Tersinggung di Grup WA, Wakil Bupati Polisikan Bupati, Sungguh-sungguh Terjadi di Bojonegoro

[PORTAL-ISLAM.ID] Wakil Bupati Bojonegoro Budi Imawanto atau yang akrab disapa Wawan melaporkan Bupati Anna Mu'awanah ke Polres Bojonegoro terkait dugaan pencemaran nama baik. Budi merasa tersinggung dengan pernyataan Anna di grup WhatsApp (WA).

"Iya benar [melaporkan Bupati Bojonegoro Anna ke polres]," kata Wawan saat dikonfirmasi, Kamis (23/9/2021), dilansir CNNIndonesia.

Wawan mengatakan laporan tersebut dilayangkan beberapa hari lalu. Ia mengaku sudah diminta keterangan oleh penyelidik Satuan Reserse Kriminal Polres Bojonegoro.

Politikus PDIP itu menyebut membuat laporan ke polisi lantaran Anna telah melontarkan pesan yang dianggap telah mencemarkan nama baik dirinya di grup WA.

Di grup WA itu, kata Wawan, berisi 200 anggota. Selain dirinya dan Anna, ada Kapolres, Kepala Kejari Bojonegoro, Komandan Kodim dan sejumlah pejabat pemkab lainnya.

"Ada para jurnalis dan Forkopimda, ada juga Kapolres, Kajari Bojonegoro," ujarnya.

Dibahas Dahlan Iskan

Dahlan Iskan di tulisan terbarunya hari ini, Sabtu (25/9/2021), juga menyoroti soal sengketa antara Wakil Bupati dan Bupatinya ini.

Dahlan Iskan menyertakan barang bukti pelaporan yang berupa screenshot pembicaraan di grup WA. 

Ini barbuknya:
Dahlan Iskan menuturkan kronologinya lebih detil....

Saat ikut Pilkada lalu, Wawan masih berstatus ketua DPC PDIP Bojonegoro. Partai memasangkannya dengan calon dari PKB, Anna Mu'awanah. Pasangan ini mendapat suara sedikit di atas 30 persen. Itu sudah yang terbanyak di antara 4 pasangan. Peraturan saat itu sudah baru: siapa pun peraih suara terbanyak otomatis terpilih. Tidak harus dua putaran.

Setelah dilantik Wawan merasa tidak mendapat tugas yang layak dari bupati. Juga tidak diikutkan dalam pembicaraan-pembicaraan penting. Misalnya soal mutasi pejabat di kantor bupati.

Istri Wawan seorang dokter. Ketika Wawan mengadu ke kantor polisi, sang istri sudah 100 hari meninggal dunia.

Istri Wawan terkena sakit kanker usus. Pengobatannya sudah maksimal. Tapi RS di Malang tidak berhasil menyelamatkannya. Padahal dia sudah berada di tangan dokter paling ahli di Malang –yang tak lain adalah paman sang istri sendiri.

Rupanya Bupati Anna memanfaatkan kematian istri wakilnya itu. Anna berharap Wawan bisa sadar setelah sang istri meninggal. Hidup kan ternyata tidak lama. Begitu tulis Bupati Anna di sebuah grup WA –yang jadi barang bukti pengaduan Wawan.

Di Bojonegoro memang ada grup WA yang luar biasa. Namanya: Grup Jurnalis.

Anggota grup itu sekitar 200 orang. Nama bupati, wakil bupati, Kapolres, Dandim, anggota DPRD, wartawan, tokoh masyarakat ada di dalam grup itu.

Di situlah saling bantah sering terjadi. Justru antara bupati dan wakil bupati. Ditonton 200 orang anggota grup. Ada pula yang menyebarkannya ke luar. Orang desa pun tahu: bupati lagi bertengkar dengan wakilnya.

Saya menghubungi petani porang di pelosok desa paling selatan kabupaten itu. Ternyata ia juga tahu pertengkaran itu. "Semua orang desa sini juga tahu," katanya.

Saya juga menghubungi seorang wartawan Bojonegoro yang menjadi anggota grup WA itu. Namanya Sasmito Anggoro. Kini ia pemilik Media SuaraBojonegoro.com. Pernah jadi Ketua PWI setempat dan reporter JTV.

"Siapa pemrakarsa grup WA itu?"

"Mas Dani. Dulu wartawan JTV".

"Apakah di zaman bupati lama grup itu sudah ada?"

"Sudah ada. Grup itu berdiri tanggal 24 Juni 2016."

"Berarti Anda mengikuti pertengkaran bupati dan wakil itu di grup?"

“Iya. Bahkan saya sempat marah. Saya bilang tidak pantas. Harus malu pada rakyat. Saya juga punya rakyat, " tulis Sasmito.

Sasmito adalah pendekar pencak silat aliran SH Winongo. Ia merasa punya rakyat juga, anggota alirannya. Ia berani marah karena merasa jiwa pencak silatnya muncul.

"Setelah itu mereka baru berhenti bertengkar di grup," ujar Sasmito.

Wabup Wawan tahu di tempat lain juga banyak bupati yang tidak rukun dengan wakilnya. Tapi, katanya, yang dia alami ini keterlaluan. "Foto saya pun tidak boleh ada di brosur atau sejenisnya," ujar Wawan.

Dari mana Anda tahu foto Anda dilarang? "Bagian yang mencetak brosur menghadap saya. Mereka minta maaf," kata Wawan. "Desain brosur dibuat ada foto bupati dan wakil, tapi sebelum dicetak, foto wakil bupati diminta dicopot," ujar Wawan mengutip laporan pegawai bagian brosur itu.

Bupati kabarnya memang sangat jengkel. Termasuk, ketika Wawan terus mencari kelemahan bupati. Misalnya, kebenaran bansos untuk orang miskin sampai dicek sendiri oleh Wawan. Sampai menimbangnya sendiri.

Bojonegoro kini memang sudah kaya. Sudah pantas jadi rebutan. Atas nama memperjuangkan nasib orang miskin di sana. 

Bojonegoro kini memang salah satu kabupaten dengan APBD terbesar di Indonesia: Rp 7,5 triliun. Sisa anggaran tahun lalu saja lebih besar dari APBD banyak kabupaten miskin: Rp 1,2 triliun.

Itu karena sumur minyak blok Cepu ada di Bojonegoro. Kabupaten ini mendapat uang dari dua jurusan sekaligus: bagi hasil minyak dan dari saham wajib di perusahaan minyak itu. 

***

Demikian penggalan tulisan Dahlan Iskan. Selengkapnya ~> https://www.disway.id/r/2312/tanpa-madu