Reuni Akbar 212 Sebaiknya Tidak Digelar Dulu....

Saya kurang beruntung bisa ikut di Aksi Damai 212 yang memutihkan Monas. Dan saya tetap tidak beruntung bisa ikut di reuni-reuni Aksi Umat selanjutnya.

Tapi saya sangat mendukung dan pastinya sangat bersimpati dengan Gerakan Umat yang menurut saya menggetarkan bukan cuma Indonesia. Tapi juga Dunia.

Kemarin saya membaca Berita akan ada rencana Reuni Aksi Damai 212. Dan sambutan umat sangat positif.

Hanya saja, mengingat kondisi Pandemi sekarang (terlepas dari tuduhan "Plandemi"), saya berharap para Ustadz-ustadz kami dan para Tuan Guru kami yang menjadi Komando Umat agar benar-benar mempertimbangkannya.

Memaksakan Reuni Akbar ABI 212 ditengah masalah Pandemi akan membuat beberapa masalah.

Pertama, dari yang saya baca, Monas sampai sekarang masih ditutup oleh Pemda DKI Jakarta. Belum boleh dilakukan ada kegiatan disana.

Jadi kalau tetap memaksakan berlangsungnya acara tersebut, akan membuat Bang Anies dan Pemda DKI Jakarta serba salah. Disatu sisi, saya yakin para peserta Reuni 99 persen adalah Pendukung dan Fans Bang Anies. 

Disisi lain, Bang Anies akan rentan menjadi sasaran tembak kalau mengizinkannya. Sebaliknya kemungkinan akan dicap "pengkhianat" kalau menolak memberikan ijin.

Kedua. Selama ini, kita umat Islam selalu jadi "sasaran tembak" dan selalu dicari-cari kesalahannya. 

Ingat, beliau Imam kita yang tidak boleh disebutkan namanya masuk Penjara karena masalah-masalah seperti ini.

Makanya sering saya katakan, ghirah kita yang tidak terkontrol, kadang malah merugikan kita sendiri atau para Ulama-ulama kita.

Secara tidak langsung, kita kok yang menjebloskan sebagian besar para Ulama dan kawan-kawan kita ke mulut para buaya.

Karena kita hidup di Negara Demokrasi yang sistemnya dikontrol oleh aktifitas Politik. Sedangkan ukuran kebenaran Politik seringkali berdasarkan kekuatan kekuasaan. Bukan karena nilai kebenaran. 

Maksud saya, ayo mulai "bermain cantik". Jangan pernah berhadap-hadapan dengan kekuasaan kalau kekuatan belum seimbang. Mundur selangkah untuk melompat dua langkah lebih bagus daripada memaksakan melompat langsung dan akhirnya masuk jurang.

Jadi tolong dipertimbangkan agar jangan membuat kita semua berada dalam kesulitan.
Saya yakin ada cara lain yang cukup elegan. Sebut saja membuat Reuni live lewat dunia maya. Misalnya bikin Aplikasi yang membuat 7 atau bila perlu 200 juta umat hadir dalam sebuah pertemuan di Dunia maya. 

Saya yakin dunia akan kembali geger. Bisa-bisa Facebook juga akan langsung membeli Aplikasi tersebut senilai miliaran dolar. Jadi disisi Politik kita aman dan bisa untung disisi lain lagi.

Tapi inikan cuma sekedar masukan. Mohon jangan dibully.

(Azwar Siregar)