Anies dan Ganjar, Sebuah Catatan Awal

𝗔𝗡𝗜𝗘𝗦 𝗗𝗔𝗡 𝗚𝗔𝗡𝗝𝗔𝗥, 𝗦𝗘𝗕𝗨𝗔𝗛 𝗖𝗔𝗧𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗔𝗪𝗔𝗟

Oleh: Tarli Nugroho (Alumni UGM, Yogyakarta)

Anies dan Ganjar, jika jalannya lempang untuk maju ke pentas nasional, sebenarnya cukup mirip dengan jalan dua presiden terakhir. Naiknya Anies itu mirip dengan SBY. Popularitasnya sangat tinggi, sehingga kemudian dicemburui oleh atasannya. Penyingkirannya dari kabinet tidak membuatnya redup. 

Sementara, naiknya Ganjar itu mirip Jokowi. Popularitasnya lebih tinggi daripada pemimpin sekaligus pemilik darah biru di partainya. Karena popularitasnya itulah ia dicemburui oleh para petinggi partainya. 

Bedanya, dulu SBY gesit membangun partai sendiri. Sebab, tanpa partai sendiri, ia mungkin hanya akan jadi kendaraannya Golkar untuk kembali berkuasa. 

Sekarang, meskipun popularitasnya sangat tinggi, masa depan Anies sangat tergantung kepada proses pencalonan yang berlangsung di tubuh partai seperti Nasdem, PKS, atau PAN. 

Pada akhirnya, meskipun populer, karena tak punya kendaraan politik sendiri maka ia harus membangun banyak sekali bargain sejak sangat dini. Itu tidak menguntungkan karakter kepemimpinannya.

Membangun relawan sebagai basis kendaraan politik juga bukan pilihan menarik. Belajar dari pengalaman Jokowi, sesudah berkuasa organisasi relawan ternyata bisa lebih "ganas" daripada partai.

Sementara Ganjar, sama seperti halnya Jokowi, dia cukup hanya menjadi orang Jawa untuk mendapatkan tiket dari partainya. Dia tidak boleh dan tidak perlu berkonfrontasi dengan Teuku Umar (Megawati -red). Jangan lupa, pada 2014 silam, yang berniat maju adalah Bu Mega sendiri. Toh ia kemudian merelakan tiket itu untuk Jokowi. Sebuah tiket calon presiden tentunya lebih baik dari sebuah tiket calon wakil presiden. Saya kira game ini juga akan berulang pada 2024.

Posisi Ganjar juga lebih kuat dari posisi Jokowi dulu. Kalau Jokowi hanyalah prajurit di partainya, Ganjar adalah panglima perang yang punya pasukan di partainya. 

Tantangan serius yang akan dihadapi Ganjar adalah sikap megalomaniak PDIP. Dua kali menang Pemilu, serta bisa menguasai parlemen dan eksekutif secara bersamaan, bisa membuat PDIP terjebak pada sikap megalomaniak sebagaimana halnya pada tahun 1999. Karena merasa besar dan menang, yang membuat elite mereka tidak low profile, PDIP akhirnya ditinggalkan oleh partai-partai lainnya dan terjungkal di hadapan Poros Tengah.

01/11/2021

*fb