Memperdebatkan "استوى على العرش"

Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Negara

Yang mendustakan bahwa Allah استوى على العرش, kafir, karena ia mendustakan Al-Qur'an Al-Karim, Kalamullah.

Namun yang memperdebatkan makna استوى (istiwa), tidak kafir, karena yang mereka perselisihkan bukan redaksi Al-Qur'an yang diturunkan Allah tabaraka wa ta'ala, tapi tafsirnya.

Dalam tafsir tersebut, tentu ada yang benar dan ada yang salah, karena dua hal yang bertentangan (تضاد), tidak mungkin dikatakan, dua-duanya benar. Namun alhamdulillah, perbedaan dalam bab ini tidak sampai membuat salah satu pihak, keluar dari lingkaran Islam dan tauhid. Dan dengan karunia dan rahmat dari Allah ta'ala, semua yang wafat dalam lingkaran Islam, akan berkumpul di surga-Nya.

Apakah salah memperdebatkan makna استوى على العرش? Tentu tidak salah. Saya tidak sependapat dengan orang yang menyatakan, memperdebatkan hal ini adalah sebuah kesalahan, karena berkonsekuensi menyalahkan semua ulama besar yang membahas dan memperdebatkannya sejak di masa silam.

Namun kita harus memahami zaman dan segala tantangannya. Di masa sekarang, ada tantangan yang jauh lebih besar, semisal sekularisme, pluralisme agama, liberalisme, atheisme, agnostisisme, dan lainnya. Umat Islam juga sedang terpuruk di mana-mana, menjadi kue yang diperebutkan oleh Barat dan Timur, terhina di banyak tempat.

Pada kondisi semacam ini, lebih elok, perdebatan klasik tersebut dilakukan secara terbatas, di forum khusus. Sedangkan di forum yang jauh lebih terbuka, ada hal-hal yang jauh lebih besar, yang perlu kita sampaikan pada umat.

Jangan sampai, banyak umat Islam yang menganggap musuhnya yang terbesar adalah kalangan asy'ariyyah, atau sebaliknya, musuhnya yang terbesar adalah kalangan wahhabi. Dan mereka tidak sadar, mereka sedang ditertawakan oleh asing dan aseng. Mereka tak sadar, generasi muda umat Islam, tak peduli soal istiwa dll, karena mereka sudah meragukan pentingnya agama dan adanya tuhan. Mereka mengarah menuju kehidupan agnostis dan atheis, sedangkan orangtua mereka sibuk berdebat soal istiwa di depan mereka.

(*)