PERLAWANAN DI WADAS

PERLAWANAN DI WADAS

Kembali, lagi dan lagi petinggi bersama aparat di negeri ini mencorengkan sebuah kisah yang mengusik rasa kemanusiaan. Seolah tak bosan menginjak harkat dan martabat rakyatnya yang berusaha hidup dengan sejengkal asa dan kemampuan yang tersisa. Di tengah hiruk pikuk pandemi yang belum usai, perekonomian yang belum stabil, mahalnya harga kebutuhan pokok dan kesengsaraan yang mencekik, kampung WADAS menjadi saksi perlawanan sengit warganya demi mempertahankan HAK MILIK mereka.

Semakin menambah sakit, menyaksikan warga yang mungkin sudah merasa buntu meminta pertolongan kepada manusia bersama-sama kembali menghadap Sang Pencipta untuk mengadukan apa yang menimpa mereka. Kedzholiman sang penguasa.

Mereka sudah bergerak melawan sendiri, meminta bantuan LBH, didukung oleh banyak aktivis lingkungan dan kemanusiaan, serta do'a dan dukungan seluruh rakyat yang peduli, seluruh mata yang menyaksikan. Namun nyatanya, perlawanan mereka menemui benteng sengit berupa barisan aparat yang terus merangsek membuka jalan para perusak ke wilayah mereka.

Sampai saat mereka memasuki mesjid untuk bermujahadah, menyerahkan segalanya kepada Allah semata. Karena mereka sudah melawan sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya. 

Ribuan aparat yang menghampiri warga di mesjid, memaksa mereka selaku warga pemilik tanah di Wadas untuk mundur dan rela tanahnya diukur. "Hanya mengukur" mereka bilang? Lalu setelah diukur mau diapakan? Apa mereka pikir warga begitu bodoh untuk tidak memahami apa yang selanjutnya akan terjadi?

Berita sudah tersiar bahwa tanah Wadas, tanah yang subur dan memiliki ekosistem yang baik, yang sepanjang sejarah telah menjadi sumber penghidupan warga Wadas lewat sektor perkebunan dan pertanian dengan rata-rata pendapatan puluhan milyar per tahun, diputuskan oleh pemerintah untuk dijadikan lahan penambangan batuan andesit demi membangun sebuah bendungan.

Pemerintah berpikir, bendungan tersebut akan memberikan kebermanfaatan yang lebih banyak bagi warga Jawa Tengah. Lalu bagaimana dengan nasib warga Wadas? 

Warga yang seumur hidupnya sudah berhadil bersinergi dengan alam, dan hanya tahu cara berkebun dan bertani tiba-tiba diusik penghidupannya. Diwajibkan untuk mengalah. Diharuskan untuk rela. Demi apa? Demi siapa?

Apa kompensasi untuk warga? Apa kebaikan bagi para pengolah tanah jika kalian ambil tanahnya? Kemana mereka bisa pergi? Bagaimana mereka bisa kembali hidup dan menghidupi?

Mengapa warga begitu gigih menolak?

Sampai-sampai mereka menguasakan hak penanganan tanahnya kepada LBH agar mendapat keadilan.

Kemana gubernur mereka yang katanya sangat dekat dengan rakyat?

Lewat video yang beredar, terlihat jelas aparat bertindak represif ke warga. Tak pandang laki-laki dan perempuan, tua ataupun muda, wajah-wajah orang berseragam yang kemarin terpasang bengis itu menarik-narik, memiting, meringkus, memarahi, dan kabarnya juga memukuli warga, lawyer dan aktivis sepuh yang mencoba membantu pertahanan. Beberapa orang pun ditangkap. 

Pak Ganjar yang katanya sangat merakyat itu tahu gak ya?

DPRD dan DPR yang katanya wakil rakyat itu tergerak gak ya melihat konstituen mereka diperlakukan seperti ini?

Cuma satu yang saya tahu dan yakini:

Saat ada orang-orang yang terdzholimi kembali memasuki mesjid-mesjid untuk bermujahadah, mengadukan kejahatan kepada Robb-Nya, berdo'a sepenuh hati memehon pertolongan lantas mereka bergerak keluar melakukan perlawanan dengan pekikan "Allahu Akbar", maka tunggulah. Kalian tunggulah....

Karena kami pun sedang menunggu!

Dan bagi para buzzerp yang dengan lantang membully warga wadas dan aktivis lingkungan dengan mewacanakan bahwa perlawanan warga berlebihan dan ada beberapa warga yang setuju tanahnya digusur, bisa gak adu data dengan LBH? Berapa banyak yang setuju? Mana lebih banyak dengan yang tidak setuju? Silahkan hitung saja jumlah warga yang melawan kemarin. 

Buktikan omongan busuk kalian!!! 

Buktikan pengetahuan kalian tentang kehidupan saat akun-akun kalian malah menyuarakan tentang dukungan penggusuran kehidupan! Pret, dut, cuihh luh pade!!!

#WadasMelawan

(Aisha Rara)