konsisten nabung dua puluh ribu minimal di celengan khusus, nanti kalau isinya udah nyampe lima atau enam juta, celengan dari bekas kaleng biskuit itu dibuka dan duitnya dibawa ke bank untuk disetor. 

Perjalanan ke lima sampai enam juta itu cukup lama dan panjang, jauh lebih panjang daripada urusan menggolkan proyek bernilai milyaran.

Lima sampai enam juta bisa ditabung itu meski bukan nilai yang memuaskan tapi cukup bisa membuat keluarga mereka bertahan dan mandiri.

"Saya tuh sampai mikir, jadi tiap hari ibu-ibu itu apakah hanya menggoreng. Sampai begitu rebutannya," ucap Bu Mega dalam konferensi Pers.

Iya Bu, ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang tiap hari kerjanya menggoreng dan butuh stok minyak goreng karena itu satu-satunya sumber mata pencaharian mereka. 

Kita memang kadang jadi pintar membuat analisa dan kesimpulan kalau kita punya segalanya; ya duit ya privilege ya jabatan ya akses yang mudah.
Ibu Mega tidak tau, sejak minyak goreng langka dan harganya mulai naik, saya jadi rajin pesan bakso dan kerupuknya di bapaknya Lina trus saya bayar harganya lebih mahal biarpun anaknya mati-matian pengen dihargai harga normal dan dikasih bonus pula. Itu bukan karena saya doyan bakso.

Saya cuma kepikiran, membacot saja ndak cukup membantu, Bu...

(Mimi Hilzah)

*fb