Azwar Siregar: "Apa sumbangan PSI bagi perpolitikan Indonesia...?"

"Apa sumbangan PSI bagi perpolitikan Indonesia...?"

Ok, kita luruskan dulu pertanyaanya. Karena kalau berbicara Indonesia, terlalu luas bagi sebuah Partai yang cuma mendapatkan suara Satu koma Nol sekian persen untuk suara Nasional.

"Jadi apa Sumbangan PSI bagi perpolitikan Jakarta?"

Saya akan menjawab : PSI berhasil menampilkan wajah Komedi Politik yang lebih merakyat dan kekinian!

Kalau dulu Dagelan Politik di Rumah Perwakilan Rakyat seringkali masih tertutupi dengan Jas, Bahasa yang tertata rapi, dan kesopanan yang membuat rakyat segan.

Sekarang PSI berhasil membawa Komedi Politik itu ketingkat "alay" yang bisa dipahami generasi alay juga.

Pertama mereka mengenalkan panggilan "Bro" atau "Sis" sebagai pengganti "Pak" dan "Bu".

Para Kumpulan Anak-anak muda Alay itu berpikir hal itu sangat keren. Padahal secara tidak langsung mereka telah menunjukkan ketidak cintaan mereka kepada Bangsa dan Bahasa Indonesia. Karena panggilan "Bro" berasal dari Brother dan "Sis" dari Sister dalam Bahasa Inggris.

Seharusnya kalau mau terdengar tetap keren dan kekinian, tapi tidak meninggalkan identitas Indonesia, ganti dengan "Mas" dan "Mbak". Boleh juga "Aa" dan "Teteh". Atau "Abang" dan "Kakak".

Masih banyak lagi panggilan akrab khas Nusantara buat yang muda-muda. Tapi saya yakin Gilang dan Anak-anak buahnya di PSI cuma "ngaku-ngaku" perwakilan wajah Anak Muda Indonesia.

Kedua, PSI dengan Gank "Fakboy" dan "Fakgirl" nya membuat Perkumpulan mereka seakan-akan hanya dibentuk untuk "melawan" Bang Anies.

Sebenarnya tidak mengherankan. Karena sejak janin, atau kalau mau ditelusuri lebih awal lagi, sejak embrionya, PSI lahir dari sebuah Komunitas bernama "Teman Ahok Indonesia" alias TAI.

Komunitas ini kemudian bermetamorfosis, eh ntar dulu, mungkin lebih tepat digunakan kata berfermentasi menjadi sebuah Partai Politik.

Karena sejak awal terlahir dari dendam busuk akibat kekalahan Ahok di Pilgub DKI, maka selanjutnya garis kebijakan Partai ini cuma satu : Lawan Anies Baswedan!

Tragisnya, Ahok sendiri yang menjadi semacam Simbol berdirinya PSI tidak mau menjadi Pengurus apalagi jadi Anggota PSI.

Bahkan Ahok pernah "menyemprot" PSI. Menyebutnya "Patai Kecil Omong Gede". Saya sampai ngakak seminggu kalau mengingat hal ini. Bayangkan seseorang yang dianggap jadi "Dewa" tapi malah melepehin pemujanya. Kesialan seperti apa lagi yang lebih tragis dibandingkan nasib seperti ini?

Hanya saja dendam kesumat Kumpulan Alay ini belum bisa pudar kepada Bang Anies.

Jadi saran saya kepada Bang Anies, kalau belum punya Partai, coba pertimbangkan jadi Ketua Dewan di Partai itu. Memang sih ngga ada yang bisa diharapkan dari Kumpulan Alayer. Tapi paling tidak Bang Anies dapat "Anjing Penjaga" sekaligus "Anjing Penggonggong" yang terlatih dan setianya mengalahkan Anjing betulan.

Kalau memang Bang Anies menganggapnya terlalu najis, ya mulai sekarang Bang Anies harus ekstra hati-hati menjaga semua proyek dari DKI Jakarta. Misalnya pembangunan JIS yang sudah mulai rampung.

Sebaiknya dibuat Plang Pengumuman :

"Hewan Peliharaan dan Anggota PE-ES-I Dilarang masuk"

Karena saya tidak menjamin, besok-besok akan muncul kehebohan ada kotoran Anjing dan onggokan kotoran manusia di Gedung JSI.

Pelakunya?
Ya siapa lagi.....

(Azwar Siregar)

*fb penulis