MENDUKUNG IDE, BUKAN SOSOK

Ustad Abdul Somad saat ditanya oleh Refli Harun:

"Apakah ustad kecewa dengan Prabowo yang memilih berkoalisi dengan Jokowi setelah pilpres kemarin? Kan Ustad mendeklarasikan dukungan pada pasangan Prabowo-Sandiaga. Adakah kekecewaan?"

Ustad Abdul Somad menjawab..

"Saya tidak ada kekecewaan atas pilihan Prabowo saat ini. Saya mendukung Prabowo karena mendukung ide-idenya. Saya bukan fans seseorang, tapi pendukung ide seseorang.."

Luar biasa, seorang ustad yang jarang melibatkan diri dalam politik atau bicara politik, tetapi bisa menempatkan diri dalam berbicara dukungan politiknya. Mendukung tokoh politik bukanlah mendukung sosoknya, melainkan mendukung ide dan apa yang akan atau sudah dilakukannya jika itu memang baik dan berguna bagi negara dan rakyat Indonesia.

Prabowo bergabung ke koalisi membawa banyak cerita. Umumnya cerita-cerita kekecewaan yang sampai saat ini masih terus didengungkan. Mereka yang kecewa adalah mereka yang mendukung sosok, bukan pendukung ide. Karena sosok jagoannya berbelok, maka ia kecewa.

Padahal, walaupun Prabowo merapat ke koalisi, ide dan rencana yang pernah ia janjikan ketika kampanye bisa diterapkan pada bidang yang dipercayakan padanya.

Selama kampanye di Pilpres 2019, banyak janji yang bersumber dari ide dan rencana Prabowo apabila terpilih menjadi Presiden. Segala bidang telah ia petakan apa permasalahannya dan membeberkan bagaimana menyelesaikan hingga mendapatkan jalan keluar demi kejayaan bangsa.

Sayangnya Prabowo gagal terpilih. Namun ia mempunyai kesempatan melaksanakan idenya menjadi kerja yang nyata. Tawaran menteri Pertahanan diterima dan disitulah Prabowo mulai mengaplikasikan ide-ide dan rencana yang telah ia tuangkan ketika berkampanye di pilpres 2019 untuk bidang pertahanan.

Pertahanan kita saat ini mulai memasuki era modern dengan kehadiran Prabowo. Ia merancang bagaimana sistim persenjataan dan pertahanan kita dalam 20 tahun ke depan. Dalam jangka pendek, telah ia siapkan pemutakhiran alusista yang dulu gagal diterapkan oleh pendahulunya di Kemenhan.

Kerjasama terus dijalin dengan negara-negara luar, pembelian senjata pun tepat guna dan membawa alih transfer teknologi yang nantinya sangat berguna bagi negara kita kedepan.

Secara keseluruhan Kementerian Pertahanan di bawah Menhan Prabowo memang luar biasa kinerjanya. Silahkan membenci, tapi jangan butakan nurani atau hati. Jika bagus kinerja menhan, ya akuilah bahwa itu memang nyata bagusnya.

Pengakuan-pengakuan atas kinerja Menhan ini bukan berasal dari para pengamat dalam negeri, pengamat militer luar negeri pun menganggap ada perubahan besar ketika Prabowo memimpin kementrian pertahanan.
Bisa disimpulkan begini..

Prabowo memang kalah dalam pilpres 2019 kemarin, namun ide dan rencana yang telah ia telurkan itu telah dia aplikasikan ketika beliau duduk di Kementerian Pertahanan. Dengan kata lain, ide beliau tetap terpakai dan tidak mati atau mengendap tanpa pernah dijalankan.

Jika mengaku mendukung Prabowo karena idenya, maka sudah seharusnya tidak ada kekecewaan pada beliau saat memutuskan koalisi dengan Jokowi. Karena pilihan koalisi malah menjadi panggung bagi ide-ide Prabowo untuk dibuktikan pengerjaannya.

Namun jika mendukung sosok atau menepatkan Prabowo bak berhala, maka wajar ada kemarahan. Karena yang didukung tidak melaksanakan apa permintaannya. Yang ujungnya akan menghancurkan berhala dan menggantinya dengan berhala baru sembari melakukan cara yang sama.

Jika esok berhala baru berbelok dan dianggap tidak melaksanakan apa yang mereka inginkan, maka berhala baru itu akan kembali di hancurkan untuk kemudian mereka cari lagi berhala baru kembali. Begitu terus seperti lingkaran setan.

Ustad Abdul Somad secara tersirat memberi pelajaran. Bahwasanya janganlah mendukung sosok diri seorang tokoh atau menjadi fans setia dengan meninggalkan logika. Dukunglah apa yang ia rencanakan atau apa ide yang ia tuangkan dalam melihat suatu permasalahan. Ketika ide kita dukung, maka kita telah menempatkan diri menjadi pendukung rasional. Pendukung yang mengandalkan logika, dibandingkan mengandalkan ikatan emosional belaka.

Jika meneladani para ulama bersikap, maka tirulah apa yang dilakukan UAS dalam menempatkan dukungan politiknya. Jangan meniru para setan yang hanya memperdaya dan membodohi diri sendiri.

(Setiawan Budi)