Hilangnya (Kelangkaan) Solar, Bikin Nangis Darah Para Sopir Truk

Oleh: Naniek S Deyang*

Ada yang menganjal di hati saya, semalam (22/2/2022) saya melihat sopir truck yang antar genset kami ke Magelang kebingungan mencari solar untuk balik ke Jakarta, dan karena sulit mencari maka kemudian membeli dexlite dengan harga yang luar biasa mahal, karena beberapa hari lalu sudah naik 2.650 dan sekarang harga dexlite 12.500.

Cerita soal sopir bus dan truck terpaksa mencari dexlite karena tidak ada solar ini sebetulnya sudah lama saya dengar dan saya sudah menulis. Tapi melihat wajah pucat pasi sopir truck,  baru semalam saya lihat langsung. Saya bayangkan bagaimana kalau sopir tadi duitnya pas-pasan, dan tidak ketemu klien kayak saya yang memahami dan mau membayar lebih? 

Sopir itu pun bercerita setelah solar susah dan ngilang di pasaran, sebenarnya banyak sopir bus, truck, operator mesin yang menggunakan solar, sebetulnya banyak yang nangis darah. Mau naikkan harga sewa atau tarif (karena BBM terpaksa pakai Bio Solar atau Dexlite) juga tidak mungkin, karena kondisi pandemi dan rakyat yang jadi klien mereka rata-rata masyarakat biasa. Sedihnya kadang sang pemilik truck atau bus tidak mau tau dengan kondisi sulitnya mencari solar dan harus pakai BBM yang lebih mahal dari solar. Apa yg terjadi? Ongkos sopir dan kenek yang terpotong untuk nombokin mahalnya BBM!! Masya Allah saya mendengar cerita itu sampai ngilu rasanya😭😭😭. Ngerti nggak sih pengendali kuasa ini dengan penderitaan rakyat yang demikian dalam?

Kondisi menyedihkan karena langkanya solar juga dialami para petani yang membutuhkan solar untuk diesel air, untuk mengairi sawah mereka dan juga para nelayan. Bayangkan mereka gak boleh beli pakai jerigen plastik di pom, kalau beli pakai jerigen harus pakai surat RT/RW dan kelurahan. Terpaksa mereka belinya nempil alias membeli sedikit demi sedikit pada sopir truck yang biasanya mengisi penuh dengan harga sedikit lebih mahal dari di pom. 

Untuk beli saja sudah ruwet seperi itu, kini ditambah solarnya sudah langka sama kayak premium. Apa yang terjadi nelayan dan petani kembali menguras kantongnya yang sudah kering untuk bisa membeli sexlite atau bio solar dengan harga tentu jauh lebih mahal dari solar.

Hilangnya solar ini sama dengan hilangnya premiun. Saya melihat wajah-wajah yang demikian muram dan sedih para sopir angkot dan sopir-sopir taksi, saat mereka dipaksa harus memakai pertalite karena premiun tidak ada.

Sebetulnya kalau lihat penderitaan rakyat bawah ini sudah ngilu banget. Apalagi di saat pandemi seperti sekarang, yang mencari penumpang pun susah. Bahkan kadang tidak boleh jalan.

Dan mereka yang papa makin tergencet, saat harga bahan pokok melambung luar biasa seperti minyak, gula dll, bahkan mereka yang hanya bisa makan tahu-tempe pun harganya juga naik karena kedelai impornya langka😭😭.

Saya tidak pernah membenci atau tidak suka pada siapapun yang jadi penguasa atau pejabat, baik Presiden, Menteri, DPR dll, tapi kok mereka tega ya lihat penderitaan rakyat yg makin dalam. Udah gitu sekarang mereka juga dibebani harus bayar BBJS, kalau tidak mereka tdk bisa memperoleh pelayanan publik.😭😭

Apakah yg saya tulis ini karena ketidaksukaan saya pada pemerintahan Pak Jokowi? Tidak! Ini masukan agar tolonglah rakyat kecil ini jangan terus digencet dengan berbagai kebijakan. Rakyat kecil sangat menderita😭😭.

Buat apa kita punya Ibu Kota Baru, atau membangun robuan jalan tol, kalau tangisan rakyat sejatinya menggema dimana-mana 😭😭.

*fb penulis (23/2/2022)