Ngurus Minyak Goreng dan Kedelai Tidak Becus, Menteri Jokowi Hanya Menang di Gaya

[PORTAL-ISLAM.ID]  Pemerintahan saat ini dinilai tidak memiliki kompetensi. Hal itu bisa dilihat dari cara mengatasi kelangkaan minyak goreng yang hingga kini belum ada hasilnya.

Padahal, masyarakat sudah lama mengeluhkan harga minyak naik dan kemudian adanya kelangkaan minyak goreng di tanah air.

Selain kelangkaan minyak goreng, saat ini muncul pula keluhan para petani dan pengusaha tahu dan tempe terhadap kelangkaan pasokan bahan baku tahu dan tempe yaitu berupa kedelai.

Kelangkaan minyak goreng tersebut sudah terjadi hampir empat bulan ini. Para menteri yaitu Menko Perekonomian, Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian dinilai telah gagal mengatasi hal ini.

Menanggapi hal tersebut, ekonom senior Rizal Ramli mengatakan bahwa banyak Menteri Jokowi yang hanya menang di gaya. ``Doyan pidato Revolusi Industri 4.0, inovasi digital dll. `Namun ngurusin minyak goreng dan kedele aja ndak becus, ironis,” ujar mantan Menko Perekonomian itu di Jakarta, Jumat (18/2).

Mantan Kepala Bulog itu mengatakan bahwa dirinya sangat prihatian dengan emak-emak yang saling dorong berebut minyak goreng hingga terjatuh.

Wartawan senior Ilham Bintang dalam artikel opini berjudul “Kelangkaan Minyak Goreng Seperti Jalan Tiada Ujung” yang ditayangkan https://ceknricek.com/ mengatakan urusan kelangkaan minyak goreng yang tidak ada habis-habisnya itu mengingatkan judul novel wartawan legend, Mochtar Lubis, "Jalan Tak Ada Ujung" (1952). Novel tersebut berlatar perang kemerdekaan Indonesia yang bercerita tentang Guru Isa, guru sekolah yang membantu para gerilyawan namun hidup dalam ketakutan.

“’Ketakutan’ serupa kini dialami para suami di seluruh Indonesia sejak kelangkaan minyak goreng terjadi. Para kepala rumah tangga stres tidak bisa tenang hidupnya, menghadapi istri - istri yang ‘merepet’ sepanjang hari mengutuki ironi kelangkaan minyak goreng. Para suami juga khawatir kondisi itu bakal lebih runyam, merembet bikin imunitas ibu-ibu merosot, padahal itu lebih berbahaya di masa pandemi yang juga tiada ujung,” tulisnya.

Menurut Ilham, kelangkaan ( mahalnya minyak nabati ) adalah sebuah ironi bagi Indonesia, negara produsen sawit terbesar di dunia. “Kita tahu pemerintah memang sudah turun tangan mencoba mengatasi. Sudah menggunakan segala jurus namun belum membuahkan hasil. Sudah empat bulan keadaan runyam ini berlangsung,” ujarnya.

Sebetulnya, tidak hanya minyak goreng, tetapi hampir semua kebutuhan sembilan bahan pokok mengalami lonjakan harga belakangan. Mencemaskan banyak kalangan karena solusi belum ditemukan sementara bulan Ramadhan semakin dekat, yang pada bulan puasa itu biasanya konsumsi sembilan bahan pokok justru semakin meningkat.

Menurut cacatan Ilham, sudah ada beberapa persoalan yang pernah membebani masyarakat, hanya bisa diatasi oleh Presiden Jokowi. Tidak cukup hanya menteri maupun anggota parlemen. Namun, entah kenapa belum terdengan Jokowi terusik. Tak sepatah kata pun yang pernah kita dengar terlontar dari Presiden merespons kelangkaan minyak goreng dan kebutuhan pokok masyarakat lainnya. Padahal, urusan begitu Jokowi lah jagonya.

Sudah dibuktikan beberapa kali menurunkan alat-alat kesehatan, seperti tes swab, vaksin, dan lain sebagainya. Bikin pedagangnya yang orang-orang kuat, kabarnya malah ada lingkaran Istana, gigit jari.

“Ayolah Presiden, ‘maturoh’ (bicara) supaya kelangkaan dan lonjakan harga sembilan bahan pokok, khususnya minyak goreng, cepat menemukan ujung. Tidak seperti nasib Isa, guru di dalam novel ‘Jalan Tidak Ada Ujung’ Mochtar Lubis,” pungkasnya. *** [indonews]