Polemik Nama Jalan, Mahasiswa Program Doktor di Turki: Orang Turki Gak Ada yang Kenal Soekarno

[PORTAL-ISLAM.ID]  Herry Cahyadi, mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh program doktoral di International Relations Istanbul University Turki, turut mengomentari soal polemik timbal balik pemberian nama jalan antara Indonesia dan Turki.

Seperti ramai diberitakan, pemerintah Turki telah menyetujui pemberian nama jalan di KBRI di Ibu Kota Ankara dengan nama "Ahmet Soekarno". Sebagai timbal balik, pemerintah Indonesia berencana memberi salah satu nama jalan di Ibu Kota Jakarta dengan nama Mustafa Kemal Ataturk yang merupakan founding fathers negara Turki modern.

Hal ini kemudian menimbulkan polemik dengan adanya penolakan dari beberapa pihak.

Herry Cahyadi lantas ikut mengomentari polemik ini di akun twitternya @herricahyadi (20/10/2021). Berikut dikutip lengkap:

Ok, saya bahas sedikit ya.

1) FYI, orang Turki ga ada yang kenal dengan Soekarno. Kalaupun ada, sangatlah sedikit.

2) Nama “Ahmet” yang diberikan itu untuk membuat publik Turki “menerima” kalau dia muslim (pernah saya bahas di twit lain).

3) Pemberian nama jalan suatu negara dengan tokoh negara lain adalah hal yang lumrah. Biasanya karena suatu kunjungan. Simbol hubungan baik. Karena Turki sudah setuju kasih nama jalan depan Kedubes RI di Ankara, Indonesia (biasanya) harus resiprok (membalas balik).

4) Nama jalan "Ahmet Soekarno" di Ibu Kota Turki adalah atas usulan KBRI (Kedubes RI), jadi bukan inisiatif pemerintah Turki. Makanya nama jalan di Jakarta juga harus dari pemerintah Turki. Masih nunggu.

5) Pemilihan Ataturk sudah tepat karena levelnya sama (dengan Soekarno -red). Sangat identik dari banyak sisi. Terutama pada term “Bapak Republik”. 

6) Pemerintah Turki tidak melihat background Sukarno. Mereka menyetujui usulan nama jalan dari KBRI tanpa polemik.

7) Nama Ataturk (yang sekarang jadi polemik) juga baru usulan dari KBRI, bukan (belum menjadi) permintaan dari pemerintah Turki. Usulan ini mengingat level tadi ("Bapak Bangsa"). Bisa saja namanya berbeda kalau pemerintah Turki usulin lain. Sekali lagi, ini juga cuma sugesti KBRI, bukan usulan resmi. 

8) Polemik di Indonesia ini terjadi karena masih melihat Turki sebagai Ottoman dan menafikan “Turki Baru” yang serba berbeda dari Ottoman. Ada sejarah yang telah berganti.

9) Ok, saya bisa menerima alasan penolakan. Tapi, ini justru memperbesar pengaruh Ataturk seolah beliau adalah tokoh utama. Padahal, jika kita menganggap sebagai tokoh lokal, ya selesai. Kita melihat Ataturk sebagai antagonis runtuhnya Ottoman, tapi menegasikan keropos, korup dan tertinggalnya Ottoman (saat keruntuhan).

10) Ini yang membuat gerakan Islamis gak bisa masuk ke narasi publik yang lebih mementingkan isi ketimbang kulit. Simbol dipermasalahkan, tapi konten mereka lemah. Makanya butuh waktu lama mereka bisa dapat mengimitasi/meniru kesuskesan AKP (partainya Erdogan). AKP sudah khatam hal begini. Mereka ga ributin simbol. Mereka perbaiki konten.

11) Orang-orang begini lebih senang dengan nama “Perda Syariah” ketimbang “Perda” an sich, padahal isinya sama-sama syariat. Karena mereka filia terhadap simbol. 

12) Ini yang membedakan AKP dengan CHP (Partainya warisan Ataturk), CHP membangun patung dan hal simbolik—tujuannya defensif ideologi. AKP bangun peradaban—citra Muslim yang heroik.

13) 20 tahun AKP & Erdoğan berkuasa, pernah mereka mengusik Ataturk? Gak pernah. Tapi legasinya dikeroposi pelan-pelan dari bawah. Kalau AKP ga begini, nasibnya sudah seperti Refah, Nahda di Tunisia, atau lebih parah seperti FJP di Mesir. Parpol Islam di Indonesia padahal udah sering “studi” AKP, masa ga belajar juga?

Mau jd “lebih Turki” ketimbang orang Turki sendiri? Merasa lebih kenal Ataturk ketimbang bangsanya?

Dah, segitu ajalah.

[THREAD]