Dignity seorang Ali bin Abi Thalib

Dignity (Martabat) seorang Ali bin Abi Thalib

Pernah gak Ali bin Abi Thalib mengemis bantuan kepada Ustman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf? Sama sekali gak pernah. 

Pernah gak ketika telah menikah dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah meminta bantuan materi kepada Rasulullah? Gak pernah. Fatimah memang pernah mengadu dengan sang Ayah atas kemiskinan yang ia derita. Dan Nabi Muhammad SAW hanya menyuruhnya bersabar. 

Sangat mudah bagi seorang Rasulullah untuk melimpahkan kesejahteraan buat putri kesayangannya itu. Beliau hanya tinggal menjentikkan jari, maka seketika itu juga para sahabat akan bergotong-royong membangunkan istana buat Fatimah. Memberinya perabotan termahal, karpet dari Persia, pakaian sutra, cawan dari emas pun akan diberikan kalau baginda Nabi sudah mengeluarkan perintah. Tapi hal ini sama sekali gak pernah terjadi.

Tidak membantu perekonomian keluarga Ali bin Abi Thalib bukan berarti Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tidak peduli. Justru dengan sikap itulah mereka menghargai Ali bin Abi Thalib. Percaya penuh bahwa Ali bisa menjadi imam yang baik buat Fatimah. 

Walau miskin papa, Ali tetap dihargai oleh sahabat yang lain. Ali bukan pria pemalas yang kerjanya cuma tidur-tiduran saja. Walaupun rumahnya cuma tipe RSSSS (Rumah Sangat Sangat Sangat Sederhana), Ali tetap terpandang, dihormati dan disegani oleh Umar bin Khattab. Ustman walaupun kaya raya tetap mendengar saran dan kritik dari Ali yang usianya lebih muda. 

Itulah Islam yang sebenarnya. Kekayaan tidak pernah menjadi patokan untuk menghormati atau menghargai seseorang. 

Kita tak mungkin bisa seperti Ali bin Abi Thalib dan Fatimah. Tapi setidaknya, tirulah prinsip mereka dalam menjalani kehidupan.

(Ruby Kay)