Belajar dari Kisah Ngenes Miliarder Tuban (Jual Tanah, Uangnya Diapain?)

Jual Tanah, Uangnya Diapain?

Rame berita masyarakat di Tuban yang dulu "panen rupiah" karena tanahnya dibeli milyaran oleh Pertamina, sekarang pada kebingungan karena simpanan uangnya melorot, dan mereka demo minta pekerjaan dari proyek Pertamina.

Sebenarnya kasus seperti ini banyak terjadi ya, jauh sebelum di Tuban, ketika masyarakat tergoda untuk menjual tanah yang dihargai tinggi, tapi ia belum punya persiapan kalau dapat uang mau diapakan. Hal ini bisa jadi karena kita jarang mendapatkan edukasi literasi finansial yang cukup, karena di sekolah kita tidak mendapatkannya, di rumah, tidak semua orang tua bisa memberikan pemahaman literasi finansial yang memadai.

Ketika tanah dijual seharga milyaran, sedangkan kebutuhan hidup sehari-hari kita hanya sekian juta sebulan, kalau uang itu hanya kita simpan dalam bentuk tabungan, itu saja kita akan merugi karena termakan inflasi. Apalagi kalau kasus di Tuban, mereka ramai-ramai membeli mobil baru.

Mobil itu menjadi asset kalau misalnya disewakan, digunakan untuk taksi online, atau menjadi sarana usaha. Selain itu, sudah pasti hanya menjadi liabilitas, karena harga bekasnya terus turun tajam, lha wong keluar dari dealer saja, harganya sudah turun sekian juta. Belum lagi biaya operasional perawatannya.

Idealnya ia bisa dapat tanah pengganti di lokasi yang lebih strategis, karena tanah sebelumnya pastinya bukan di lokasi yang strategis buat masyarakat biasa, ia hanya bernilai ekonomis tinggi bagi perusahaan yang mengambil atau mengolah sumber daya alamnya. Kalau misalnya tanahnya laku 2 milyar, maka ia bisa cari tanah lain di jalan besar dengan harga 1.5 milyar. Sisanya bisa disimpan dalam beberapa bentuk, seperti emas batangan atau deposito. Atau kalau yang lebih paham seluk beluk investasi, bisa mencoba reksadana atau produk lain yang tentunya harus dipastikan aman. Dan baru sisanya lagi, ada tabungan secukupnya yang bisa diakses untuk mencukupi kebutuhan dengan cepat.

Tanah kalau di tempat yang strategis, kenaikan harganya bisa 10-30% setiap tahunnya, bahkan lebih. Memang ia tidak liquid, butuh waktu untuk menjualnya, tapi ia bisa jadi pondasi kuat untuk menjaga kepastian ekonomi keluarganya. Semakin strategis lokasi tanah, maka semakin tinggi pertumbuhan nilainya. Karenanya dengan nilai jual yang sama, lebih menguntungkan beli di lokasi yang lebih strategis meski luasnya lebih kecil.

Nah mengerikannya kalau sudah terima uang cash, kemudian terjebak ke skema bisnis abal-abal, baik itu money game dengan skema ponzi, ataupun judi yang dikemas sebagai trading. Atau yang menjadi korban penipuan, misalnya diajak untuk beli produk lelangan dengan harga murah, padahal itu murni scam.

Jadi yuk, nggak ada kata telat untuk sama-sama belajar dan sharing tentang literasi finansial ini.

(Muhammad Jawy)

*fb