Pecundang Menyerang DKI 1

[PORTAL-ISLAM.ID]  BAKAL harumnya nama Indonesia di ajang Formula E dalam waktu tak terlalu lama lagi setelah tertunda akibat pandemi ternyata membuat beberapa badut politik menjadi edan alias sinting tak karuan.

Mereka panas hati terhadap program Pemprov DKI Jakarta yang dikomandani Gubernur DKI Anies Baswedan yang didukung pula oleh Presiden Joko Widodo alias Jokowi.


Alih-alih kapok dengan fakta kedunguan tentang profesionalisme Formula E yang tidak hanya berlangsung di ibukota Indonesia tetapi juga di belasan negara lain yang peduli dengan masa depan udara bersih, khususnya di kota-kota besar di dunia.

Norak dan terlalu banyak mengulas Formula E hanya dari nilai commitment fee yang telah diperiksa BPK dengan hasil tidak menimbulkan kerugian apapun dari sisi keuangan. Pikiran kotor tentang kecipratan 'duit nulis' seketika melayang bikin mual perutnya.

Menempatkan Formula E sebagai game of money only dari kapitalis kepada Pemprov DKI cermin cara analisa orang yang minum wine pakai gelas plastik. Semahal apapun wine itu, yang dicium hanya bau Polyethylene.

Begitulah orang yang tidak paham Formula E, tapi tahunya itu cuma balapan pakai baterai kayak Tamiya. Maka pakailah gelas kaca buat tahu aroma winenya.

Formula E bukan balap buang duit tapi balapan mobil baterai kelas canggih internasional yang justru akan memberi kesempatan keuntungan multiple effect ke berbagai segmen ekonomi dari level UMKM multi produk, pariwisata, kuliner, hotel, pendidikan, hingga para pelaku industri otomotif juga pasti menunggu-nunggu ajang ini.

Mungkin saja kelak lahir Esemka versi batere. Who's know?

Itulah suatu cara memberi rakyat alat untuk mendapat kemajuan bersama negara dan bukan hanya dengan bagi-bagi dana sumbangan yang spekulatif termasuk pinjemin duit berbunga. Pemprov DKI itu bukan bank.

Gagal mendapat proyek setelah ekspose makan dan foto bareng Gubernur Anies di Balaikota menunjukan karakter pendendam dari jiwa pengkhianat yang tumbuh lewat panduan buku saku leader of comunism. The enemy of Pancasila.

Tidak mengherankan memang penulis yang bermental 'slum' itu selalu memutar balik fakta menjadi delusi.

Presiden FIA Jean Todt tidak berperut buncit jus bahwa Pasal 17 dan 18 Peraturan Pemerintah tidak menyoal kebijakan terpisah antara former dan pelaksana tugas. Itulah dunguer yang kurang 'google search'. Wawasan dangkal.

Futuristik udara bersih bebas polutan logam berat tidak dibangun dalam semalam, so Formula E pertama dimulai di Beijing, September 2014. Tiga tahun setelah digagas Jean Todt dan sejak 2020 berstatus Kejuaraan Dunia. Catat! Dunia boo!

Maka pikiran cetek hanya bikin cipratan kotor tapi tak bisa analisis mana masa depan mana otak jadul. Tujuannya tak lain ikut partisipan anti-Anies for Indonesia one. Makan steak sambil bisik-bisik Anies kadrun yang perlu dilibas, fitnah atau hasut negatif hanya dianggap alat 'killing the character', masa bodoh dengan kenyataan benar apapun.

Memandang Pemprov DKI dan Gubernur Anies mengemis kepada Formula E Holdings untuk ajang balap ini adalah penghinaan. Selain kepada warga Jakarta juga pemerintahan pusat, seakan Indonesia miskin budget dan miskin fasilitas berstandar internasional.

Maka jangan mengemis pakai Facebook karena memandang duit adalah segalanya, dan karena itu pula tak layak seorang pecundang menyerang DKI 1 yang konsep formula pembangunannya demikian  brilian sejauh ini.

*(Pemerhati sosial dan politik)