JANGAN DEKATI ZINA

JANGAN DEKATI ZINA

Oleh: Ustadz Yani Fahriansyah

Desember 2019 lalu, di kota Sumbawa Besar, ditemukan jasad seorang wanita tengah hangus terbakar. Pelakunya adalah pacarnya sendiri. Keduanya cekcok sebelum kejadian terkait status keduanya apakah masih melanjutkan pacaran atau tidak.

Di Makassar, di bulan dan tahun yang sama, seorang mahasiswi ditemukan tewas tengah bersimbah darah di kontrakannya. Pembunuh mahasiswi yang tengah hamil 4 bulan di luar nikah tsb tak lain adalah pacarnya. Keduanya kuliah di tempat yang sama. Sebelum kejadian, mereka berdua adu mulut terkait kehamilannya.

Desember 2021 ini, seorang wanita bunuh diri di kuburan ayahnya. Bukan karena kepergian ayahnya, ternyata dipicu oleh pacarnya yang tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya bahkan memintanya untuk aborsi.

Kisah tragis dan miris demikian akan selalu saja terdengar selama aktifitas pacaran terus ada. Begitu beratnya beban yang dipikul orang tua di zaman ini. Dengan kejadian miris yang akan selalu terdengar sepanjang waktu ini, apakah orang tua masih ridha anaknya pacaran?

***

Ada seorang yang saya kenal baik. Ia mantan preman, pemabuk, dan sematan maksiat lainnya. Allah berikan taufik mengenal indahnya manhaj salaf. Ia lebih berkomitmen untuk menjaga putrinya dari pergaulan buruk sebab tak hanya perkotaan, dunia pedesaan pun tak kalah ngeri pergaulan bebasnya. Miskin dan keawaman begitu sering menjadi jebakan seorang anak desa terjerat kelamnya maksiat.

Suatu ketika, putrinya yang masih SMP saat itu didatangi seorang lelaki sebayanya. Entah untuk keperluan apa. Lelaki itu menunggu di pintu halaman, di atas motornya. Si bapak, yang saya kenal baik dan kini menjadi kadus (kepala dusun), muncul di balik pintu.

"Hei, kamu siapaaaa? Mau apa kesini???" Tanyanya dengan tegas dan wajah sangar ke lelaki teman putrinya.

"Saya temannya fulanah." Jawab lelaki itu.

Dengan gaya premannya dulu, si bapak menimpali:

"Pergi dari sini.... Pergi..!!!!!!" Sambil menghadiahkan jari telunjuk ke lelaki itu.

Malamnya, ia menasehati putri pertamanya itu yang kini menjadi santriwati di sebuah pondok tahfidz:

"Nak, jika engkau mau menikah, segera kasi tau bapak. Bapak akan segera carikan lelaki shaleh. Lebih baik menikah muda daripada pacaran."

Dulu, yang bersangkutan begitu keras dan tegas mempertahankan sikap nakal dan masa lalu kelamnya. Namun kini ketegasannya berubah arah tak tanggung-tanggung, ia tegas dan keras menjaga marwah diri, keluarga dan agamanya.

***

Wahai ayah.

Perhatikan, jaga dan berilah perhatian kepada putrimu sebagaimana engkau menjaga benda yang engkau anggap paling berharga. Mestilah ada tenaga tercurahkan utk mendidik dan menjaganya.

Kalau bukan engkau, sosok mana lagi yang ketegasannya diharapkan bisa menjaga ia putrimu itu? Apakah hatimu tidak teriris dan tercabik sekiranya kehormatan putrimu terenggut?

(fb)