Cerita Inspiratif Nanik S Deyang Bertemu Anies Baswedan di Rumahnya

Catatan Naniek S Deyang:

Jelang maghrib, Rabu (6/10/2021) kemarin saya dikirimi lokasi alamat oleh Sepri Pak Gub Anies Baswedan, Mas Noval. "Mbak dimana nih?" tanya Mas Noval. Saya bilang kalau saya masih di rumah di Cibubur, "Mbak sekarang meluncur ya di rumah kediaman Pak Gub, Mbak bisa cepat karena bisa dari tol ke tol," kata Mas Noval, dan saya pun langsung melompat ambil air wudhu maghriban dulu, kemudian menuju rumah Pak Anies.

Saya memang waktu masih recovery di Madiun pesan ke Mas Noval kalau saya susah sembuh dan ke Jakarta saya mau mampir ke Pak Gub, biasalah urusan memperjuangkan produk daerah biar ada jalan pintas bisa masuk Jakarta.

Karena driver saya gak bisa baca peta, saya pikir jadi masalah nih kalau diantar driver apalagi saat posisi Jakarta macet, maka saya minta  anak JMP yg pinter baca peta dan cari jalan tembusan utk ngantar saya ke rumah pribadi Pak Anies.

Saya pikir rumah Pak Anies di kawasan Lebak Bulus di jalan besar, lah ternyata masuk jalan sempit (cukup satu mobil), saking nggak percayanya saya bolak-balik nanya ke anak JMP yg ngantar saya. "Bud bener gak ini jalannya ke sini?," "Bener Bu ini di map ya memang jalan sini," jawab Budi, staf JMP.

Nah bener aja, pas  google map bilang kalau lokasi yg dituju sudah sampai, ternyata berhenti di depan rumah gelap, akhirnya Budi turun dari mobil dan tanya ke masyarakat dimana rumah Pak Gub? Dengan antusias kakek dan nenek yg ditanya Budi menunjukkan arah rumah Pak Anies yg berada sekitar 100 meter dari kami bertanya. Bahkan si Nenek sangat antusias akan mengantar.

Tidak ada yg istimewa dari rumah itu kecuali depannya ada pendopo. Demikian juga penjagaannya juga tidak ketat karena yg menjaga hanya 2 orang petugas keamanan yg tdk berseragam. Penerangan di halaman rumah itu juga tidak terang benderang. Gak nyangka rumah itu rumah seorang Gubernur DKI.

Setelah parkir saya diarahkan menuju ke Pendopo, dan di dalam sudah ada Mas Noval. "Bapak lagi OTW Mbak," kata Mas Noval. Tidak lama saya duduk menunggu, datang satu sahabat saya dimana saya selalu menyebutnya "Abang".

Tak lama setelah Abang datang, maka tiba-tiba muncul Pak Gub mengenakan baju seragam DKI dan melapisinya dg rompi. Tidak ada suara nguing-nguing voorijder. "Maaf mbak telat ..macet banget," kata Pak Anies sambil tersenyum.

Saya masih terkaget-kaget karena ada pejabat sekelas Gubernur di jalan kok gak pakai pengawalan utk pembuka jalan, dan makin terkejut rasanya seumur-umur saya baru ketemu  ada pejabat yg minta maaf pada rakyat biasa karena dia telat sebentar.

Kami lantas makan malam dengan menu mie Jawa, hanya saja Pak Anies tidak ikut makan dan hanya makan buah saja.

Pembicaraan pun ngalor-ngidul seputar covid, dimana Pak Anies bercerita saat dia terkena covid, sama sekali tidak bergejala. Bahkan saat penciumannya sudah hilang ketika dia memakai parfum, dia berpikir itu lantaran parfumnya yg sudah lama dibeli, baunya sudah menguap. Nah dia baru "ngeh" terkena covid, saat memakai minyak kayu putih dimana badannya sudah panas, tapi kok dia tidak bisa membau 😁.

