Aparat dan Catatan Pilpres 2019

Aparat dan Catatan Pilpres 2019

Oleh: Azwar Siregar

"Ayo maju ikut orasi" bisik Lae Ismail.

"Ok" jawab saya pendek.

Saya kemudian melihat Lae Ismail berbisik kepada Mbak Ai dipinggiran Mobil Komando.

Hari itu memang sedang ada Agenda Protes kawan-kawan didepan Gedung Bawaslu. Memprotes berbagai temuan kecurangan Pilpres 2019 yang baru selesai diadakan.

Mbak Ai melihat dan kemudian melambai ke arah saya. Sebelumnya saya dan Mbak Ai sudah beberapa kali juga bertemu.

(Saya sengaja menuliskan nama Pendeknya. Karena saya lihat Mbak Ai sekarang seperti menarik diri dari keriuhan carut-marut Politik sekarang).

Saya mengacungkan jempol ke arah Mbak Ai.

Kemudian tiba giliran saya dipanggil Mbak Ai untuk maju dan naik ke Mobil Komando. Saya memandang sepanjang Pagar Kantor Bawaslu. Puluhan aparat Berbaju Coklat memagar betis Gedung tersebut.

Para Aparat berbaju Coklat tersebut bebaris rapi. Jarak mereka cuma sejengkal dari Mobil Komando. Otomatis mata saya dengan mata mereka cuma berjarak satu-dua meter.

Saya ucapkan Assalamu Alaikum buat peserta Demo dan Assalamu Alaikum khusus buat para Aparat Berbaju Coklat. Tidak ada yang menjawab.

Saya ucapkan sekali lagi. Dengan tambahan salam sesama Muslim wajib dijawab. Tetap tidak ada yang menjawab. Baiklah. Mungkin saja hampir seratus Aparat Berbaju Coklat memang kebetulan tidak ada yang muslim.

Saya memandang langsung satu-satu ke mata mereka. Saya melihat pandangan-pandangan penuh kebencian. Salah makan apa ya tadi pagi mereka-mereka ini.

Saya sampaikan kalau aparat adalah bagian dari rakyat. Aparat harus netral. Karena Demo Kawan-kawan adalah hak Konstitusional juga. Memprotes kecurangan Pilpres lewat Demo dijamin Undang-undang. Hanya Aparat yang masuk dengan membayar yang tidak akan paham.

Selama beberapa menit saya menyampaikan protes ke arah Gedung Bawaslu. Menyampaikan fakta-fakta yang saya temukan dan maraknya kecurangan di lapangan. Tapi saya yakin mereka yang di Gedung Bawaslu tidak akan ada yang mau mendengarkan. Paling semua nyemot-nyemot itu lagi asyik tidur siang.

Turun dari Mobi Komando saya bersalaman dengan beberapa orang. Saya berbisik ke Lae Ismail. Saya pamit duluan pulang. Karena saya masih tetap melihat pandangan-pandangan penuh permusuhan dari Aparat-aparat berbaju coklat.

Kalau terjadi chaos atau keributan kecil saja, saya yakin termasuk bagian yang pertama akan diamankan. Dan saya tahu, kadang dari Aparat ada yang senagaja memancing keributan. Lae Ismail paham.

"Bawa saja powerbank-nya" kata Lae Ismail

Sebelumnya saya meminjam Power Bank beliau. Karena HP saya sudah lowbatt. Lupa ngecharge di Hotel pada malam sebelumnya.

Saya sudah tiga hari terbang dari Samarinda ke Jakarta. Khusus menunggu komando dari Pak Prabowo. Apa yang mesti dilakukan setelah hasil Pilpres yang penuh dengan kecurangan dan "katanya" dimenangkan oleh Kubu Sebelah.

Lae Ismail malah sudah hampir satu bulan "turun" ke Jakarta. Menginap di hotel. Dengan biaya sendiri. Padahal kami cuma sama-sama relawan biasa. Tidak ada hubungan dengan Ormas Relawan apalagi dengan Partai Gerindra.
Saya kemudian memesan Ojek online. Hampir 10 kali tapi semua menolak. Saya juga mencoba memesan taksi. Tapi tidak ada yang mau berhenti. Saya kemudian melihat beberapa aparat Berbaju Coklat seperti berusaha mendekat. Tapi dihalangi oleh dua orang aparat berbaju Hijau.

"Jalan aja terus kedepan. Menjauh dari sini. Baru stop taksi. Langsung gerak" bisik salah satu Aparat berbaju Hijau.

Saya langsung berjalan menjauh dari kerumunan peserta Demo. Setelah berjalan sekitar 100 atau 200 meter (saya lupa jaraknya), barulah ada Taksi yang mau menepi.

"Jalan bang"

"Kemana mas"

"Jalan aja dulu. Tancap gas"

Sepertinya Sopir Taksi paham. Dia langsung tancap gas. Saya langsung pesan penerbangan Pulang ke Samarinda. Balik ke Hotel dan ambil baju. Dengan Taksi yang sama saya langsung ke Bandara.

Pelan-pelan saya mulai menyadari. Ternyata permainan Politik di Negeri ini tidak sesederhana yang saya pahami. Kekuasaan jauh lebih jahat dan jauh lebih biadab daripada Penjajah.

Kalau saya salah gerak, saya yakin besok cuma akan muncul berita dikoran-koran murahan.

"Seorang Provokator dari Samarinda ditangkap"

Atau bisa saja "Provokator dari Samarinda tewas ditahanan karena masuk angin".

Baiklah. Kalau Kekuatan belum seimbang, jangan coba-coba berhadap-hadapan dengan Kekuasaan.

Kamu bisa mati dan dianggap Pahlawan. Tapi namamu hanya dikenang dan dingat paling lama sebulan. Setelah itu kamu cuma jadi duka panjang bagi Anak Istrimu. Kalau mau ikut Politik. Ayo belajar berstrategi.

Dan Malamnya (atau besok malamya ya? Saya lupa) Jakarta rusuh....

#CatatanPilpres2019