Mau Melawan Oligarki?

Mau Melawan Oligarki?

Semalam saya diskusi dengan kawan-kawan yang berpikir jernih untuk Indonesia tanpa terbelah oleh sebutan cebong maupun kadrun.

Kita sama-sama resah terhadap nasib bangsa ini ke depan kalau oligarki terus mencengkram. Dan bila rakyat diam atau terus suaranya mau dibeli, maka Pilpres tahun 2024 sejatinya dari sekarang juga sudah selesai, wong tinggal para konglo pelaku oligarki itu tunjuk aja orang siapa yang "dimaui" semua sudah selesai. Dan sekarang siapa yang dimau oligarki juga sudah jelas. Syaratnya cuma satu: jadi boneka.

Padahal kita kalau mau jujur dengan segala kekurangan dan kelebihan di antara nama-nama yang sekarang disebut-sebut Nyapres banyak yang masih punya nurani.

Dari kalangan militer ada Pak Prabowo yang tidak diragukan lagi cintanya pada rakyat dan bangsa Indonesia, ada Pak Gatot Nurmantio yang juga saya yakin mencintai luar biasa negeri ini, dan kalau mau ada wajah baru dari kalangan TNI, ada Jenderal Andika Perkasa yang tahun 2022 sudah pensiun. Andika ini dengan Pak Prabowo 11-12 alias gila mencintai rakyat.

Di kalangan sipil, ada Anies Baswedan yang jangan diragukan lagi komitmenya untuk menjadi pemimpin, makanya Jakarta maju pesat luar biasa. Ada Airlangga Hartarto, meski dari Golkar tapi sebenarnya dia punya pemikiran hebat untuk Indonesia, karena ayahnya Ir Hartarto sepanjang Orba menjadi Menteri Perindustrian yang sukses membawa Indonesia hampir menjadi negara industri. 

Sayangnya nama-nama di atas kayaknya gak "disukai" oligarki dengan alasan yang tidak bisa saya beberkan.

Nah kenapa saya gak menyebut nama lain, ya kalau mau jujur belum layak untuk memimpin bangsa dan negara besar. Tapi jangan salah yang tidak saya sebut itu justru bisa jadi yang akan jadi di tahun 2024, karena saat ini memang 90 persen oligarki sudah menentukan siapa yang akan jadi "wayangnya". 

Mau melawan oligarki? Jangan perang terus dengan buzzer di medsos, turun ke masyarakat terangkan dan tanyakan pada rakyat apakah akan mau terus menderita? Kalau gak mau menderita dengan beban harga tinggi dan sulit cari kerjaan, juga sulit usaha, ya jangan pilih wayangnya oligarki. 

Tidak mudah memang menjelaskan pada orang yang pragmatis. Mereka pasti pilih 100-200 ribu meski harus menderita sepanjang lima tahun atau sepuluh tahun. Tapi kalau mau ada demokrasi yang sebenarnya di negeri ini ayuuk semua nanti bekerja di lapangan, gak hanya di medsos💪. Mumpung ada waktu!

(By Naniek S Deyang)