Dengan santai dan tertawa-tawa Pak Anies mengatakan dia sudah terbiasa dibully dan gak pernah marah atau memasukkan di hati bullyan yg dilakukan nitizen. "Kalau dibully sih tiap hari, pokoknya tiada hari tanpa dibully," kata Gubenur yg akan berakhir masa tugasnya bulan Oktober 2022, dan karena tidak ada Pilkada maka Pak Anies pun akan "nganggur" sampai tahun 2024 .

Di tahun 2024 nanti selain Pemilu, Pilpres juga akan diselenggarakan Pilkada. Dan saat Pak Anies tidak menjabat Gubernur di tahun 2022 nanti, maka pucuk pimpinan DKI akan diisi oleh PJS yg diusulakn Mendagri dan disetujui Presiden.

Lalu kemana Pak Anies setelah pensiun? Dia mengatakan akan kembali ke aktivitas Indonesia Mengajar, dengan melihat pelaksanaan program-program Indonesia mengajar di berbagai daerah  yg selama ini memang tdk pernah di tengok.

*Indonesia Mengajar merupakan sebuah lembaga nirlaba yang didirikan Anies Baswedan merekrut, melatih, dan mengirim generasi muda terbaik bangsa ke berbagai pelosok daerah di Indonesia untuk mengabdi sebagai Pengajar Muda di Sekolah Dasar dan masyarakat selama satu tahun.*

Kembali ke laptop ya..., soal misi kedatangan saya ke Pak Gub, saya memohon kepada Pak Gub agar diberikan akses bukan hanya komoditas pertanian dan peternakan, tetapi produk2 makanan/kuliner, makanan ringan, souvenir dll dari daerah diberi tempat ruang pamer dan ruang berjualan di Jakarta, selain pasar tradisional.

Selama ini beberapa komoditas sudah mulai masuk Jakarta lewat gebrakan Pak Anies, seperti telor dari Blitar dan beras dari Jawa Timur, termasuk dari  Kabupaten Madiun dan Ngawi.

Hampir dua jam kami ngobrol dari masalah covid sampai potensi daerah serta masalah pemulihan ekonomi. 

Stamina Pak Anies terlihat sangat prima, meski seharian berkutat dng kesibukannya, sedikit pun saya gak lihat wajah lelah dari Pak Anies, padahal kata Mas Noval, setelah menerima saya, masih ada satu tamu lagi.

Sebelum saya pamit Pak Gub memberi hadiah kami dua kotak madu murni, sambil mengatakan, "kalau habis bilang ya," pesan Pak Gub ke kami.

Saya pamit sekitar pukul 21.00 WIB, dan seperti biasa Gubernur paling ngetop se Indonesia ini bersama Mas Noval mengantar saya, bahkan sampai saya naik mobil dan mobil berlalu baru beliau masuk ke kediaman.

Saya di jalan terbengong-bengong, sudah berapa ratus pejabat bahkan mungkin ribu pejabat sejak jadi wartawan sampai jadi pengusaha yang saya temuin, tapi saya belum pernah ketemu pejabat yang gaya egaliternya tidak dibuat-buat seperti Pak Anies ini. Tapi saya melihat Pak  Anies ini benar-benar apa adanya. Dan diajak diskusi apapun nyambung. Pengetahuannya juga tidak bertepi.

Beliau juga bukan orang yang gila hormat atau protokoler. Tau gak teman-teman saya datang  ke rumah beliau hanya pakai sandal karena saking buru2nya lupa pakai sepatu. Kemudian si Abang datang malah pakai sarung gegara dari lapangan golf dia hanya pakai celana golf dan utk menutupi celana golfnya dia pakai sarung yg suka ada di mobilnya utk sholat.

Saya berdoa semoga suatu saat Indonesia punya pemimpin yg mudah diakses oleh siapa saja (rakyat), dan bergaya apa adanya, serta punya konsistensi dalam ucapan dan perbuatan. 

Saat datang pertama dulu saya membawa misi pasar, dan ternyata Pak Anies terus bergerak utk membuat pasar-pasar di DKI  menjadi tempat berusaha yg nyaman, sehingga orang senang berbelanja ke pasar tradisional.

(Fb Naniek S Deyang)