Lha, Presiden makan jagung di pinggir jalan saja kok dikagumi?!

LAPARNYA PAK PRESIDEN...

By Azwar Siregar

Sebenarnya tidak ada yang salah kalau Pak Jokowi tiba-tiba merasa lapar dan kemudian lahap memakan jagung rebus di pinggir jalan.

Saya juga tidak akan berkomentar gaya makan beliau yang tidak "nyunnah" karena makan sambil berdiri. 

Saya cuma mau membahas dari sudut lain:
Gaya Komunikasi Pencitraan ala Pak Jokowi.

Saya kiranya seharusnya ini sangat menarik kalau dibukukan.

Baru sekali ini, sejak Indonesia Merdeka. Bahkan mungkin sejak Bumi Tercipta, ada Pemimpin yang dielu-elukan, dikagumi, dicintai, bukan karena Prestasi. Tapi karena gayanya yang dianggap sederhana!

Saya tidak tahu dimana yang salah. Mental atau justru pemahaman Politik rakyat kita yang masih sangat sederhana.

Keduanya sebenarnya berujung pada kenyataan yang sama.

Kalau mental, sepertinya ini ada kaitannya dengan sejarah. Saya perlu pencerahan lanjutan dari para pakar sejarah dan para pakar biologi.

Jangan-jangan mayoritas rakyat kita masih tetap merindukan dan hidup dibawah bayang-bayang romantika jaman Kesultanan dan jaman Kolonial Belanda. Merasa nyaman hidup dibawah sistem kerajaan atau kasta-kasta ala model penjajah.

Jadinya menjadikan Pemimpin layaknya Sultan atau Demang Belanda. Tidak pernah salah dan tidak bisa disalahkan. Mereka terlahir jadi Penguasa dan rakyat terlahir untuk diperkosa!

Para Pemimpin tidak pernah dituntut berprestasi. Mendapatkan lambaian tangan saja dianggap merupakan berkah dari Surga.

Ayo kita tanya seluruh rakyat Indonesia :
"PRESIDEN ITU SIAPA?"

Mayoritas menganggap dan akan memperlakukannya seperti Raja!

Makanya kalau seorang Presiden makan jagung di Pinggir Jalan atau melakukan hal-hal yang sederhana akan dikagumi dan akan dianggap luar biasa.

"Beliau Presiden lo, begitu sederhana ya. Masih mau makan jagung dipinggir jalan!"

Lo, emangnya kenapa. Biasa saja, bukan?
Anak kecil juga bisa melakukannya!

Kenapa ngga menyimpan kekaguman dan kita bertepuk tangan ketika Pak Jokowi misalnya sudah mampu menyediakan 10 juta lapangan kerja seperti janji kampanyenya?

Kenapa ngga menyimpan kekaguman dan kita akan bertepuk tangan dengan meriah ketika Pak Jokowi misalnya mampu menaikkan pendapatan perkapita rakyat kita setara dengan Singapura?

Lha, ini makan jagung di pinggir jalan dikagumi!

Masuk gorong-gorong dikagumi!

Pakai sandal jepit dikagumi!

Bergaya sederhana dikagumi!

Lempar-lempar hadiah dikagumi!

Coba dibaca bolak-balik dari atas kebawah dan dari bawah ke atas. Apa ada di Janji Kampanye Pak Jokowi?

BANGSA GELO!