Wadas, Potret Kekuasaan Oligarki Gragas yang Memanfaatkan Petugas Partai

[PORTAL-ISLAM.ID]  Oleh : Ahmad Khozinudin (Sastrawan Politik) 

Dalam kasus wadas, ada dua petugas partai yang terlibat. Pertama, Jokowi selaku petugas PDIP yang ditempatkan sebagai Presiden. Kedua, Ganjar Pranowo yang juga petugas PDIP yang ditempatkan sebagai Gubernur Jawa Tengah.

PDIP tidak boleh membuang masalah Wadas kepada Ganjar Pranowo, karena ada peran Jokowi. Keduanya, baik Ganjar maupun Jokowi adalah kader PDIP. 

Jokowi, punya andil karena telah menerbitkan perpres no 109 tahun 2020 tentang perubahan ke 3 atas perpres no 3 tahun 2016 tentang percepatan pembangunan proyek strategis nasional. Ini adalah pangkal dari bencana yang menimpa Wadas terkait Proyek Bendungan Bener. 

Ganjar, punya andil karena menerbitkan Surat Keputusan Nomor 590/20 Tahun 2021 Tentang Pembaruan atas Penetapan Lokasi Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Bendungan Bener di Purworejo. Ini yang dijadikan dasar perburuan lahan untuk tambang batuan andesit, untuk kebutuhan waduk bener.

Jadi, kalau mau dicari kambing hitam, semua kembali kepada Jokowi dan Ganjar Pranowo. Meskipun, keduanya bukanlah pihak yang punya otoritas penuh. Ada kekuatan oligarki dibalik keduanya, yang punya kepentingan untuk mencari cuan via dalih proyek strategis nasional (PSN). 

Mereka ini para Oligarki, yang tak mungkin dapat proyek kalau tidak ada kebijakan pemerintah. Mereka ini, yang tak mungkin bisa nambang andesit, kalau tidak ada dalih Proyek Strategis Nasional. 

Wadas, adalah PSN yang merupakan miniatur IKN. Proyek IKN juga mengadopsi apa yang diterapkan di PSN Wadas. Kepentingan oligarki yang meminjam alat kekuasaan, begitu kontras kentara.

Mereka, sebenarnya kaum oligarki yang tak peduli pada nasib rakyat. Mereka, hanya peduli dengan keuntungan proyek, terlepas proyek itu bermanfaat atau tidak, bahkan kalaupun harus mengambil tumbal rakyat. 

Para oligarki, para kapitalis gragas (tamak, rakus), ada dibalik derita wadas. Sementara Jokowi dan Ganjar, bertindak sebagai pelayannya. 

Sejatinya, petugas partai inilah yang melapangkan jalan bagi oligarki untuk menguasai negeri ini, menyengsarakan rakyat, dan merusak lingkungan. Mereka, tidak peduli dengan keluhan rakyat, mereka hanya peduli pada program oligarki dengan kompensasi gizi untuk melanjutkan kekuasaan, untuk modal berkontestasi. 

Wadas, mayoritas pemilih PDIP, pemilih Jokowi, pemilih Ganjar yang diabaikan. Begitulah, kejamnya sistem oligarki yang mencengkram negeri ini. [suaranasional]