BERKALANG NYAWA UNTUK SANG PENJAJAH

Dalam pembagian wilayah Rusia, Chechnya adalah negara bagian Rusia. Rusia itu berbentuk federal. Di peta ini, Chechnya masuk wilayah Rusia nomor 32.

Secara resmi, Chechnya merupakan negara bagian Rusia.

Ada pun jajahan atau tidak itu tergantung sudut pandang politik. Zaman dulu, banyak orang Indonesia yang tidak merasa dijajah oleh Belanda. Contohnya adalah sebagian orang yang tergabung sebagai prajurit KNIL. Mereka tidak merasa dijajah Belanda.

Bahkan setelah Indonesia proklamasikan kemerdekaan, lalu Belanda datang kembali ke Indonesia, mereka segera bergabung dengan Belanda menghajar orang-orang Indonesia yang ingin merdeka.

Tahun 1950 ketika akhirnya Belanda mundur dari Indonesia, para prajurit KNIL pro Belanda itu juga ikut hijrah ke Belanda bersama keluarga mereka.

Kesimpulannya, bagi sebagian orang KNIL itu mereka tidak merasa dijajah oleh Belanda. Justru mereka makmur selama Belanda berkuasa. Tapi bagi sebagian rakyat Indonesia, jelas Belanda menjajah negeri kita.

Demikian pula dengan Chechnya. Paska bubarnya Sovyet, mereka juga berusaha menjadi negara merdeka. Karena Rusia tetap ingin menguasai Chechnya akhirnya terjadilah perang antara rakyat Chechnya yang ingin merdeka dengan Rusia yang ingin berkuasa. Rakyat Chechnya pun hampir menang dan sudah proklamasi kemerdekaan.

Tapi dengan taktik adu domba akhirnya Chechnya gagal merdeka. Para pejuang kemerdekaan Chechnya pun dibabat habis Rusia. Lalu Rusia menempatkan orang Chechnya yang pro Rusia sebagai penguasa daerah tersebut.

Bagi pejuang kemerdekaan Chechnya jelas Rusia adalah penjajah. Tapi bagi orang-orang Chechnya yang pro Rusia, mereka tidak merasa dijajah, justru merasa bersatu dengan Rusia.

BERKALANG NYAWA UNTUK SANG PENJAJAH

Selama Perang Dunia II, Inggris berhasil merekrut dan mengerahkan sekitar 2,5 juta orang India (termasuk Pakistan dan Bangladesh) untuk bertempur dibawah bendera Inggris. Mereka disebut sebagai British Indian Army dan terjun dalam palagan di Eropa, Afrika Utara, Burma dan juga Asia Tenggara. 

Bahkan pasca kekalahan Jepang, pasukan Inggris yang diterjunkan ke Indonesia dan bertempur melawan rakyat Indonesia dalam Pertempuran Surabaya 10 November juga banyak terdiri dari orang-orang India. 

Selama Perang Dunia II, sekitar 87.000 orang India mempersembahkan nyawanya untuk penjajah mereka, yaitu Inggris. Tewas mereka. 

Ini bagi saya adalah sebuah bentuk keajaiban Inggris sebagai penjajah. Wilayah jajahan yang luas, benar-benar jadi kekuatan bagi mereka. Tak hanya kekayaan, mereka juga mendapat persembahan nyawa dari orang-orang yang dijajahnya secara suka rela. 

Kata Sir Claude Auchinleck, Inggris tak akan bisa memenangkan Perang Dunia I dan II tanpa orang-orang India. Ajaib. Bandingkan, misalnya dengan Ottoman selama Perang Dunia I. Wilayah kekuasaannya yang luas, bukannya jadi kekuatan justru malah jadi beban dan kesulitan. 

Kita mungkin terheran-heran dengan orang-orang India yang rela mempertaruhkan nyawa untuk kekuasaan politik yang menjajah mereka. Tapi rupanya kini kita pun melihat hal yang serupa di zaman kita hidup ini. 

Dalam invasi Rusia ke Ukraina, rupanya Putin juga memerintahkan orang-orang Chechnya untuk ikut serta dalam pasukan penyerbu, bertaruh nyawa di bawah bendera palu arit.

Chechnya adalah negeri di Kaukasus yang gagal merdeka. Ketika Azerbaijan, Armenia atau Georgia mendapatkan kemerdekaan paska keruntuhan Soviet, tidak dengan Chechnya. Perjuangan kemerdekaannya gagal hingga kini negeri ini statusnya adalah negara bagian Rusia, alias masih jajahan Rusia. 

Kini mungkin ribuan orang Chechnya bertempur menggadai nyawa untuk Vladimir. Mirip seperti orang India yang bertempur untuk penjajah mereka di masa lampau.

(Penulis: Ibnu Zaini Atmasan)