Keteladanan

Keteladanan

Charly Chaplin, seorang komedian yang sangat terkenal di awal abad 20, bercerita:

Saat aku kecil, aku diajak ayah untuk menyaksikan pertunjukan sirkus. Kami lalu antri membeli tiket. 

Di depan kami, ikut juga mengantri sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan enam orang anak mereka. Tampak dari pakaian mereka kalau mereka keluarga yang miskin. Baju mereka lusuh dan usang tapi bersih. Anak-anak itu tampak sangat bahagia karena akan menyaksikan sirkus. 

Tibalah giliran mereka membeli tiket. Sang ayah maju ke loket petugas karcis. Ia pun bertanya berapa harga tiket. Ketika disebutkan oleh petugas, wajahnya seketika menjadi murung. Ia berbisik pada isterinya. 

Melihat hal itu, ayahku segera mengeluarkan uang 20 dolar dari sakunya. Uang itu ia lemparkan ke tanah. Kemudian ia pungut dan ia letakkan di tangan laki-laki itu, sambil berkata: "Uangmu jatuh."

Dengan berderai air mata, laki-laki itu berkata pada ayahku, "Terimakasih Tuan."

Setelah mereka masuk, ayah menarik tanganku. Kami pun keluar dari antrian (tidak jadi beli tiket) karena ayah memang hanya punya uang 20 dolar yang telah diberikannya itu. 

Sejak saat itu aku selalu bangga pada ayahku. 'Pertunjukan' itu jauh lebih indah bagiku daripada pertunjukan sirkus yang tidak sempat aku saksikan. Aku semakin yakin bahwa mendidik itu dengan contoh bukan teori.

(Yendri Junaidi)