Keras! Faisal Basri Kritik Proyek Kereta Cepat China JKT-BDG

[PORTAL-ISLAM.ID]  Jakarta - Ekonom Senior Faisal Basri mengkritik proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Menurutnya panjang rute yang dibuat di Indonesia tidak sesuai dengan rata-rata kereta cepat di dunia.

"Kereta cepat, rata-rata seluruh dunia rata-rata 500 km rutenya. Ini cuma 100 km, (mungkin) juga tidak sampai. Jadi tidak bisa kereta cepat itu berjalan terus berhenti. Rusaklah keretanya," katanya dalam webinar Kemenhub secara virtual 'Analisis Lingkungan Ekonomi dan Bisnis Terhadap Disrupsi di Sektor Transportasi', dikutip Sabtu (9/10/2021).

Kemudian, dia juga menyentil dengan mempertanyakan apakah proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung ini sebuah 'proyek kereta' atau 'proyek properti'.

"Ini proyek properti atau proyek kereta, karena di ujung Bandung itu Summarecon lewat Walini, ada Lippo Group juga," tambahnya.

Selain kereta cepat Jakarta-Bandung, Faisal juga mengkritik proyek Kereta Api Trans Sulawesi. Menurutnya, di Sulawesi lebih cocok dengan transportasi kapal Ro-Ro yang beroperasi 24 jam.

"Lagi satu KA Trans Sulawesi itu keblinger, karena yang bagus di Sulawesi itu namanya Ro-Ro yang jalan 24 jam karena Sulawesi cantik, jadi nggak cocok untuk kereta api," ungkapnya.

Selain kereta, Faisal juga mengkritik transportasi lain. Dia bercerita bagaimana kacaunya pelabuhan di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Karena menurutnya, letak pelabuhan itu dekat dengan Pelabuhan Belawan.

"Itu terlalu dekat dengan Belawan lantas dibikinlah design Belawan Domestik, Kuala Tanjung Internasional, tapi nggak laku. Nggak laku di-create lah (dibikinlah) proyek Kuala Tanjung itu ramai, namanya Sumatra Food Estate. Jadi untuk menutupi kesalahan desain di-create sesuatu yang tambah kacau," tuturnya.

Atas semua masalah yang disebutkan Faisal mengenai proyek transportasi, Faisal khawatir setelah Presiden Jokowi selesai menjabat banyak proyek yang mangkrak.

"Ini semua kalau kita biarkan kasihan Pak Jokowi. Jadi Pak Jokowi nanti selesai banyak proyek mangkrak. Dicaci maki dengan rezim penggantinya," tutupnya.[detik]