Anwar Abbas: Singa yang Mencerahkan

Anwar Abbas: Singa yang Mencerahkan

Oleh: M. Risfan Sihaloho

“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud)

Beberapa hari belakangan ini, nama Anwar Abbas ramai jadi perbincangan publik tanah air, dikarenakan aksinya melontarkan kritik langsung kepada kepada Presiden Joko Widodo di Kongres Ekonomi Umat Islam II MUI yang digelar pada 10 Desember 2021.

Banyak kalangan yang kemudian  mengapresiasi apa yang dilakukan Anwar Abbas tersebut, dengan alasan sekarang ini sudah semakin langka sosok ulama dan ilmuan yang punya nyali dan konsisten menyampaikan kritikan terbuka dan ‘blak-blakan’ terhadap rezim penguasa yang ditengarai sudah cenderung mengarah jadi despotik, otoriter dan anti kritik.

Mereka yang mendukung menilai Anwar Abbas adalah sosok ulama jujur dan berani bicara benar di hadapan penguasa. Bahkan ada yang menyebut Anwar Abbas mewakili aspirasi dan nurani umat. Sikap konsistensi dan kecerdasannya menunjukan dirinya ulama pejuang bukan ulama proposal. Karena itu sosok seperti Anwar Abbas sangat dibutuhkan di tengah kehidupan berbangsa saat ini.

Selain itu, figur seperti Anwar Abbas juga dianggap sebagai “oase”, karena telah berkenan menggantikan peran yang seharusnya dilakoni oleh lembaga-lembaga formal pengontrol pemerintah, seperti DPR, yang oleh banyak kalangan dinilai sudah tak lagi menjalankan kesejatian fungsi dan perannya.
 
Namun, ternyata tidak sedikit pula pihak yang kemudian “gerah” melihat sepakterjang yang dilakukan Anwar Abbas yang terus “mengusik”  rezim penguasa lewat lontaran-lontaran kritik “pedas” dan “keras”-nya.

Di antaranya yang paling ekstrim ada yang mengatakan bahwa kritikan ala Anwar Abbas itu tidak sesuai dengan adab Islam. Ada juga yang menyindir kritikan Anwar Abbas dengan menyebut panggung publik sudah beri ruang bagi orang-orang tak berilmu.

Secara personal, sebenarnya penulis tidak mengenal mendalam sosok Anwar Abbas. Penulis cuma mengenal beliau sebatas sebagai Wakil Ketua MUI Pusat dan salah satu Ketua PP Muhammadiyah. Selebihnya penulis mengetahui beliau sebagai sosok ulama yang pemberani (bahadur) dalam menyuarakan amar ma’ruf nahi munkar.

Penulis menilai, figur keulamaan Anwar Abbas jadi fonemenal dikarenakan beliau memiliki karakter yang langka (garib), di saat kebanyakan ulama dan tokoh masyarakat lainnya lebih memilih tampil “moderat”, “tutup mata” dan bungkam melihat kondisi kekinian bangsa, bahkan sebagiannya ada pula yang terang-terangan justru berkelindan dengan rezim penguasa.

Sastrawan William Shakespeare memang pernah bilang: “What’s in a name?”, apalah arti sebuah nama? Namun ketika mengesplorasi nama Anwar Abbas, penulis menemukan sesuatu yang menggelitik. Sepertinya fatwa Shakespeare itu tidak berlaku atau sebuah pengecualian dengan nama Anwar Abbas.

Ya, penulis mendapatkan memang ada keselarasan antara nama dan karakter dari Anwar Abbas.
 
Dalam bahasa Arab, Anwar artinya sinar atau cahaya yang mencerahkan. Sedangkan Abbas maknanya singa atau pemberani. Jadi, kalau digabung, Anwar Abbas dapat diartikan “cahaya (seekor) singa” atau bisa juga dimaknai “sang singa yang mencerahkan”.

Terlepas apakah ini adalah sebuah kebetulan atau tidak, namun yang jelas sosok Anwar Abbas telah menunjukkan bahwa karakter yang dimilikinya serasi dan cocok dengan nama yang disandangnya. Dia seperti singa (simbol keberanian) yang senantiasa membawa cahaya pencerahan lewat sambitan kritikan-kritikannya.

Dan yang lebih penting dari itu, bagaimanapun tentunya sosok Anwar Abbas pantas dijadikan inspirasi, betapa tradisi kritik itu sangat dibutuhkan dan tak boleh dimatikan. Bagaimanapun keras dan pedasnya sebuah kritikan, tentunya itu bermanfaat untuk menjaga demokrasi tetap berlangsung, dan jadi penguat bagi pemerintah agar berjalan lebih terarah dan benar.

Bagaimanapun, tentunya rakyat terus berharap masih ada —walaupun segelintir – tokoh di negeri ini yang masih memiliki hati yang bersih untuk ikhlas memperjuaangkan kebenaran dan punya nyali untuk mengatakan seperti yang pernah dinyatakan oleh Umar bin Khattab:

“Jika ada seribu orang yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada seratus orang yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada sepuluh orang pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu. Dan jika hanya ada satu orang yang tetap membela kebenaran, maka akulah orangnya.”. 

Semoga.