SURAT BALASAN Untuk 'Teman' LUHUT BINSAR PANJAITAN

SURAT BALASAN UNTUK 'TEMAN' LUHUT BINSAR PANJAITAN

Teman Luhut Binsar Panjaitan dan seluruh masyarakat Indonesia yang saya 'cintai'...

Saya bahagia sekaligus bangga kepada Teman Luhut yang berkenan menegaskan beberapa hal terkait hiruk pikuk bisnis PCR yang makin moncer. Sebagian penegasan, cukup menjawab apa dan bagaimana latarbelakang bisnis yang menggiurkan ini. Dibeberapa hal lain, tidak penting, tidak esensial, tidak layak diperhatikan dan cukuplah untuk dikesampingkan.

Misalnya, pertama soal tak ada seperak pun keuntungan bisnis dari PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI). Karena, baik seperak, seratus, sejuta, semiliar, puluhan hingga triliunan, saya memang tak tahu. Sehingga, soal 'dapat atau tidaknya' keduanya sulit dipercaya, hingga pun saya mendapatkan 'bagian' dari perseroan saham itu.

Yang jelas, saya bukan pemegang saham, tidak pula punya kendali atas urusan pandemi. Jadi, kalau saya katakan saya tidak dapat apa-apa dari PT GSI, tentu lebih dapat dipercaya dan meyakinkan publik ketimbang pernyataan Teman Luhut.

Sebenarnya, kalaupun dapat, dan bukan kecil bahkan sebesar apapun, saya toh dapat memahami. Rezeki orang itu Allah SWT yang atur, apa urusannya saya iri, dengki, bahkan hasad pada rezeki orang lain?

Saya tahu, secara nama GSI itu seolah filantropi. Semua juga paham, Indonesia sedang diterpa badai pandemi.

Hanya persoalannya, publik tak percaya pada penanganan pandeminya, bukan pada virusnya. Siapa yang tak percaya virus itu tak ada? buktinya, empat juta lebih terinfeksi dan 140 ribu lebih nyawa melayang akibat Covid-19. Data miris itupun masih dibanggakan Jokowi di forum internasional.

Soal penanganan pandemi -termasuk urusan wajib PCR- itulah yang meragukan. Meragukan, apakah kebijakan itu berbasis pandemi atau investasi, persis seperti Jabatan Teman Luhut sebagai Menteri Investasi yang memimpin penanganan pandemi bukan Menkes.

Jadi, mau cerita pandemi baik dalam bentuk cerpen, novel hingga roman, tak usah lah di dramatisasi. Kita percaya kok pandemi ada dan nyata, buktinya duit APBN ribuan triliun dialokasikan dan tidak boleh disebut kerugian negara hingga terbitnya putusan MK.

Partisipasi TOBA? Siap, kami ucapkan kamsiah, terima kasih. Apa jadinya Indonesia tanpa adanya gerakan filantropi yang diinisiasi Teman Luhut? Kalau bukan karena Teman Luhut, mungkin saja hingga menjelang hari kiamat pandemi belum akan benar-benar pergi dari negeri ini.

Soal perseroan saham? Jelas, itu persekutuan modal yang didirikan untuk mendapatkan laba. Tak ada PT didirikan untuk bagi-bagi keuntungan perusahaan kepada masyarakat.

Kalau sedari awal Teman Luhut bikin Yayasan, mungkin konflik dan kudeta hati terkait PT GSI ini tak akan merembet jauh ke relung hati Kawan Luhut. Sebab, Yayasan itu tujuannya sosial. Meski praktiknya, juga banyak dijadikan kuda tunggangan untuk mengumpulkan laba.

Bikin yayasan juga gampang. Sim salabim, jadi.

Sangat sulit, bahkan sangat-sangat sulit bagi saya untuk memahami alasan yang disampaikan oleh Teman Luhut. Tapi baiklah, apapun itu pendapat Teman Luhut, tetap harus kita hargai. 

Apalagi, Teman Luhut mengakui berteman bersama Group Indika, Adaro, Nortstar, sehingga klop persis seperti yang ditulis rinci oleh Teman Agustinus Edi Kristianto. Tak ada penyangkalan, semua terkonfirmasi.

Kedua, soal deviden belum dibagi atau bahkan tidak dibagi itu biasa dalam perseroan. Ada yang ditumpuk hingga menggunung baru dibagi, agar lebih terasa, juga ada. Ada yang diputar sebagai modal usaha agar keuntungan bisnis makin untung beliung juga bisa.

Jadi, soal apakah pundi-pundi mau dibagi atau dikembangkan, itu soal biasa. Kita juga tak pernah merasa tidak kebagian, karena kita memang tidak pernah terlibat dan tidak memiliki andil.

Beda dengan Teman Luhut, juga yang ada di Group Indika, Adaro, Nortstar, mereka punya hak dan layak komplain hasil usaha, deviden atau apalah namanya. Jadi, soalnya yang utama telah terjawab: TEMAN LUHUT TERLIBAT DALAM BISNIS PCR.

Sejujurnya, saya tidak pernah mau mendengar kesombongan dibalut dengan bias kesederhanaan, apalagi ketamakan yang dinarasikan sebagai perilaku filantropi. Ada dan tidaknya itu relatif, kenyataannya sebagai elemen anak bangsa, kita semua, termasuk Teman Luhut adalah pemilik sah bumi Indonesia.

Sayangnya, manfaat bumi Indonesia lebih banyak dinikmati Teman Luhut dan teman-temannya. Mereka dapat manfaat tambang, berbagai bisnis yang menguntungkan, dan lainnya.

Sementara kita, mayoritas rakyat di negeri ini hanya mampu meratap dan mengigau:

"Kulihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati......."

Jakarta, 5 November 2021

Ttd

Ahmad Khozinudin 
(Advokat Muslim) 

*Sumber: LINK