Keyakinan GOETHE dan Kumandang ADZAN DI JERMAN

Pemerintah Kota Cologne, sebuah kota keempat terbesar di negara bagian Nordrhein-Westfalen, Jerman telah mengumumkan perizinan pengumandangan adzan melalui pengeras suara. 

“Perizinan untuk mengumandangkan adzan melalui pengeras suara akan dilakukan di bawah proyek percontohan selama dua tahun,” kata Walikota Cologne Henriette Reker. [Republika, 11/10].

Kabar baik itu berembus dari Jerman di tengah sentimen Islamphobia yang belum juga mereda di Eropa. Di Jerman sendiri ada peningkatan rasisme dan kebencian anti-Muslim dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dipicu oleh propaganda kelompok neo Nazi dan partai oposisi sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD).

Tercatat 48 orang terluka secara fisik dalam serangan pada 2020, meningkat dari tahun sebelumnya. Dua orang kehilangan nyawa dalam serangan Islamofobia di negara itu.

Sebuah penyelidikan menunjukkan bahwa setiap hari sepanjang 2019, masjid, lembaga Islam, atau perwakilan agama di Jerman menjadi sasaran serangan Islamofobia. 

Tak banyak yang tahu kalau Jerman adalah negara Uni Eropa dengan populasi Muslim terbanyak, yakni 4,7 juta jiwa. Meskipun secara prosentase kecil, yakni hanya 5,5%. Masih kalah dengan Siprus, sebanyak 25%, Bulgaria 13,7%, Belgia 5,9%.

Menariknya, populasi Muslim di Jerman terus meningkat dari tahun ke tahun. Setidaknya ada peningkatan sebanyak satu juta jiwa selama 5 tahun terakhir. Saat ini, sekurangnya 1,5 juta orang dari negara-negara Arab tinggal di Jerman.

Ada satu kisah menarik tentang pujangga Jerman yang paling masyhur, Johann Wolfgang von Goethe. Ia adalah penyair, novelis, ilmuwan, negarawan, sutradara teater, sastrawan terbesar Jerman di era modern.

Lebih dari 10.000 karya tulis dan hampir 3.000 gambar dihasilkan sepanjang hidupnya. Di banyak negara, namanya diabadikan menjadi pusat kebudayaan Jerman. Seperti yang ada di Jakarta.

Di antara sederet karya-karyanya itu, ia tidak menutupi kekagumannya pada Islam dan Rasulullah SAW. Karena karya-karyanya itu pula, banyak yang berasumsi, termasuk rekan-rekan dekatnya, bahwa Goethe telah memilih Islam.

Di antaranya seperti yang ditulis dalam syairnya yang berjudul “Mahomet Gesang”. Dalam salah satu baitnya ia tuliskan, “Juga kalian, mari/ Dan kini lebih ajaib dia membesar-meluas/Seluruh ras menyanjung pangeran ini.”

Syair-syair yang menyiratkan keyakinannya pada agama Tauhid ini ia tuangkan dalam buku kumpulan syairnya yang berjudul “West-ostliche Divan”. 

Buku ini diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan judul “Al-Diwan Al-Syarqiyyu li Al-Muallifi Al-Gharbiyyi”. Menariknya, syair pertama dalam buku ini berjudul “Hegire” yang berasal dari kata Hijrah. Menurut Katharina Mommsen, syair ini Goethe tulis pada 24 Desember 1814.

Kekagumannya terhadap Alqur’an, ia ungkapkan dengan kata-kata, “Apakah Alqur’an itu abadi?/Saya tidak meragukannya/Inilah buku dari buku-buku/Saya meyakini kitab suci Muslim itu.” 

Sedangkan keyakinannya tentang kebenaran ajaran Islam, ia ungkapkan, “Sungguh bodoh, dalam setiap hal/ orang memuji pendapatnya sendiri/Apabila Islam berarti berserah diri kepada Tuhan/dalam Islamlah kita hidup dan mati.”

Keyakinan itu tak ditutup-tutupi dari orang-orang terdekatnya, termasuk putra semata wayangnya. Ia tuliskan dalam sepucuk surat tertanggal 17 Januari 1814, “Beberapa agama telah mengecoh kita sampai kemudian datang Alqur’an ke perpustakaan kita.”

Seandainya Goethe masih hidup hari ini, saya yakin ia akan menuliskan syair yang indah tentang kumandang adzan di negerinya.

(By Uttiek)