Elektabilitas Anies dan Ganjar Unggul, Pengamat Ungkap Ada Kemungkinan Keduanya Bersatu

[PORTAL-ISLAM.ID]  Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Survei Poltracking Indonesia, Hanta Yuda mengungkap prediksinya terkait kombinasi calon presiden dan calon wakil presiden pada Pemilu 2024 mendatang.

Dalam survei elektabilitas tokoh nasional terbaru, Poltracking Indonesia menyebut ada tiga panggung strategis soal calon presiden 2024.

Ketiganya yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Menurut Hanta, dalam mengombinasikan capres dan cawapres, perlu adanya kekuatan yang saling melengkapi.

"Ketika kita membuat kombinasi capres dan wakil, seandainya kita asumsikan mereka bersama juga saling melengkapi," kata Hanta, dikutip dari tayangan Youtube tvOne, Selasa (26/10/2021) malam.

Hanta pun memprediksikan, tak menutup kemungkinan, di antara tiga nama dengan elektabilitas tertinggi itu dapat bersatu.

Contohnya, Ganjar dan Anies yang saat ini beda kubu nantinya dapat bersatu, yang dianalogikan Hanta seperti saat Prabowo Subianto yang akhirnya merapat dalam jajaran Pemerintahan Presiden Jokowi.

"Tidak menutup kemungkinan, belajar dari pilpres kemarin, ini prediksi saya, tidak kecil kemungkinannya belajar dari Prabowo ternyata akhirnya bergabung juga dengan Jokowi."

"Di antara tiga yang kuat itu mungkin bersatu. Jadi tidak menutup kemungkinan ternyata Anies dan Ganjar bersatu."

"Entah Ganjar capres atau Anies capres, atau sebaliknya. Bisa juga Pak Prabowo bergabung ke salah satu di antara keduanya, ini menarik juga," ungkap Hanta.

Di sisi lain, Hanta membeberkan, capres dan cawapres pada Pemilu 2024 perlu memperhatikan segmentasi dari pemilihnya.

Menurut survei Poltracking, Hanta mengatakan ada sekira tiga preferensi pemilih.

Di antaranya seperti pemilih sosiologis yang memilih berdasarkan kesamaan isu sosial seperti agama, etnis, atau daerah.

Ada juga pemilih psikologis yang memilih berdasarkan karakter personal misalnya karena merakyat, tegas, atau cerdas.

Terakhir, pemilih rasional yang memilih berdasarkan kinerjanya, pengalamannya dan prestasinya.

"Di survei, kami membedah mungkin hampir merata kecenderungan preferensinya. Karena itu para calon presiden harus jeli, tidak bisa treatment kepada pemilih sama segmentasinya, bahasa politiknya, dan strategi komunikasinya," jelas Hanta.

"Saya kira penting untuk saling melengkapi basis sosiologis, psikologis maupun rasionalnya."

"Jadi sangat dinamis, jangan terburu-buru dalam menentukan peta politik," ujarnya.

(TvOne/Tribun)