ULAMA DAN WAYANG KUALAT

ULAMA DAN WAYANG KUALAT

Oleh: Dr. Moeflich Hasbullah (Pakar Sejarah, Dosen UIN Bandung)

Sebagai budaya Hindu masyarakat pribumi yang sangat mengakar, kesenian wayang pada abad 16-17 digunakan oleh para ulama era walisongo untuk menyampaikan dakwah Islam melalui partisipasi kebudayaan. 

Seperti tercantum dalam Serat Bayanullah dan banyak dijelaskan dalam buku-buku dan hasil-hasil penelitian bertopik unsur-unsur Islam dalam pewayangan, nama-nama tokoh wayang dan ceritanya sudah banyak diislamkan oleh Walisongo. 

Mereka mempelajari wayang, menjadi dalang, memasukkan pesan-pesan dakwah dan simbol-simbol Islam. 

Dari dalam, mereka mengubah wayang menjadi cerita Islam, sarana dakwah dan Islamisasi. Perlahan tapi pasti, pengaruh Hindu terus semakin luntur dan pengaruh Islam terus menguat.

Ketika Islam sudah menyebar ke seluruh Jawa dan Nusantara, sejak abad ke-16/17, Islam kemudian muncul menjadi agama yang paling penting di Asia Tenggara dan mengubur puing-puing kebudayaan India ke sudut-sudut sejarah. 

Seperti dikatakan D.G.E Hall dalam A History of Southeast Asia, "Islam memberikan interupsi tiba-tiba” (conveys of a sudden break) dalam sejarah Hinduisme. 

"Dewa-dewa lama Hindu-Buddha dilupakan, dan menjadi Jawa mulai berarti menjadi Muslim,” kata Robert Jay dalam Religion and Politics in Rural Central Java, ketika menggambarkan suksesnya Islamisasi di Jawa.  

Pendek kata, “interupsi Islam dan penyebarannya,” kata George Coedès dalam The Indianized States of Southeast Asia, telah "memotong hubungan-hubungan spritual" antara Hindu Asia Tenggara dengan Brahma India dan “membunyikan lonceng kematian kebudayaan India di Nusantara.” 

Tentu saja, Islamisasi melalui seni wayang hanya salah satu diantara banyak faktor. Yang jelas, fungsi wayang sebagai media Islamisasi selesai digantikan oleh generasi ulama baru yang berdakwah langsung menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Media wayang pun tak digunakan lagi hingga sekarang. Kini, tinggal kenangan sebagai warisan budaya (cultural heritage) dan media hiburan.

Bila kini wayang digunakan oleh dalang untuk menyerang ulama. Artinya ada tiga: Pertama, itu wayang sisa-sisa Hindu yang belum terislamkan. Kedua, menyalahi pakem wayang yang sudah berubah sejak zaman Walisongo yang berisi Islam. Ketiga, wayang dan dalang kualat!

*fb penulis