dr. Tifa: PORNOFIKASI adalah Grand Design Penghancuran Generasi

PORNOFIKASI

Oleh: dr. Tifauzia Tyassuma

Jurnalis Pamela Paul menyoroti luasnya dampak budaya porno dalam tulisannya: Pornifikasi: Bagaimana Pornografi Mengubah Hidup Kita, Hubungan Kita, dan Keluarga Kita.

Kalian kira, joged-joged seronok perempuan-perempuan muda, lokal lho, bukan interlokal, di Tiktok dan Instagram, tidak berhubungan dengan kejadian Mojokerto dan Bandara YIA, juga kejadian lainnya?

Kalian kira, para exhibisionist yang tiba-tiba berhamburan dalam jumlah ribuan video yang begitu mudah diakses, dengan pose-pose yang melebihi majalah playboy. Suatu hal yang tiba-tiba dan bukan direncanakan?

Saya berpikir dan terheran-heran, perempuan-perempuan ini, apa lahir tidak punya orangtua? 

Kemana orangtua mereka? Masa tidak ada yang hentikan kelakuan yang sudah menggila di kalangan generasi muda ini?

Belum lagi cerita-cerita porno yang tiba-tiba berseliweran di Facebook dan Twitter, yang sekali click anda langsung tergiring untuk langganan.

Semua ada dalam Rencana Besar, yang designable. Sesuai dengan design. 

Siapa yang diserang? Dihancurkan? dilumat habis-habisan? 

Generasi Milenial dan Zilenial. Anak-anak masa depan. 

Juga anda-anda para penghuni Planet Rebahan, yang usianya sudah merangkak ke 50 up tapi kelakuannya seperti remaja telat lahir. 

Yang masih doyan ikut-ikutan joged-joged ngga keruan di Tiktok, tanpa malu tanpa ingat dengan anak-anak di rumah. Dan bagaimana seorang Ibu seharusnya jadi teladan.

Paling heran, kalau Anda ini perempuan sudah berumur. Tak ada malu-malunya joged-joged Tiktok seperti orang hilang ingatan, di tempat umum, lalu diupload di sosmed. 

Apa kalian ini tidak punya suami? Tidak punya orang tua, tidak punya anak? Tidak ada kah yang memperingatkan bahwa kalian seharusnya jadi Ibu yang memberi Teladan kebaikan? 

Pornofikasi. Ini adalah salah satu Grand Design besar yang very well planned. Karena disambut dengan gegap gempita, dengan happy-happy, dengan bahagia. 

Metode ini adalah pengkondisian jangka panjang (long range penetration) dan pengondisian pola pikir bawah sadar (inner directional conditioning). 

Tujuannya, setiap orang makin lama makin merasa apa yang dilihat adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Masyarakat akan menerima hal-hal yang bahkan tidak mau mereka terima sepuluh tahun yang lalu.

Tanpa kalian sadar. Akibat yang kasat mata, Begitu banyak bayi-bayi dibuang di selokan, di toilet, di tempat sampah, dimakan anjing. 

Begitu banyak terjadi hubungan sejenis, antara bapak dengan anak, Ibu dengan anak, kakak dengan adiknya. 

Kalau dengan teman sendiri pastilah tak terhitung.

Dan itu terjadi bukan di kota-kota besar. Tetapi juga di desa-desa terpencil, dusun-dusun terkucil. Dimana yang bisa menjangkau mereka, adalah Internet, bukan peradaban. 

Mengerikan. Dan Kalian diam saja. Diam saja!

Bagaimana Tuhan tidak marah coba!

(fb)